murniramli

Setelah disertasi selesai

In Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, Renungan on Juli 11, 2010 at 5:09 am

Tanggal 30 Juni 2010, sidang terakhir disertasi, dan selanjutnya saya diberi waktu kurang lebih seminggu untuk memperbaiki sesuai saran dewan komisi, dan mencetak disertasi menjadi bentuk hard cover untuk kemudian diserahkan kepada fakultas dan tanggal 14 Juli nasib saya akan diputuskan di dalam persidangan dewan dosen Graduate School

Sepulang haji Desember tahun lalu, dan buru-buru menyerahkan draft disertasi pertama tgl 12 Desember sebelum maju sidang, saya kemudian memasuki proses melelahkan persidangan berkali-kali, dan perbaikan isi disertasi hingga Jumat lalu.

Setiap orang enggan untuk membaca kembali disertasinya, termasuk saya. Tetapi professor saya menugaskan beberapa hal terkait dengan disertasi dan memaksa saya membaca ulang kembali bab per bab, membuat ringkasan isi hingga hari ini. Jadi, sekalipun sangat bosan membaca 278 halaman disertasi, saya kembali membaca dan mencermati apa yang sudah saya tulis.

Saya sangat beruntung dibimbing dan diarahkan oleh 4 orang dosen di dewan komisi, sebab merekalah yang menginspirasi saya dalam memperkaya dan melengkapi tulisan. Setiap pekan saya harus menghadiri sidang per bab  dan sepekan kemudian saya mesti membawa perbaikan bab tersebut. Saya sangat senang mendengar jika keempat dosen memberi komentar, “wah, anda telah menambahkan sesuatu yang penting dalam bab ini”, atau “wah, kemampuan menulis anda menjadi sangat baik”. Setelah persidangan kadang-kadang ada dosen yang menanyakan bagaimana saya bisa memperkaya materi dan menyerahkan perbaikan dengan sangat cepat?

Saya selalu bergurau bahwa saya tidak tidur, atau saya terkena insomnia 🙂 Tetapi pada dasarnya saya barangkali termasuk orang yang sangat maniak bekerja dan berusaha. Jika dosen A mengatakan ini kurang, dan perlu tambahan, maka ibaratnya seperti koki yang diminta menyajikan makanan yang lebih enak, saya pun berusaha menyajikan bab yang lebih enak dan mudah dipahami.

Bagian penutup dari disertasi adalah bagian yang terpenting dan paling menarik dibaca, sebab di situlah penulis menyampaikan orijinalitas berpikirnya, dan bagaimana dia menarik benang merah yang cantik untuk melukiskan kembali apa-apa yang sudah dikajinya dari bab 1 hingga bab akhir. Saya merasa bab ini adalah bagian yang paling sulit dari semua bagian.

Tidak sama ketika saya menulis thesis master yang agak mudah menarik kesimpulan karena penelitian saya adalah penelitian quantitatif, penelitian kali ini yang berskup social science dan sangat kualitatif membuat saya kedodoran menulis kesimpulan. Keempat dosen penguji sangat mengetahui bahwa saya sangat sering mengeluarkan ide sendiri dan pemikiran yang kadang-kadang sulit ditelusuri. Mereka menuntunkan agar ide-ide tersebut tidak asal keluar, tetapi disusun dengan pernyataan data yang runut, dan cara berfikir yang akademik.

Setelah dibantai habis di sidang terakhir saya mengalami stress berat dalam menulis ulang bagian penutup hanya dalam waktu 2-3 hari. Tetapi jika orang berusaha, dan mencoba berfikir jernih, insya Allah dia pasti bisa. Saya percaya dengan hal ini. Dan akhirnya selesailah dalam waktu 3 hari.

Hari Jumat kemarin, dengan mata redup dan wajah kuyu saya membawa draft sebelum cetak  kepada prof pembimbing, sambil menanyakan adakah bagian yang ingin beliau koreksi sebelum saya pergi ke percetakan. Ternyata beliau masih ingin mengoreksi bagian pendahuluan yang membuat saya sakit perut berkepanjangan, sebab draft harus diserahkan sebelum jam 3 hari itu juga. Waktu perbaikan nyaris tidak ada. Saya dengarkan baik-baik komentarnya sambil tak lupa membawa alat rekam (saya selalu bawa setiap berkonsultasi dg sensei, karena daya tangkap bahasa Jepang saya masih kurang). Lalu, minta waktu 5-15 menit untuk memperbaikinya kemudian setelah beres kembali membawanya kepada beliau. Beliau periksa dan perbaiki kosa kata bahasa Jepang, dan kemudian semuanya beres.

Saya secara tak sengaja menghembuskan nafas panjang ketika semua beres. Dan prof saya dengan bijak mengatakan, “setelah ini diserahkan ke percetakan, anda harus pulang dan tidur”. Untuk sementara disertasi ini boleh dicetak, setelah itu ke depannya kita perlu memperbaikinya untuk mencetaknya menjadi buku. Wah, saya tertawa, “itu impossible, Prof, karena bahasa Jepangnya kacau”. Tetapi prof mengatakan kerja keras selama 5 tahun seperti ini patut dibukukan, agar orang lain dapat mengetahui dan menggunakannya sebagai referensi. Penelitian ini adalah basic untuk melakukan penelitian selanjutnya. Anda harus bangga dan punya percaya diri bahwa ini adalah karya besar yang telah anda buat.

Saya sampai tidak menyadari bahwa disertasi yang saya tulis adalah dalam bahasa Jepang. Bahasa yang asing sekali bagi saya lima tahun yang lalu. Jika berpikir dari sisi ini, saya ingin sekali berteriak, “SAYA BISA dan SAYA BERHASIL!”

Kembali saya terkenang masa-masa ketika datang ke Nagoya, di saat saya tidak bisa membaca kanji, dan menuliskannya. Manusia selalunya mengalami proses dari tidak bisa menjadi bisa, tetapi dia selalunya tidak menyadari proses yang telah ditempuhnya hingga bisa, atau lebih tepatnya kurang mensyukuri keberhasilan itu. Dan Sensei-sensei saya termasuk orang yang mengamati perkembangan yang saya raih dari waktu ke waktu. Mereka yang mengingatkan saya tentang hal ini, tentang kepatutan bersyukur.

Iklan
  1. makasih banyak infonya…salam hangat…

  2. Selamat Bu Murni…!!!!

  3. Selamat Bu Murni! Mudah-mudahan ilmu yang dipelajari selama ini menjadi ilmu yang bermanfaat. Jangan lupa istirahat sejenak untuk mencharge ulang energi seperti saran sensei ya 🙂

    Ada rencana juga kah untuk membuat edisi Bahasa Indonesia-nya? * kalau saya mengikuti cerita-cerita selama ini di blog, tema penelitiannya adalah sistem pendidikan di Indonesia pada periode sekitar PD2 bukan ya? *

  4. Selamat buat mbak Murni!
    Apa rahasianya agar bekerja dan kuliah keduanya dapat berjalan lancar? Bagaimana Anda bisa begitu termotivasi?
    Rasa lelah selalu menjadi alasan saya menunda untuk menulis.

  5. @Bapak dan Ibu : Terima kasih.
    @Pak Zalfany : Ya, ada rencana menulisnya dalam bahasa Indonesia.Tema penelitiannya sejarah pendidikan menengah di Indonesia, Pak. Tp karena major saya bukan sejarah, melainkan educational management, jadi kajiannya banyak ke arah konsep pendidikan menengah
    @Mbak Avi : Rahasianya ndak ada, kerjakan sebisanya saja.
    Saya selalu berfikir disertasi itu adalah “penyakit” yang harus segera disembuhkan. Karena ndak mau teruus disiksa oleh penyakit ini, jadi mendingan segera dituntaskan:-)

  6. Mba Murniiii.. selamat yaaa—
    *kemarin rasanya ga puas, baru ketemu “sedetik” trus keluar gsid rada buru2 jemput anak2 karena ada janji sama orang tua murid.*
    Terharu banget bacanya –! Otsukaresamaa–!
    *ditunggu versi Bahasa Indonesia-nya!
    mohon doa nya ya Mba *untuk yang masih bergelut* hehe..
    moga ada rejeki bisa segera bertemu lagi!

  7. barakallah ya Mba…
    semoga semangatnya menular pada kami
    terutama aku yang baru memulai babak perjuangan ini..
    maaf, kmrn pas ketemu aku sempet mikir kok mba Murni beda ya..jd aku sungkan mo ngbrol banyak he2..ternyata capek berat setelah marathon..emang sih kliatan dr wajah mba yang 5L (lemah,lesu,loyo d l l..)~_^

  8. mba murni, yg ini aku dpt updatenya dr milis ppi ngo.
    biasanya tiap ga sengaja ketemu mba murni di eki, mba murni dengan mata sendu tapi dengan kata2 penuh semnangat, langusng ‘rela’ ngobrol dengan proses bolak-balik yang ‘seru’ itu. saya coba liat dari perpektif ‘miring dikit’, hihihi, proses inagurasi status seorang doktor yang butuh waktu sampai 5 tahun, pastinya jauh lebih matang dan komperhensif dibandingkan dengan yang lebih singkat. bukan cuma titik keberhasilannya yang membuatnya berbeda, tapi proses jatuh-bangun-naik-turunnya ini pasti memberikan efek yang berbeda. sentuhan selama durasi 5 tahun ini, tidak mungkin tidak membuat disertasi mbak murni begitu spesial. semoga keberhasilan hitam di atas putih ini, juga kelak diikuti keberhasilan dalam pengejawantahannya di masyarakat negeri tercinta.

    *ikut seneng, seseneng-senengnya ^^

  9. mba Murni, selamat ya udah berhasil melalui proses panjang & berliku. hebat! jadi kangen ngobrol sama mb murni, bahas suka duka jd gakusei, hehehe…. mudah2an kita cepat ketemu lagi ya mba…

  10. selamat ya, mbak murni! selamat ulang tahun juga, betul-betul hadiah ulang tahun yang sangat berkesan ya 🙂
    semoga ilmu yang mbak murni peroleh selama di jepang (baik di kampus maupun pengalaman sehari-hari) bisa membawa manfaat sekembalinya ke tanah air 😉

  11. @ Teman2 : Rahma, Ndari, Ryka, Mba Devi, Mba Novi : Terima kasih banyak atas doa dan bantuannya. Saya bahagia sekali punya teman2 yang baik dan lucu2 hehehe….kore kara mo utagaini gambarimasyou

  12. wah motivasi yang sangat luar biasa,Mba murni semangatnya luar biasa,mudah2an ilmunya bisa di pake bangun negri tercinta,…andaikan bisa ketemu alangkah senengnya,saya yang baru sehari aja di tokyo merasakan gimana sulitnya beradaptasi di negri orang….kapan balik ke ind,sekarang kami juga di tokyo lagi persiapan pelatiahan FETP introductory from JICA sampe 12 agustus..good luck mba…ingat istirahat yang cukup biar kembali semangat u/berkarya….

  13. Selamat ya bu, atas disertasinya ….

  14. akhirnya tunai juga cita-citanya, nafas toelisan Mbak masih tetep saja terjaga+menggugah+memberi peluang u/mencoba, tanpa menggurui
    menyusun karya Disertasi amat berat menurut orang lain juga Anda, apalagi dengan kesungguhan niat berkarya,letih itu pasti, jengah+ kesal tidak kah pernah menghampiri? sungguh mbak murni menyikapi nya dengan sikap + tutur + pikir santun + membangkitkan semangat, pembimbing, rupanya tlah menyatu di jiwa Anda, beban tugas jadi ibadah, hati gelisah menjadi terasah, berbahagialah mereka yang ada dan pernah diasuh dalam bimbingan Anda. slamat tunaikan karya sebagai bagian dari menaikkan kualitas ibadah mencari Ridhlo-NYA.

    pernak+pernik serba serbi aneka jepang beserta spirit menyertai, boleh dibuku dan sebar luaskan, mbak? kapan mampir Surabaya?

    oh iya mbak, boleh pesen omiyage, ada alamat penerbit jepang menuliskan karyanya dalam aksara+bahasa inggris, syukur-syukur berbahasa indonesia {Anda yang menyalinnya tentu saja}. knapa?
    karena karya tulis mereka jauuh lebih mudah dimengerti+kupas tuntas mulai dari latar belakang dan prospek ke depannya, ada semacam nilai kedalaman ibadah+menyampaikan karyanya dengan kesungguhan [daram bidang apa saja, terrebih teknik] atau ada kesamaan rumpun asia, lebih sederhana, mudah dikerjakan, apa kedekatan barang[hard]+pemikiran[soft]; berbeda dengan dominasi buku/literatur asal jazirah utara & barat, butuh mencerna lebih lama dan rumit dipahami apalagi dilakukan. apa karena lain zona tempat asal, kali ya?

    selamat menularkan karya disertasinya di bumi nusantara ini dalam
    bahasa+gaya+spirit Mbak Murni style u/ generasi para pembelajar mencintai Republik Indonesia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: