murniramli

Tidak semua orang Jepang menyukai kedisiplinan

In Serba-Serbi Jepang on Agustus 13, 2010 at 10:45 pm

Hari Kamis lalu, saya masih bertugas menjadi penerjemah di pelatihan perawat. Hari itu materi yang dipelajari adalah tentang pola hidup di Jepang, dengan fokus perayaan hari besar/festival dan pola makan serta makanan orang Jepang. Saya sudah tiba di tempat pelatihan 45 menit sebelum acara, sebab biasanya perlu waktu untuk sholat dan beristirahat sebentar.

Ketika saya memasuki ruang kelas, PJ kegiatan sudah ada di dalam sedang menata ruangan dan mencoba slide, padahal saat itu masih 30 menit lagi kelas akan dimulai. Hebat, semuanya sudah rapih ! Kelihatan sekali PJ sangat rapih dan disiplin dalam bekerja.

Kuliah hari ini akan dimulai pukul 13.30, dan beberapa hari sebelumnya saat orientasi sudah disampaikan kepada peserta untuk hadir 5 menit sebelum kegiatan. Sayang sekali beberapa peserta tidak mematuhi ini, bahkan ada yang datang 5-10 menit setelah kuliah dimulai. Ini barangkali biasa di Indonesia, tetapi di Jepang hal itu sudah dinilai sebagai performans yang buruk. Sayang sekali lagi, karena peserta yang terlambat lupa mengucapkan, “sumimasen”, atau maaf.

Entahlah karena PJ pelatihan masih muda dan barangkali sengaja tidak menegur para peserta, sebab di awal orientasi dia sudah sampaikan bahwa penilaian terhadap peserta akan minus jika sesuatu yang sudah pernah disampaikan, dilupakan.

Barangkali banyak dari kita menganggap sikap orang Jepang kurang manusiawi, tetapi demikianlah. Saya pun mengalami stress berkepanjangan saat memulai awal-awal kerja dengan orang Jepang.

Apakah semua orang Jepang menyukai kedisiplinan ? Ternyata tidak semua. Saya menemukan contohnya pada salah seorang dosen bahasa Jepang yang pernah mengajar saya di kampus. Secara kebetulan saya bertemu beliau saat pulang bekerja Kamis lalu. Kami mengobrol ngalor ngidul seputar kuliah dan disertasi saya. Dan karena beliau pernah pergi ke Indonesia beberapa tahun yang lalu, banyak hal yang diketahuinya tentang Indonesia. Tampaknya pula pemahaman beliau tidak dangkal terutama tentang karya-karya sastra, pelaku seni dan bangunan bersejarah. Sebab bolak balik dalam pembicaraan kami,beliau menyebut-nyebut nama sastrawan terkenal, dan bahkan menunjukkan sebuah tulisan tentang Rendra.

Bapak dosen yang dulu sangat saya sukai cara mengajarnya di kelas Intermediate dan Advance itu, orangnya sangat sederhana dan serba tak mau mengikuti jaman. Tidak punya HP dan tidak punya mobil, sesuatu yang sangat mengherankan di Jepang. Beliau lebih menikmati kereta dan bis, dan menggunakan telepon umum🙂

Satu hal yang membuat tawa saya meledak adalah ketika beliau mengatakan, “kamu tahu orang-orang Indonesia yang duduk-duduk nongkrong sambil merokok di warung-warung? Saya sangat suka itu. Ruru ga nai hito bito (Orang-orang yang ga ada aturannya). Jiyuu ni (hidup bebas). Are wa daisuki (Itu sangat saya suka)”.

Lalu, komentar terakhirnya saat saya sudah mau turun di kampus, “Nihon no ru-ru ga kirai da” sambil terkekeh. Saya tertawa saja, sambil berpamitan.

Begitulah, mungkin karena terlalu strict, ada juga orang Jepang yang sekali-sekali ingin melanggar dan hidup agak bebas :-)  Sayangnya jika bekerja di perusahaan atau di manapun di Jepang, semuanya tidak ada yang mau melepaskan kedisiplinan sebagai sesuatu yang patut diyakini dan diamalkan.

  1. […] lah, dan lain sebagainya. Anda menganggap bahwa orang Jepang disiplin? Coba buka tulisan di blog Murni Ramli. Faktanya adalah tidak semua orang Jepang itu disiplin. Mungkin sebagian besar orang Jepang memang […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: