murniramli

Guru yang baik, guru yang tidak baik

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on Agustus 25, 2010 at 2:15 pm

Jika seorang guru memiliki kepekaan yang cukup tinggi, tentulah dia akan selalu peduli dengan kondisi dan respon siswa saat mengajar. Tetapi kadang-kadang kita terlalu asyik mengajar dan merasa bahwa yang kita ajarkan sudah dimengerti oleh semua siswa. Dan cara mengajar kita bisa diterima oleh semua siswa.

Dua hari yang lalu di kursus perawat ada kegiatan evaluasi pertama. Kegiatan ini bukan berupa tes, tetapi para guru menyampaikan pesan khusus tentang pembelajaran bahasa Jepang, dan selanjutnya para peserta diminta mengomentari atau memberikan masukan tentang cara pengajaran. Saya pikir metode ini sangat baik untuk diterapkan. Tentu saja para pengajar tidak dihadirkan dalam satu forum dengan peserta, sehingga memungkinkan peserta untuk berkomentar sebebas-bebasnya.

Dan begitulah, selama beberapa kali mengikuti kegiatan ini, peserta dari Indonesia selalu saja mengkritik guru yang kurang baik cara mengajarnya. Seperti kemarin, macam-macam komentar para peserta yang kadang-kadang membuat saya tertawa sebelum menerjemahkannya dalam bahasa Jepang.

Yang paling menarik adalah komentar seorang peserta yang mengkritik gurunya karena terlalu banyak bergerak sehingga membuatnya kurang memperhatikan pelajaran sebab perhatiannya lebih terarah pada guru yang bergerak hilir mudik. Saya tergelak mendengar ini, tetapi kemudian berfikir barangkali memang demikian sepertinya respon murid jika guru terlalu lincahšŸ™‚

Ada hal lain juga yang dikritik yaitu kecepatan bicara guru. Memang cukup sulit mengatur kecepatan saat mengajarkan bahasa kepada pembelajar asing. Saya pun sering mendapatkan kritikan dari para mahasiswa karena saya bicara dan menulis cepat. Kadang-kadang mereka tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang saya sampaikan.Tetapi melambatkan kecepatan bicara juga merupakan penghalang bagi siswa untuk segera menguasai bahasa yang dia pelajari dalam standar normal. Oleh karenanya seorang guru perlu mempunyai kepekaan kapan harus mengajar dengan kecepatan lambat, atau kapan dia harus berbicara normal.

Satu lagi murid-murid menganggap guru yang baik adalah guru yang pembawaannya ceria, selalu tersenyum dan kadang-kadang bergurau. Guru yang terlalu serius tak begitu disukai. Tetapi guru yang kebanyakan bergurau sehingga pada akhir pelajaran tak ada satupun hal berarti yang disampaikannya juga mendapat kritikan.

DanĀ  tentu saja guru yang pandai memanfaatkan alat bantu untuk mengajar, menerapkan permainan dalam pembelajarannya lebih disukai. Para peserta mengatakan perlunya model permainan saat belajar tentang kanji yang cukup rumit untuk dihafalkan.

Dari penjelasan di atas, para peserta telah mengkategorikan dengan jelas guru yang baik dan guru yang tidak baik.

Namun sebagai guru, saya kadang-kadang menilai siswa pun kurang berusaha untuk menguasai pelajaran dan hanya menuntut gurunya saja menjadi baikšŸ˜¦

  1. jadi kedua pihak harus saling mengerti ya senseišŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: