murniramli

Usia 100 tahun dan tunjangan pensiun

In Serba-Serbi Jepang on Agustus 6, 2010 at 12:13 am

Kalau jalan-jalan di kota Nagoya, ketemu dengan nenek-nenek atau kakek-kakek yang berjalan sambil membungkuk 45 derajat adalah hal biasa. Mereka tidak sedang memberi hormat kepada siapapun, tetapi postur tubuh mereka melengkung secara alami karena pertambahan usia.

Di antara yang banyak ditemui tersebut kebanyakan adalah perempuan. Ini bisa dipastikan sebab menurut laporan Ministry of Health, Labour and Welfare, rata-rata usia wanita Jepang adalah 86.44 dan usia pria Jepang adalah 79.59 tahun. Usia wanita Jepang tersebut memegang rekor dunia selama 25 tahun, sementara usia pria turun dari peringkat ke-4 menjadi ke-5.

Bahkan menurut berita jumlah penduduk Jepang berusia 100 tahun (centenarian) mencapai 40,399 tahun ini dan 87% dia antaranya adalah wanita. Biasanya orang-orang tua yang mencapai usia 100 tahun akan mendapatkan piala perak dan sertifikat dari pemerintah yang akan diserahkan langsung oleh Menteri Health, Labour dan Welfare.

Baru-baru ini dilaporkan bahwa ada 18 penduduk usia 100 tahun ke atas yang dinyatakan tak jelas keberadaannya. Diperkirakan semestinya ada di antara penduduk tersebut yang berusia 110 tahun, dan merupakan penduduk tertua di Jepang. Akhirnya Menteri Akira Nagatsuma meminta agar dilakukan pengecekan dan penyelidikan tentang keberadaan mereka.

Mengapa demikian seriusnya ? Hal ini karena para centenarian tersebut tetap mendapatkan uang tunjangan pensiun. Karenanya pemerintah mengalami kerugian besar jika mesti mengeluarkan tunjangan tersebut sementara yang diberi tunjangan sudah meninggal.

Ketidakjelasan pendataan muncul karena tidak ada laporan dari pihak keluarga tentang kematian dari centenarian tersebut. Baru-baru ini di Tokyo dilaporkan ada seorang centenarian laki-laki yang telah meninggal 30 tahun lalu dan dimumi-kan oleh keluarganya. Laki-laki tersebut menerima uang pensiun sebesar 9.5 juta yen ketika istrinya meninggal 6 tahun lalu. Artinya uang tersebut tidak diterimakan langsung kepadanya tapi diterima oleh anak perempuannya yang hidup dengannya. Laki-laki tersebut akan berusia 111 tahun bulan lalu jika masih tetap hidup.

Ironis sekali bahwa keluarganya tidak membakar jenazahnya (sebagaimana kebiasaan di Jepang) dan membiarkannya selama 30 tahun. Saya tidak terbayang bagaimana bisa keluarga yang ditinggalinya dapat bertahan dengan bau yang menyengat sekalipun mumifikasi dilakukan ?

Masalah pengumpulan dan penggunaan uang pensiun juga menjadi semakin rumit karena menurut laporan Aya Abe,  direktur  the National Institute of Population and Social Security Research, Maret lalu bahwa pada tahun 2007 ada 6.41 million penduduk Jepang yang dikategorikan sebagai pekerja miskin (working poor). Mereka kemungkinan akan kesulitan untuk membayar pajak, asuransi kesehatan, dan bahkan uang pensiun.

Selain itu homeless yang banyak menempati taman-taman, pinggiran sungai, dan emperan pertokoan di bawah tanah, sekalipun jumlahnya menurun tahun ini, tetapi masih merupakan masalah yang tak terpecahkan di Jepang. Populasi homeless tahun ini mencapai 15,759 orang, dan 14,554 di antaranya adalah laki-laki.Mereka tentu saja tidak mampu membayar uang iuran pensiun apalagi pajak. Kebanyakan mereka bekerja harian dan hanya berpenghasilan cukup untuk makan hari itu.

Begitulah, kesejahteraan dan kemajuan teknologi telah membawa usia penduduk Jepang menghasilkan sebuah pencapaian yang luar biasa. Orang-orang Jepang yang saya temui dan tanyai menanyakan kegembiraan dengan kenyataan ini, tetapi di lain sisi kemajuan dan pencapaian tersebut telah meninggalkan permasalahan baru, baik dari segi upaya peningkatan kesejahteraan penduduk usia mudanya melalui kesempatan kerja yang masih dipegang oleh penduduk senior, maupun dari segi pembayaran dan penggunaan uang pensiun.

  1. pertamax aja deh..
    salam kenal..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: