murniramli

Berjuang dengan bahasa

In Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, Renungan, Serba-serbi Indonesia on Juli 23, 2010 at 12:31 pm

Beberapa waktu lalu, ada sebuah semangat di kalangan teman-teman untuk mempublish sebuah buku yang diharapkan nantinya dapat memberikan masukan berharga kepada pemerintah. Idenya sangat baik, dan kami bersemangat karenanya pada awal dicetuskan, tetapi entahlah sekarang. Tampaknya semakin sibuk saja kehidupan kami sebagai mahasiswa, sehingga seringnya kami berpikir besok akan punya waktu luang, dan nyatanya besok kami kembali sibuk.

Ide awalnya, buku tersebut akan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Saya setuju-setuju saja, tetapi saya sebenarnya agak sedih, sebab kami barangkali sudah mulai ikut-ikutan menganggap bahasa Indonesia lemah kedudukannya. Saya terusik melemparkan pandangan dan usulan agar buku tersebut diterbitkan saja dalam bahasa Indonesia. Alasan pertama karena pembaca terbesar dan yang akan mengambil manfaatnya adalah orang Indonesia, dan alasan kedua karena saya harus bekerja keras lagi untuk menulis dalam bahasa InggrisšŸ™‚

Teman saya mengatakan bahwa literatur tentang Indonesia yang ditulis dalam bahasa Inggris sangat sedikit jumlahnya, dan upaya ke sana harus digalakkan. Alasan lain disebutkannya bahwa penulisan paper dalam bahasa Inggris adalah persyaratan untuk diakui sebagai ilmuwan internasional. Saya agak mengkerut, sebab itu artinya saya belum bisa dikategorikan sebagai ilmuwan internasionalšŸ˜¦

Tetapi sebenarnya saya tidak peduli dengan pengkategori atau pengelompokan itu. Mau dimasukkan dalam kategori nasional, internasional, lokal, ndak ada urusan sebab saya bukan ilmuwan, tetapi selamanya saya seorang pelajarĀ  saja:-)Ā  Di ruang belajar saya di kampus, teman-teman mahasiswa asing dulu suka memanggil saya “kenkyuusya” (peneliti) sebab saya gemar lama-lama duduk mengetik atau membaca buku. Belakangan panggilan itu berubah ketika saya secara bergurau mengatakan saya bukan kenkyuusya tapi “kyuu kyuu sya” (mobil ambulance). Sejak saat itu hingga sekarang, mereka lebih sering memanggil saya kyu kyu sya dan kadang-kadang menimbulkan kernyitan aneh di kalangan mahasiswa Jepang. Biar sajalah.Kami mahasiswa asing bebas menggunakan istilah apa saja yang kami sukaišŸ™‚

Kembali ke masalah buku berbahasa Indonesia. Entah karena disertasi saya menyinggung masalah pendidikan bahasa atau saya terlalu menyelami sejarah penjajahan bangsa-bangsa melalui bahasa, maka saya kemudianĀ  berkicau tentang politik bahasa.

Bahasa adalah alat penjajahan. Sewaktu Belanda menjajah Indonesia, bahasa Belanda diwajibkan dipelajari oleh elit bumiputera demi mendukung kepentingan Belanda. Saat penjajahan berpindah ke tangan Jepang, bahasa Nippon menjadi bahasa wajib ajar di semua sekolah. Kesemuanya bukan untuk meninggikan martabat pribumi tetapi demi kepentingan penjajahan.Gampangnya, supaya perintah-perintah dari meneer Belanda dan panglima perang Jepang dimengerti oleh pribumi, bukan kaum penjajah itu yang wajib mempelajari bahasa negeri jajahannya, tetapi pribumi “dipaksa” mempelajari bahasa negeri penjajah. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di hampir semua negeri yang pernah terjajah.

Jadi, menurut saya menulis literatur berbahasa Indonesia adalah sebuah bentuk “pemaksaan” yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia.

Kadang-kadang saya iri dengan orang Inggris atau Amerika atau negara lain yang berbahasa Inggris, sebab mereka tidak perlu lagi mempelajari bahasa lain. Sementara saya sebagai anak Bugis, mesti mempelajari bahasa Bugis, lalu ketika diputuskan harus pindah ke Jawa, diwajibkanlah saya berhonocoroko. Lalu, supaya saya bisa berkomunikasi dengan semua orang Indonesia, sebagaimana anak-anak sekolah yang lainnya, saya wajib belajar bahasa Indonesia. Lalu, katanya lagi, supaya bisa berkomunikasi dengan orang di negara lain, diwajibkan pulalah kami bercas cis cus dengan lafaz r yang dikeseleokan supaya benar-benar terdengar kami sedang berbahasa Inggris. Padahal waktu pertama kali menginjakkan kaki di Narita, Tokyo, dengungan di sekitar saya hanya bahasa Jepang. Sedikit saja saya dengar bahasa Inggris dengan lantunan yang setengah mati diucapkan.

Saya dan anak-anak di negara non English mesti mempelajari banyak bahasa, lalu kami “dipaksa” pula menguasai English, karena kakek-kakek kita dulu dipaksa juga bersepakat bahwa “bahasa Inggris adalah bahasa dunia”šŸ™‚

Lalu sekarang, professor Jepang kembali memaksa saya dan orang-orang yang bersekolah di Jepang untuk menguasai bahasa Jepang. Sebab mereka ogah menuliskan hasil penelitiannya dalam bahasa Inggris. Sebenarnya tidak tepat menggunakan kata “ogah”, tetapi barangkali lebih tepat mengatakan mereka punya kebanggaan terhadap “bahasa”nya.

Ibaratnya mereka hendak berkata, “Murni, kalau kamu mau tahu tentang pendidikan kami, yang pertama kamu harus pelajari adalah bahasa kami. Jika tidak mau belajar bahasa kami, maka silakan menerka-nerka saja tentang pendidikan di negeri kami”. Ini adalah bentuk pemaksaan halus. Dan ini adalah politik bahasa.

Jadi, saya katakan kepada teman sambil bercanda di dalam email, bahwa tanah air kita tidak punya lagi senjata penekan di tengah menumpuknya utang. Negara kita selamanya akan tergantung dan bergantung kepada negara-negara besar itu. Apalagi menuliskan tentang Indonesia dalam bahasa Inggris, seakan kita berkata, “Nih, tuan-tuan silakan membacanya dengan nyaman dan mudah”

Mengapa tidak memaksa mereka mempelajari bahasa Indonesia jika mereka ingin tahu tentang Indonesia ?

Judul di atas barangkali lebih tepat jika ditulis : “Menekan dengan bahasa” atau “Menjajah dengan bahasa”

Tapi sudahlah, ini hanya sekedar pikiran selintas ketika saya merasa sangat Indonesia. Toh, saya tidak menolak semua “penjajahan bahasa” yang sudah saya alamišŸ™‚

  1. bahasa simbol perlawanan dunia…bahasa mampu merubah peradaban dunia….

  2. Sekarang ini di Indonesia, orang lebih suka yang “menginternasional”. Di kampung saya sudah ada sekolah internasional (RSBI).

  3. gimana ya bunda, banyak alasan untuk menggunakan bahasa inggris ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: