murniramli

Anak menjadi baik karena orang dewasa juga baik

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Renungan, Taman Kanak-Kanak on Juli 21, 2010 at 4:55 am

Ramai pembicaraan di koran-koran tentang pendidikan karakter. Bahkan Mendiknas secara khusus pada peringatan Hardiknas lalu, mencanangkan tema pendidikan karakter sebagai sifat atau arah pendidikan di Indonesia. Dari beberapa berita yang dirilis di media, Mendiknas menegaskan bahwa pendidikan karakter akan diperbesar porsinya di SD. Dan yang agak membingungkan adalah bahwa pendidikan karakter tidak diberikan di TK karena TK bukan sekolah yang mengutamakan kegiatan belajar, tetapi adalah tempat bermain.

Saya meraba-raba seperti apa gerangan pendidikan karakter yang dikonsepkan pemerintah. Apakah berupa mata pelajaran khusus yang diberikan dengan jam tertentu ? atau selipan materi karakter yang dimasukkan dalam mapel lain? Semuanya masih tidak jelas.Lalu pun tak jelas, karakter bagaimana yang diimpikan ? Apakah karakter yang anti korupsi saja ? ataukah karakter yang kuat pendirian saja ? Ini sulit didefinisikan sebagaimana sulitnya menyifati siapa itu manusia Indonesia.

Sekarang mari kita berfikir santai-santai tentang konsep pendidikan karakter.

Saya tidak tahu apakah berlaku sama untuk setiap orang, bahwa kenangan yang masih melekat di kepala adalah kenangan masa kecil. Saya mengingat sebagian besar ajaran tentang budi pekerti dengan baik di TK, dan sedikit lupa apa yang saya pelajari di SD, SMP, SMA, apalagi saat menjadi mahasiswa.

Di TK, saya masih ingat setiap kali masuk, ibu guru akan meminta kami untuk duduk tegak, dan meletakkan tangan di atas meja. Ibu guru akan memeriksanya, dan kalau sampai kuku kami panjang, beliau akan segera memotongnya. Rambut kami pun diperiksa, apakah sudah tersisir rapih, dan seragam kami terpasang dengan baik. Bahkan kadang-kadang Ibu guru memeriksa telinga kami, apakah sudah bersih atau ada kotorannya. Kebiasaan duduk tegak masih bertahan hingga kelas 2 SD. Setelah itu, saya sudah mulai bosan dan punggung saya mulai melengkung.

Karena aturan ketat seperti itu, saya masih ingat mamak punya kebiasaan memotong kuku kami setiap minggu dan membersihkan kuping kami pula. Seingat saya baju seragam saya tidak pernah lecek, selalu tersetrika rapih, dan itu berlanjut hingga sekarang. Saya tidak bisa keluar rumah jika baju tidak rapih.

Di TK dulu, kami punya kebiasaan mencium tangan Ibu ketika hendak berangkat ke sekolah dan menyalami ibu guru jika hendak pulang. Kebiasaan menyalami orang tua terus kami lakukan hingga sekarang.

Pelajaran moral dan akhlak lainnya, saya pikir sebagian besar saya dapatkan di rumah. Di sekolah, saya merasa cukup mendengarkannya dari penjelasan guru agama dan PMP. Tetapi Mamak dan Bapaklah yang mencontohkannya. Ibu/Bapak guru di sekolah hanya mengajarkan teorinya tetapi tidak menunjukkan contohnya. Saya belajar tentang kesantunan, kehalusan bicara, ketekunan ibadah, sifat pemurah, selalu bekerja keras dari tuntunan orang tua saya. Mereka sama dengan orang tua yang lain, mendidik kami dengan usapan sayang di kepala jika kami berlaku baik, dan cubitan di pantat atau paha, atau gertakan keras jika kami nakal. Dari situ pula kami pelan-pelan memahami apa itu perilaku baik dan apa itu perilaku buruk.

Pada masa kecil saya dulu, TV masih hitam putih, dan kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan rutinitas yang hampir seragam. Pulang sekolah, makan siang, sholat dhuhur, tidur siang. Jam 4 bangun, sholat ashar, bermain sampai maghrib. Dua kali seminggu kami pergi ke rumah guru ngaji, mengeja alif ba ta. Guru ngaji tidak dibayar, tetapi beliau meminta kami menyapukan halamannya atau mengepel lantai rumahnya. Kalau pergi berlibur ke rumah nenek di kampung, maka kami tetap mengaji rutin. Guru ngaji saya di kampung adalah saudara nenek, dan biasanya kami memijitnya sebagai ongkos mengajari kami. Biasanya jam bermain kami hingga terdengar bedug maghrib. Setelah mandi, sholat maghrib berjamaah, makan malam, mengerjakan PR, sholat isya, dan akhirnya tidur pada pukul 9 malam. Begitu terus hingga saya duduk di bangku SMP. Di SMP saya mulai terlibat banyak kegiatan di sekolah, dan kadang-kadang pulang sore. Demikian pula di SMA.

Rutinitas seperti di atas tidak berubah karena ada mamak dan bapak yang selalu mengontrol dengan ketat. Karenanya saya pikir orang tua yang bekerja saat ini dan dunia bebas yang semakin terbuka, tentunya sangat menyulitkan untuk mendidikkan seperti di atas.

Kedisiplinan dan akhlak-akhlak baik, rasanya sudah cukup saya dapatkan semasa kecil dulu. Saya lebih mudah mengingatnya barangkali karena semuanya kami lagukan. “Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku…” itu salah satu lagu yang masih lekat di kepala.

Oleh karenanya, barangkali ada kerancuan dalam pengonsepan tentang pendidikan karakter yang diusung pemerintah, sehingga pemerintah lebih menekankannya di SD dan tidak memulainya dari TK. Sekalipun TK adalah tempat bermain dan bukan sekolah, tetapi pendidikan sudah harus dimulai dari sana. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, memakai topi jika hendak bermain di luar pada saat musim panas, merapikan tempat makan, merapikan tas, merapikan seragam, melipat kaos kaki, merapikan alat bermain, membuang sampah, melap ingus dengan sapu tangan, mencuci kaki sebelum tidur, menonton TV dari jarak yang tidak terlalu dekat, dll bukankah semuanya adalah basic pembentukan karakter yang pelatihannya dimulai dari TK atau bahkan lebih dini ?

Kadang-kadang orang mengira bahwa anak-anak di TK masih sulit menerima pengajaran, padahal justru mereka adalah perekam dan peniru yang terbaik. Saya mengajari anak-anak usia 4~11 tahun di sekolah bhinneka, dan melihat bahwa anak-anak usia 4~5 tahun meniru dan masih menunjukkan kepatuhan, sementara anak-anak di kelas atas, susah sekali mendengarkan nasehat. Anak-anak 4~5 tahun mudah sekali dituntun untuk melipat mukenah setelah selesai sholat, merapikan tas, memakai kaos kaki dan sepatu dengan benar, apalagi jika dilakukan secara bersama-sama dengan aba-aba. Anak-anak umur 10~11 tahun, barangkali merasa bahwa mereka bukan anak-anak lagi, sehingga bosan mengikuti aba-aba🙂

Dari beberapa anak yang saya kenali dengan baik orang tuanya, saya bisa menarik kesimpulan bahwa orang tua yang baik menuntunkan hal-hal yang baik pula. Jika bersalah, harus minta maaf. Jika tidak tahu harus berani mengatakan tidak tahu, dan tidak boleh berbohong. Jika menerima sesuatu harus mengucapkan terima kasih, dll. Anak-anak melakukan semuanya dengan gaya meniru.

Karenanya saya berani menyimpulkan bahwa anak berakhlak baik karena orang dewasa di sekitarnya juga berakhlak baik.

Lalu, terbayanglah betapa susahnya mendidikan karakter yang baik kepada anak, jika orang dewasa di sekitarnya masih berlaku tak senonoh. Seharusnya yang pertama kali harus dididik agar berkarakter baik adalah orang dewasa. Melalui apa mereka harus dididik ? Melalui majlis-majlis keagamaan yang benar-benar menanamkan nilai-nilai baik, dan bukan sekedar pengumpul massa.

  1. Saya setuju bahwa pendidikan karakter untuk orang dewasa perlu. Khan yang mendidik anak2 adalah orang dewasa. Bagaimana bisa memberikan pendidikan karakter yang baik jika pendidiknya tidak menerapkannya pada dirinya sendiri. Mendidik anak2 tidak cukup dengan memberitahu saja tapi juga dengan memberi contoh. Coba lihat pada kasus seorang balita yang suka merokok.
    Sekarang ini orang dewasa lebih dihadapkan dengan pilihan cara benar atau cara mudah. Kebanyakan pilih cara mudah. Dan cara mudah yang dipilih sebagian besar adalah dengan mengabaikan hal yang baik dan benar.

  2. Hal yang sangat membingungkan ketika pemerintah membuat seolah pendidikan berkarakter ini tema baru yang diangkat di sekolah. Bukankan pelajaran budi pekerti a.k.a kewarganegaraan serta pendidikan agama seharusnya bisa dikategorikan dalam materi pendidikan berkarakter?.

    Tumpang tindih dan tidak memiliki arah yang jelas, that’s the problem!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: