murniramli

Selamat datang perawat

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Agustus 11, 2010 at 1:18 am

Tahun ini saya tidak bisa pulang lagi untuk berpuasa di tanah air. Sekalipun sudah selesai disertasi dan hari ini ada upacara penyerahan ijazah, tetapi pekerjaan belum selesai. Masa liburan musim panas juga sudah masuk, tetapi seperti tahun-tahun sebelumnya saya masih bekerja selama liburan. Salah satu tugas berat selama Agustus hingga November nanti adalah menjadi penerjemah di pelatihan perawat yang diselenggarakan di Pusat Pelatihan AOTS, Aichi.

Hari Senin lalu adalah acara penyambutan. Saya sudah datang pukul 8 lewat sedikit, terkantuk dan tidur di dalam kereta sepanjang perjalanan menuju Joshui. Setibanya di stasiun untungnya bis menuju tempat pelatihan sedang mangkal, jadi lumayan tidak usah jalan kaki. Biasanya saya harus jalan kaki 20 menit untuk sampai di pusat pelatihan.

Sengaja saya mengenakan batik, sebab saya yakin para perawat hari ini pakai batik juga. Ternyata benar. Setelah bertemu dengan mereka di ruang besar, ruang 24,tempat acara penyambutan dan orientasi berlangsung, semuanya mengenakan batik. Saya merasa seperti di Indonesia. Hanya dua orang Jepang yg menjadi penanggung jawab datang mengenakan jas lengkap seperti biasanya orang Jepang.

Ke-39 perawat yang akan mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 4 bulan tsb sebelumnya telah belajar bahasa Jepang di Bandung selama 2 bulan. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia, telah mengikuti seleksi yang ketat, sehingga terpilih sampai di Jepang.

Seperti umumnya jika orang Indonesia berkumpul, semuanya ramai, senang bercanda, tertawa-tawa. Tapi sebagian juga menampakkan kecemasan. Ya, sebagaimana disampaikan dalam sambutan para petinggi Jepang yang hadir pada kesempatan itu, pastilah berat bagi para perawat untuk mengambil keputusan datang ke Jepang dan meninggalkan keluarga. Belum lagi dengan budaya di Jepang yg belum mereka kenali, dan barangkali tidak sama dengan kami yang akan bersekolah di Jepang, mereka datang untuk bekerja sebagai perawat. Pekerjaan yang akan banyak berinteraksi dengan orang Jepang. Mau tidak mau karakter dan pola hidup, pola pikir orang Jepang harus mereka pahami.

Hari ini memasuki puasa hari pertama, mudah-mudahan mereka tetap semangat mengikuti pelatihan. Saya sangat menghargai koordinator acara yang sengaja mengatur jadwal agar tidak terlalu memberatkan di sore hari, dan memberi ruang khusus bagi peserta muslim untuk menunaikan sholat berjamaah. Semestinya teman-teman tidak akan kesulitan menyelenggarakan sholat tarawih berjamaah.

Karena mereka bermaksud menjadi perawat di Jepang, maka tujuan utama mereka adalah lulus dalam ujian nasional perawat. Bukan tugas yang ringan. Setelah hampir 6 tahun berada di Jepang, saya bisa memahami kesulitan ujian yg akan mereka hadapi. Selama persiapan menghadapi ujian yang akan berlaku selama 3 tahun, mereka akan bekerja di rumah sakit-rumah sakit.

Tetapi lulus dalam ujian nasional bukan sebuah kemustahilan, sebab sudah ada dua orang perawat dari Indonesia yang lulus tahun lalu. Mereka saya yakin adalah pembelajar yang sangat keras dan gigih berlatih tentunya.

Sekalipun tugas saya sebagai translator dalam pelatihan tsb, saya ingin menolong dan membantu teman-teman perawat dalam hal apapun yang saya sanggupi. Mudah-mudahan Allah meringankan tugas-tugas kami.

  1. membaca cerita ini semakin menjadikan saya ingin ke Jepang saja sebagai perawat dari indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: