murniramli

Wawancara Kerja : Gaji, Libur Tahunan, Tugas, Beban Kerja, mana dulu ?

In Serba-Serbi Jepang on Agustus 23, 2010 at 11:46 pm

Ketika mulai bekerja di beberapa tempat di Jepang mulai dari pekerjaan yang remeh hingga menjadi tenaga pengajar di universitas, saya sudah menjalani beberapa kali wawancara kerja. Karena punya pengalaman bekerja di Indonesia, maka saya merasakan adanya perbedaan mendasar saat wawancara kerja.

Kesadaran itu kembali muncul saat kemarin menjadi penerjemah di kursus perawat. Jumat lalu pihak rumah sakit yang akan mempekerjakan para perawat datang dari seluruh Jepang ke Pusat Pelatihan dengan maksud berkenalan dan mendapatkan informasi tentang apa saja yang dipelajari para trainee. Saat mengobrol dalam bentuk kelompok, sebagai penerjemah saya berkeliling membantu kalau ada yang butuh penerjemahan, sebab kemampuan peserta dalam bahasa Jepang masih kurang memadai.

Di tengah obrolan saya mendengar pertanyaan yang lazim ditanyakan yaitu tentang gaji dan cuti tahunan. Sebenarnya para peserta sudah dipesankan sebelumnya tentang poin-poin yang boleh mereka tanyakan, misalnya perkenalan diri terutama budaya dan agama, kewajiban kerja, fasilitas RS, akomodasi, dan terakhir karena sangat riskan, boleh menanyakan gaji, tetapi PJ sudah wanti-wanti untuk menanyakannya dalam bentuk sopan, misalnya dengan kalimat, “すみませんが、お給料のことを質問してもいいですか (boleh nanya tentang gaji,ndak ?). Tapi ternyata tidak ada peserta yang ingat kalimat itu🙂 dan semuanya langsung nembak, “お金は。。。(gajinya…?)

Ada hal-hal penting yang mesti dikonfirmasi dalam wawancara kerja di Jepang, dan ini ada urutannya. Pihak employer biasanya sudah punya data pribadi kita, kalau belum mereka akan mulai dari menanyakan biodata. Selanjutnya dia akan menjelaskan tentang perusahaannya, lalu masuk pada sub kerja yang akan kita lakukan. Kadang-kadang ada juga yang menanyai dulu, bidang apa yang kita minati atau jenis kerja apa yang ingin kita lakukan. Lalu, biasanya mereka juga akan menyelingi pembicaraan dengan secara bergurau menanyakan hobi dan kegemaran kita, atau misalnya tentang kehidupan yang sudah kita jalani di Jepang. Pertanyaan tentang hobi cukup penting untuk memberikan penilaian seperti apa tipikal employee, apakah sangat serius bekerja atau orang yang seimbang.

Masalah gaji dibicarakan setelah basa-basi mengendurkan ketegangan tentang sistem kerja di perusahaan. Termasuk masalah cuti. Tetapi umumnya masalah yg terakhir ini tidak dijelaskan detil karena pada dasarnya sistem cuti tahunan di Jepang hampir sama, 20 – 30 hari per tahun, dan bagi orang Jepang yang sangat suka bekerja, menanyakan cuti adalah hal yang dianggap tabu sebab itu akan menunjukkan itikad kerja yang lemah🙂

Entah karena sudah mulai tidak kerasan atau karena bingung tidak ada yang ditanyakan, maka hampir semua peserta kemarin menanyakan masalah gaji dan juga libur tahunan. Bahkan sudah ada yang menanyakan bolehkah mengajak orang tua jalan-jalan ke Jepang🙂

Dalam sesi respon balik, yaitu pihak RS diminta menyampaikan kesan pertama bertemu dengan para perawat kepada para pelatih di Pusat Pelatihan, terungkaplah keterkejutan mereka tentang pertanyaan libur tahunan dan gaji. Selain keterkejutan mereka tentang Islam, kewajiban sholat 5 kali sehari dan kewajiban puasa.

Apakah salah menanyakan masalah itu ?

Sebenarnya tidak salah jika orang yang kita hadapi bukan orang Jepang. Saya sebenarnya cukup cocok dengan cara berfikir mereka tentang gaji dan libur tahunan. Sebab saya termasuk orang yang tidak peduli dengan gaji dan juga libur. Sampai-sampai saat kuliah dulu, saya kadang-kadang jarang menyadari bahwa sekarang sudah masuk libur musim panas atau musim semi. Sebab rasanya saya ke kampus setiap hari. Dan secara kebetulan tempat saya bekerja tidak mengenal libur. Pun ketika bekerja, saya belum pernah sama sekali menanyakan berapa gaji yang akan saya terima, dan umumnya perusahaan akan memberikan penjelasan di akhir atau dalam surat perjanjian. Ketika bekerja di Indonesia, juga sama. Saya belum pernah sekalipun menanyakan gaji dan liburan🙂

Orang yang akan bekerja semestinya memahami dulu apa yang akan dikerjakannya dan seperti apa beban kerjanya. Pertanyaan tentang gaji boleh diajukan terakhir, atau barangkali akan dijelaskan belakangan, baik secara tertulis maupun lisan.

Tetapi karena tidak semua perusahaan adalah perusahaan yang jujur dan standar dalam menerapkan sistem beban kerja dan penggajian, maka untuk perusahaan yang sekiranya dianggap kurang bonafid dapat saja dikonfirmasi tentang sistem penggajiannya. Misalnya saja, karena UMR di Aichi adalah rata-rata di atas 800 yen per jam untuk pekerjaan kasar, maka angka ini menjadi patokan saat memutuskan menerima atau menolak pekerjaan. Sebab masih banyak bisnis yang mencharge hanya 700 atau 750 yen. Para perawat termasuk teknisi lainnya umumnya dicharge 1000 yen per jam (beberapa tempat kemungkinan berbeda) sebelum mereka mendapatkan sertifikat keperawatan yang akan diperoleh jika lulus ujian nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: