murniramli

Ketika Umur Bertambah

In Pendidikan Tinggi, Renungan, Serba-Serbi Jepang on Juli 15, 2010 at 4:40 am

Apakah manusia menyadari saat umurnya bertambah ? Barangkali ada yang sangat sadar, tetapi ada pula yang sama sekali tidak. Saya, entahlah termasuk yang mana. Kadang-kadang saya lupa tanggal kelahiran, dan baru ingat jika ada teman yang tiba-tiba mengirimkan sms pagi-pagi. Tetapi pada saat-saat tertentu saya sangat ingat hari kelahiran saya. Sebagaimana kemarin.

Sebagaimana tradisi meluluskan dan menyematkan gelar doktor di fakultas saya, keputusan tersebut diambil dalam rapat dewan dosen yang diadakan setiap bulan. Dan Allah sudah mengaturnya bahwa rapat dosen bulan ini jatuh kemarin, 14 Juli. Tanggal 13 sore saya meluap-luap gembira membawa disertasi dalam bentuk hard cover ke kantor fakultas. Petugasnya yang menerimanya tersenyum gembira, mengucapkan selamat, akhirnya selesai juga,katanya. Empat disertasi lainnya saya berikan kepada masing-masing dosen komisi pembimbing. Semuanya mengucapkan selamat, dan saya dalam hati kecil sangat khawatir dengan rapat dosen besoknya. Kekhawatiran itu tampaknya terbaca oleh sensei, yang segera mengatakan, “umaku ittara, daijoubu to omoimasu” (kalau saya bisa melakukannya dengan baik , saya pikir ndak ada masalah). Ya, nasib saya sangat tergantung kepada sensei yang dalam rapat nanti akan membacakan ringkasan penelitian yang saya kerjakan.

Mungkin berbeda dengan fakultas yang lain, bahwa tradisi di fakultas kami, kelulusan dan disetujuinya seseorang mendapat gelar harus dinyatakan melalui voting tertutup dan semua peserta rapat dosen harus 100% setuju.  Pada rapat dosen dua bulan sebelumnya, ada salah seorang asisten dosen dari lab kami yang ditolak oleh dewan dosen pengajuan disertasinya. Makanya saya sangat khawatir, dan saya tahu sensei saya juga sangat khawatir meskipun dia mengatakan kalimat seperti di atas.

Rapat dosen kemarin dimulai pukul 13.00 dan berakhir pukul 16.00. Saya bolak-balik melewati ruang rapat dan sakit perut tegang menunggu hasilnya. Sekitar pukul 15.30 ada pertemuan dengan teman-teman PPI membahas persiapan TI 2010. Bertemu dengan teman-teman lumayan mengurangi perasaan gugup menunggu pengumuman. Pukul 16.05 HP berdering, sensei saya menelepon. Suaranya tidak begitu jelas, tetapi saya sempat menangkap nama saya dipanggil dan kata, “goukaku simashita”, omedetou” (anda lulus, selamat). Setelah itu hening, dan saya mengucapkan terima kasih, kemudian sensei mengatakan sebentar lagi akan balik ke lab, dan saya ditunggu di sana.

Saya mengucapkan tahmid dan syukur tak terkira.Alhamdulillah…

Ketika bertemu sensei di ruangannya, saya tak mengira beliau menangis. Tadi sewaktu menelpon saya sudah mendengar suaranya yang parau. Ternyata sensei katanya sudah menangis sejak pengumuman dibacakan di dalam rapat. Berkali-kali beliau mengucapkan selamat, dan saya juga tidak bisa menahan tangis, “kurou simashitane” (berat ya penderitaan yang sudah dilewati), katanya. Saya hanya mengangguk dan tiba-tiba teringat kepada Bapak almarhum. Ya, saya berhutang budi kepada Bapak yang sudah menyemangati kami selalu dengan cerita-cerita penderitaan masa kecil dan semangatnya bersekolah. Beliau yang telah hidup prihatin dan selalu menyisihkan sebagian besar gajinya supaya kami keenam anaknya dapat mengenyam pendidikan tinggi yang tidak dapat dilaluinya.Saya tiba-tiba terkenang Mamak yang selalu saja berkata, mamak tidak pernah berhenti berdoa, Nak. Saya teringat pada kakak dan adik-2 yang telah rela menggantikan saya menjaga Bapak dan Mamak, dan memberi kesempatan kepada saya untuk menuntut ilmu tinggi-tinggi. Saya tidak akan seperti ini kecuali dengan bantuan dan keikhlasan mereka.

Dari 37 dosen yang menghadiri rapat dewan kemarin, semuanya setuju. Dan dicatatlah nama saya sebagai salah seorang lulusan pertama program Doctor of Education. Saya tahu sensei saya menangis karena beliau juga merasa lega akibat beban berat yang beliau tanggung selama ini. Dari beberapa mahasiswa doktor yang ada di lab kami, sebagian besar berhenti, atau menunda sekolah karena masalah pribadi. Saya katanya doktor kedua yang dibimbing sensei sejak beliau memulai karirnya sebagai professor, dan mahasiswa asing pertama yang nekat mengambil program doktor di lab kami. Sekalipun melewati kesedihan dan kekalutan di  bawah bimbingan beliau, saya tetap membungkuk dalam-dalam sebab kalau bukan karena bimbingannya yang kritis dan tidak pandang bulu, barangkali saya tidak bisa berkembang sepesat ini.

Saya bersyukur telah merasai pendidikan orang Jepang, dibimbing oleh sensei-sensei yang masih memegang kuat tradisi pendidikan tinggi Jepang. Sekalipun saya berkali-kali protes, dan minta keringanan karena saya mahasiswa asing, mereka, sensei-sensei tidak bergemning, dan saya yakin mereka sangat menginginkan yang terbaik untuk saya, supaya tidak sia-sia keringat, kelelahan, kerja dan dana yang sudah saya habiskan selama 4.5 tahun.

Kemarin bertambah umur saya. Kian mendekati ajal yang telah tertulis di lauhil mahfuz. Entahlah bagaimana catatan amal yang telah dituliskan selama 39 tahun oleh Raqib dan Atid, tapi inginnya agar kelak buku catatan itu diberikan dengan baik dan diterimakan dengan tangan kanan yang baik pula. Amin.

  1. Selamat ulang tahun mb Murni…semoga panjang umur dan sehat selalu…

  2. @Mba Devi : Terima kasih banyak Mba. Amin.
    Kemarin ngintip foto2 uplotan Pak Utank di rumah Pak Irwan. Mba Devi tambah besar kandungannya, semoga sehat selalu juga. Salam u Teh Hani kalo ketemu lagi.

  3. selamat ulang tahun, Mba. semoga usianya berkah. selamat juga atas kelulusannya. semoga keberkahan menyertai langkah selanjutnya.

  4. Selamat ya Mbak Murni….Tulisan mba menginspirasi saya untuk segera menyelesaikan tugas di sini. Selamat Ulang Tahun juga, semoga cinta Allah senantiasa menaungi mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: