murniramli

Manajemen Partisipatif Bukan Sekedar Ikut

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Sekolah on September 14, 2010 at 12:16 am

Dari penamaannya saja semua orang tentunya dapat menebak bahwa manajemen partisipatif menekankan keterlibatan staf dalam pengambilan keputusan. Manajer yang tidak “showman”, dan selalu mengharapkan kooperasi dengan bawahannya, itulah yang cenderung dikategorikan menerapkan manajemen partisipatif, demikian secara gampangnya dapat disimpulkan.

Tidak semua manajer berkeinginan untuk memberi porsi tertentu kepada bawahannya dalam pengambilan keputusan. Ini dilatarbelakangi oleh sifat dan karakter manajer yang tentu saja terbentuk secara alami dan buatan. Secara alami bila dilihat dari segi genetisnya. Golongan darah dan kelahiran diduga menentukan kecenderungan karakter seseorang. Sementara secara buatan adalah bentukan pemahaman yang diperolehnya dari pendidikan yang ditempuhnya.

Saya melihat penerapan manajemen partisipatif di Jepang sangat kental. Dugaannya karena orang Jepang memiliki sifat homogen dan kurang menyukai orang-orang yang unggul sendirian. Mereka dikatakan memahami bahwa jiwa keselarasan yang diekspresikan dengan kanji 和 (wa) adalah jiwa yang harus diletakkan nomor satu dalam berhubungan dengan sesama manusia di manapun.

Dengan karakter selalu menjaga harmonisasi, keputusan dan konsensus diambil berdasarkan pembicaraan semua pihak, dan ada kecenderungan mereka terbiasa menghindari konflik.

Bahkan ada peribahasa sebagai berikut : 出る杭は打たれる(baca deru kui wa utareru), yang artinya “paku yang menonjol harus diketok”. Artinya, tidak sama dengan di negara kita yang senantiasa mendorong kemajuan dan perkembangan personal, masyarakat Jepang lebih suka mengembangkan kemajuan secara berkelompok. Orang yang unggul akan mengganggu keharmonisan.

Sifat demikian sangat mendukung terlaksananya manajemen partisipatif di perusahaan maupun di sekolah. Sistem organisasi sekolah Jepang umumnya terdiri atas kepala sekolah dan wakasek satu orang sebagai top manager. Lalu di bawahnya ada shounin no sensei atau PJ tugas-tugas pendukung kegiatan belajar, misalnya PJ kesiswaaan, PJ pengajaran, dll, sebagai middle manager-nya. Di level bawah, tentu saja ada guru-guru dan siswa. Orang tua dapat dianggap sebagai bagian luar dari sekolah dengan organisasi PTA-nya, sebab mereka tidak dapat setiap hari terlibat langsung dalam pengambilan keputusan di sekolah. Para siswa juga cenderung masih pasif dalam keikutsertaannya. Dan guru-guru terlibat dalam rapat dewan guru.

Karena sudah membudaya tindakan kooperasi dalam pengambilan keputusan, apakah berarti guru-guru di Jepang sangat aktif dalam pengambilan keputusan ? Ternyata tidak demikian adanya. Paham senioritas sangat kental juga, sehingga yunior kurang berani mengekspresikan diri. Akibatnya keputusan di sekolah Jepang didominasi oleh pemikiran kepala sekolah dan wakilnya.

Yang lebih mengherankan saya adalah penerapan manajemen partisipatif di kampus oleh senat mahasiswa di level fakultas. Setiap kali ada kebijakan yang hendak diterapkan, mereka menyebarkan kepada mahasiswa lembaran kertas berisi pilihan setuju atau tidak setuju dan tambahan kolom untuk menyampaikan uneg-uneg. Saya sudah beberapa kali menerima lembaran ini karena saya tidak terlibat di senat dan belum pernah menghadiri rapat senat.

Model partisipasi demikian dapat dikatakan pasif, karena tidak ada inisiatif langsung dari anggota untuk terlibat, tetapi anggota dipaksa untuk terlibat melalui pernyataan ya dan tidak. Dan belakangan keputusan yang diambil kadang-kadang mendatangkan kebingungan atau lebih tepatnya ketidakpedulian. Ini semata-mata karena kurangnya sosialisasi dan ajakan untuk melibatkan anggota secara aktif dalam pengambilan keputusan.

Memang agak susah menerapkannya di level senat jika mau melibatkan semua mahasiswa. Tetapi di level sekolah dengan melibatkan minimal semua guru saja, saya pikir tetap bisa dilakukan. Hanya saja kepala sekolah dan wakasek perlu lebih berkeringat dan menyediakan waktu untuk berbincang dengan masing-masing guru atau guru per mata pelajaran atau guru per tingkatan/level kelas.

Dapat pula membuka kotak saran dan mewajibkan guru untuk menyampaikan ide melalui kotak saran tsb. Ini cukup baik untuk guru-guru yang punya kecenderungan malas bicara atau malu menyampaikan pendapat.

Namun intinya, manajemen partisipatif tidak berarti sekedar ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Akan menjadi lebih baik jika masing-masing anggota mempunyai sense of problem/error dan sense of belonging. Jika sudah ada kepekaan seperti ini, maka kepala sekolah tidak perlu berkeringat lagi menanyai satu per satu guru, tetapi guru terbiasa secara mandiri menyampaikan ide dan pendapatnya kepada kepala sekolah.

Ini tidak mudah tercapai. Perlu peranan besar top manajer di tahap-tahap awal. Sayangnya kadang-kadang pekerjaan kepala sekolah untuk mengajak stafnya lebih aktif belum tuntas dikerjakan, dia sudah harus mengikuti tradisi pindah sekolah. Masa kerja yang terbatas adalah satu hal yang turut menghambat penerapan management partisipatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: