murniramli

Melawan Tembok

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on September 7, 2010 at 12:54 am

Melawan tembok atau membenturkan badan ke tembok hanya ungkapan yang saya pakai sekadar untuk menggambarkan bagaimana jika kita bermaksud melawan peraturan yang berlaku. Saya tidak akan mengajak untuk melawan peraturan tetapi sekalipun tak diajak dan tak dikompori, ada saja peraturan yang kadang-kadang tak menghormati hak pribadi kita.

Membenturkan badan ke tembok akan terasa sakit. Kalau tidak percaya silakan mencobanya 🙂
Karenanya jangan mengambil tindakan konyol seperti ini untuk sekadar membuktikan bahwa itu sakit.

Selama berada di Jepang ada beberapa peraturan dan kebiasaan yang membuat posisi kita sebagai pihak yang dipekerjakan atau pihak yang belajar menjadi tak nyaman. Misalnya ketika hari-hari menjelang akhir ramadhan, banyak dari kita yang muslim ingin beritikaf di masjid. Tetapi para sensei sekalipun tidak mewajibkan, selalu menakut-nakuti dengan paper yang harus segera jadi, atau eksperimen yang harus segera beres. Jadilah mahasiswa sains bekerja siang malam non stop melebihi jam kerja normal orang Jepang kebanyakan.

Pada hari raya Ied, jika tak jatuh pada tanggal merah, maka kadang-kadang cukup sulit meminta ijin untuk sekedar pergi berkumpul menunaikan sholat ied. Bahkan yang gampang saja, meminta ijin untuk sholat ashar atau sholat maghrib di saat bekerja adalah hal yang sangat sulit dilakukan jika tak mau dianggap sebagai orang yang wagamama (egois).

Wagamama karena kami dianggap dengan seenaknya melakukan ibadah, sementara load pekerjaan sedang menumpuk. Kita dianggap tak berperikemanusiaan karena yang lainnya sibuk bekerja, sedangkan kita malah minta ijin sekejap. Kita dianggap membuat kerepotan baru kepada yang lainnya karena pekerjaan yang semestinya kita kerjakan harus dikerjakan oleh orang lain.

Demikianlah orang Jepang menurut saya sangat kuat karakternya dalam hal “tidak mau dan tidak etis merepotkan orang lain”. Ini yang menurut saya sangat berbeda dengan pemahaman tolong-menolong dalam konsep Islam. Di dalam agama Islam, ibadah kepadaNya adalah nomor satu. Sehingga jika ada seseorang yang ingin melakukan ibadah sholat sementara dia sedang sibuk, seseorang muslim lainnya harus datang membantunya dan memberikan kesempatan kepada saudaranya untuk beribadah. Di masjid kadang-kadang saya menggendongkan bayi seorang ibu muslimah yang akan sholat tetapi terganggu dengan rengekan anaknya. Saya tidak pernah peduli apakah dia anak Indonesia, anak Malaysia, anak Philipina, Mesir atau Afrika. Saya kira seandainya orang Jepang tidak keberatan jika kami menggendong bayinya, maka saya pasti akan menolong ibu2 Jepang yang kerepotan menggendong bayinya.

Sayangnya mereka selalu merasa enggan ditolong. Mereka selalu merasa takut merepotkan, padahal pada kenyataannya manusia hidup untuk saling menolong.

Kembali pada aturan kerja yang ketat di atas. Dalam keadaan tertentu seperti untuk menjalankan ibadah sholat, kita perlu pandai-pandai bernegosiasi dengan pihak yang mempekerjakan atau sensei di kampus untuk mendapatkan ijin dan restunya. Yang sulit dilakukan adalah bagaimana memintanya supaya diijinkan ?

Di sinilah yang saya katakan jangan melawan tembok dengan cara membenturkan badan sendiri secara keras. Mengambil tindakan keras misalnya dengan melanggar peraturan juga bukan langkah tepat sebab akan berimbas pada pekerjaan selanjutnya, dan sebagai orang yang dianggap membawa nama bangsa, maka otomatis akan mempengaruhi kepercayaan orang Jepang terhadap pekerja atau pelajar dari bangsa Indonesia. Dengan banyak pertimbangan seperti ini maka memang kita yang akan banyak mengalah. Tetapi mengalah tidak selalu berarti kalah, hanya masalah waktu saja kita akan sampai pada kemenangan.

Saya selalu berkeyakinan bahwa orang lain tidak bisa menerima pendapat kita karena dia tidak sama dengan cara berfikir kita. Karenanya langkah terbaik yang mesti ditempuh adalah memberikan pemahaman, pengertian, dan tentu saja solusi dari setiap resiko yang akan terjadi. Misalnya kalau kita tidak masuk maka beban pekerjaan kita akan terganggu. Jika dapat ditanggulangi cepat maka bereskanlah load pekerjaan lebih awal atau jika pekerjaan sudah rutin, sediakan waktu tambahan untuk menggantikan teman yang telah membantu kita atau usulkan apa saja kegiatan yang bisa kita lakukan sebagai kompensasinya.

Tentu saja semuanya membutuhkan proses. Tetapi hati dan pikiran manusia tidak pernah selalu keras dan membatu. Dia sama saja dengan batu yang akan cekung kalau dilawan oleh air yang menetes setiap hari. Tembok juga demikian, suatu saat akan rubuh jika diterjang air terus menerus.

Maka demikianlah kita berlaku di negeri Jepang. Berusaha agar tetap dapat menjalankan syariah agama kita dan berusaha memberikan pemahaman baru kepada orang Jepang melalui sikap dan perilaku yang santun.

Iklan
  1. Saking mandirinya sampai tak mau ditolong ya Bu. Ternyata hidup di negeri orang harus benar-benar prihatin sampai susah untuk sholat Idul fitri dan ibadah lain, semoga sukses Bu Murni studinya di Jepang!

  2. weeww..terus berjuang demi agama Allah,bu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: