murniramli

Jika anak bertanya, jawablah dengan sabar

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Renungan on Agustus 29, 2010 at 8:08 pm

Anak-anak sering sekali bertanya dengan pertanyaan yang tiada ujung. Misalnya mereka melihat semut yang beriringan dan tertarik dengan itu, atau jika orang dewasa di sekitarnya memancingnya dengan pertanyanyaan awal, maka anak-anak yang biasa berkicau akan meluncurkan serentetan pertanyaan mulai dari mengapa semut-semut saling bersalaman, mengapa jalannya sama, mengapa warnanya hitam, atau rumah mereka di mana, dll.

Orang tua yang tidak sabar kadang-kadang naik pitam dan biasanya akan menegur anak sambil mengatakan, “cerewet banget sih !”

Saya sebaliknya, gemar sekali menanyai anak-anak atau mahasiswa dengan aneka pertanyaan🙂 Kadang-kadang saya suka sekali mengganggu anak-anak yang sedang asyik bermain dengan banyak tanya. Tetapi, tTidak sama dengan orang dewasa, anak-anak lebih sabar atau lebih tepatnya betah saat menjawab pertanyaan. Ya, sebab mereka tidak senjlimet orang dewasa ketika memikirkan jawaban sebuah pertanyaan. Kadang-kadang mereka polos sekali,tidak berfikir itu benar atau salah. Sementara orang dewasa cenderung malu jika menjawab dengan asal.

Pernahkan anda melihat anak yang tertarik sekali mendengarkan pembicaraan orang dewasa ? Keponakan saya sering sekali ikut duduk di kursi tamu saat ayah atau ibunya kedatangan tamu. Mereka dengan wajah serius mendengarkan keasyikan orang dewasa berbicara. Dan setelah tamu pulang, anak-anak ini biasanya memberondong orang tuanya dengan sejibun pertanyaan dari apa-apa yang didengarnya di sana.Beruntunglah adik saya lumayan sabar melayani mereka.

Tapi tak jarang ada orang tua yang dengan judesnya akan menjawab, “ndak tahu ! ; cari saja sendiri; atau “gitu kok ditanyain”; “makanya belajar, gitu aja kok ndak tahu !”

Anak-anak yang terbiasa mendengar jawaban judes, pada masa dewasanya kelak pun akan berlaku sama, bahkan barangkali sangat malas menjawab pertanyaan. Kadang-kadang dia pun merasa dan menganggap penanya adalah orang bodoh, sebab dia merasa tahu tentang sesuatu. Fatalnya mereka dapat menjadi pembicara yang pasif dengan jawaban pendek-pendek.

Dulu sekali saya pernah menonton sebuah tayangan berbahasa Arab di bulan ramadhan di Indoensia. Seorang kakek berjanggut putih yang dengan sabarnya menjawab pertanyaan anak-anak tentang alam dan isinya. Si kakek sangat sabar dalam menjawab dan selalu mengatakan, “Yaa bunayya” (wahai anakku) setiap kali mulai menjawab. Saya terkesan sekali dengan gayanya itu. Anak-anak yang bertanya kepadanya tentulah sangat merasa sebagai orang yang disayang dan diperhatikan dengan panggilan tersebut.

Sekarang ini sangat jarang orang tua yang memanggil anaknya dengan panggilan, Nak atau Anakku. Mereka lebih sering memanggilnya dengan nama-nama pendeknya. Guru di sekolah pun tidak lagi menggunakan panggilan ini kepada siswa-siswanya. Tetapi saya pernah mendengar seorang kepala sekolah yang memanggil murid-muridnya dengan panggilan, Nak. Saya yakin, pastilah dia dicintai oleh siswa-siswanya.

Memulai menjawab pertanyaan anak dengan ucapan sayang, “Nak”,” Wahai Anakku !,” Anakku sayang”, adalah langkah awal untuk menjadi sabar menjawab pertanyaan mereka.

  1. Bagus juga nih posting..
    Cukup baik untuk dijadikan inspirasi kepada kita yg mengaku dewasa.

    klo merasa blm dewasa, yah.. tunggu sampe dewasa deh baca lagi nih posting. hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: