murniramli

Pengembangan Konsultan Sekolah di Daerah

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia on September 1, 2010 at 3:22 am

Semua pasti setuju bahwa sekolah-sekolah di daerah perlu lebih dikembangkan baik dari segi manajerialnya maupun model belajar mengajarnya. Pengembangan sekolah di masa OTDA sering menjadi masalah karena pendanaan dibebankan kepada pihak sekolah yang notabene berarti pengerukan dana dari orang tua.

Kesulitan akan muncul jika pada kenyataannya orang tua yang menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah bukan dari kalangan berduit. Penarikan dana dari orang tua menjadi seret, dan alhasil proyek pengembangan sekolah tidak dapat berjalan mulus.

Karenanya kebijakan desentralisasi pendidikan dalam OTDA yang secara hukumnya dilimpahkan kepada pemerintah daerah, tetapi pada kenyataannya dibebankan kepada sekolah-sekolah, perlu diperbaiki.

Salah satu solusi untuk mereformasi sekolah adalah perlunya konsultan sekolah atau pihak luar yang dapat menilai dengan jernih permasalahan yang terjadi dalam sekolah. Keberadaan pihak luar dalam pengembangan perilaku organisasi telah dibahas oleh beberapa ahli, salah satunya Chris Argyris dan Donald Scholn, keduanya adalah pakar organizational learning dan professional learning.

Ibaratnya seseorang normalnya sulit mendeteksi kekurangan dan penyakit yang dideritanya.Untuk memperbaiki diri, dia perlu pengamat luar yang akan memberikan penilaian yang objektif.

Mengundang pengamat luar atau konsultan sekolah adalah program yang perlu ditekankan dalam pengembangan sekolah daerah berdasarkan tipikal dan potensi daerah. Oleh karena itu tidak bisa jika pengadaan dan pembiyaannya hanya mengandalkan anggaran sekolah. Pemerintah perlu turun tangan dengan mengagendakan proyek ini sebagai proyek daerah.

Oleh karenanya upaya mencari konsultan yang representative perlu dipelopori oleh pemerintah misalnya dengan mengajak kerjasama universitas atau lembaga-lembaga penelitian.

Sayangnya pemda kita masih disibukkan dengan upaya meningkatkan kelulusan UN, ketimbang berupaya menciptakan program perbaikan manajerial dan konten belajar di sekolah.

  1. Bener banget tuh,
    Tapi kendalanya adalah banyak sekolah di daerah yang resisten sekali untuk berubah, mestinya Pusat bekerjasama sama pihak swasta tuh, tapi yang harus menendang bola duluan itu jg yang jadi masalah…soalnya sering budaya saling tunggunya dipake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: