murniramli

Bunuh diri lagi

In Serba-Serbi Jepang on Agustus 3, 2010 at 6:22 am

Kalau setiap hari menonton TV Jepang, maka bisa dipastikan ada saja manusia Jepang yang meninggal entah karena sakit, usia lanjut, dibunuh atau bunuh diri. Yang terakhir sering menjadi pilihan orang-orang yang stress baik di pekerjaan ataupun sekolah, dan atau diijime (dilecehkan) di kantor, sekolah atau lingkungannya.

Biasanya bunuh diri paling sering terjadi dengan menabrakkan diri dengan kereta yang sedang melaju. Dan sekalipun tanpa data statistik, saya pikir kejadian lompat menerjang kereta paling sering terjadi di kota kami, Nagoya.

Hari Jumat lalu, saya agak terlambat pergi ke kampus karena menunggu kiriman pak pos seperti yang postingan minggu lalu. Saya menunggu kereta bawah tanah yang sedianya akan berangkat sesuai jadwal jam 12.29. Kira-kira 10 menitan saya harus menunggu, jadi lebih baik cari bangku dan pas di bawah AC besar. Tak berapa lama, kereta dari jalur yang berseberangan terdengar pengumuman kereta akan tiba, dan seperti biasa tidak ada ketelatan, sesuai dengan skedul yang tertera di papan table time.

Beberapa menit saat kereta datang sambil membunyikan klakson, terdengar suara “brak”, seperti sebuah tubrukan dan bersamaan dengan itu teriakan histeris seorang perempuan. Tiba-tiba kereta tersebut berhenti secara mendadak dan lampu di dalam kereta padam.Tak lama, tampak dua orang petugas berlari tergopoh ke arah belakang kereta, dan selanjutnya berdatangan petugas yang lain. Penumpang di dalam kereta mulai kipas-kipas, sebab kelihatannya kereta diset secara computerized, jika lampu mati maka AC dalam kereta pun mati. Seorang penumpang di salah satu gerbong, menunduk sambil menangis, kelihatannya shock. Temannya mengelus-elus pundaknya.

Saya bisa memahami kenapa lampu kereta dipadamkan dan pintu tidak dibuka. Sebab jika dibuka, penumpang akan berhamburan keluar, dan akan lebih menyulitkan kerja petugas. Penumpang yang sedang menunggu di platform, seperti biasa tidak menunjukkan kepanikan. Ada yang kipas-kipas, ada pula yang duduk termangu, beberapa lagi mencoba melongok melihat gerbong belakang, ingin tahu seperti apa dan bagaimana orang yang nekat tersebut, termasuk saya. Biasanya saya agak takut untuk melihat kecelakaan seperti ini, tapi saat itu saya ingin benar-benar melihatnya. Sayangnya di Jepang ada aturan resmi, bahwa korban kecelakaan, mayat atau apa saja yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman (mual misalnya) harus ditutupi. Jadi, jangan harap bisa melihat korban secara langsung. Petugas sudah siap dengan terpal biru untuk menutupi tubuh korban.

Seorang petugas kereta dengan tangan kotor, mendekati penumpang dan bertanya adakah yang kenal dengan korban. Tapi tidak ada yang menjawab. Malah ada nenek-nenek yang mengomel mengapa tidak ada pemberitahuan tentang keterlambatan kereta, dan mereka sebaiknya harus bagaimana ? Si petugas membungkuk dalam meminta maaf, dan segera berlari. Kelihatannya dia segera naik ke atas, sebab tak lama kemudian terdengar pengumuman tentang upaya bunuh diri tsb, dan penghentian semua kereta di semua line, lalu penumpang yang buru-buru dipersilakan naik ke atas untuk  naik kendaraan lain. Uang tiket akan dikembalikan. Saya kurang menangkap yang lainnya, sebab suara melalui mikrofon terdengar bercampur dengan suara tarikan nafas yang terengah, sehingga kurang jelas. Pastilah petugas tadi yang berusaha membuat pengumuman.

Tak lama kemudian pintu kereta dibuka tapi tidak semuanya, hanya di gerbong tertentu. Penumpang segera turun dan agak sedikit bergerombol menengok ke bawah kereta untuk melihat korban. Tapi cukup sulit kelihatannya, sebab korban ada di bawah salah satu gerbong, yang terapit dinding. Karena kereta bawah tanah, maka rel-rel dipasang di sepanjang terowongan dan di setiap stasiun diapit dengan dinding terowongan dan platform . Jadi, jika ada kecelakaan akan sulit sekali mengangkat korban kecuali memisahkan gerbong.

Saya bertemu dengan seorang teman Indonesia, lalu kami putuskan untuk jalan kaki ke kampus, yang kira-kira makan waktu 15-20 menit. Tidak hanya kami, rombongan yang berjalan kaki menuju arah kampus dan atau sebaliknya cukup banyak, mengingatkan saya ketika ada demo di Jakarta.

Biasanya jika terjadi bunuh diri di stasiun, kereta akan berhenti kurang lebih 30 menit, dan selanjutnya akan berjalan normal, tetapi tidak sesuai dengan time table lagi. Saat kami berjalan kaki menuju kampus terdengar sirine mengaung, 2 mobil kebakaran datang secara bergegas. Ya, kelihatannya perlu bantuan mereka untuk mengangkat korban, sebab petugas kereta di stasiun biasanya tidak akan berani mengangkat korban, sebab mereka tidak terlatih untuk itu. Pengangkatan yang salah bisa menyebabkan kerusakan parah pada tubuh korban.

Orang Jepang seperti biasa cuek dengan masalah ini. Mereka hanya melongok sebentar ke arah tempat kejadian, dan selanjutnya kembali bergegas ke tempat tujuan. Barangkali saking seringnya kejadian seperti ini terjadi.

Mahasiswa yang sedang ada kuliah atau ujian dapat minta surat keterangan terlambat kepada petugas stasiun. Surat kecil tersebut akan diserahkan kepada dosen pengajar, sehingga mereka sekalipun terlambat sejam atau lebih, tetap dianggap masuk. Orang-orang kantoran tinggal menelpon kantor memberitahukan kalau kereta berhenti, dan akan terlambat.

Seakan tidak ada yang peduli di saat hilang satu jiwa.

  1. apa karena kesibukan, hal mengerikan seperti itu jadi biasa saja? hmm..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: