murniramli

Tidak melarang improvisasi

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Sekolah, Penelitian Pendidikan, Serba-Serbi Jepang on September 17, 2010 at 3:24 pm

Saya tidak tahu apakah setiap orang memiliki kesadaran yang sama dengan yang saya alami ketika usia semakin mendekati empat puluh tahun. Ketika menyadari semakin berkurang masa tinggalnya di dunia,manusia biasanya menjadi semakin bijak dalam pikiran, tindakan dan perkataan. Katanya orang tua cenderung bijak, tapi saya belum tua🙂

Bertambahnya umur membuat pemikiran dan pendapat seseorang yang semula selancip pensil yang baru dilancipkan menjadi seumpama pensil yang tumpul dan membulat ujungnya karena seringnya dipakai. Bertambahnya umur menurut saya juga identik dengan kerelaan seseorang menerima dan mendukung improvisasi dalam bisnis yang ditanganinya.

Menurut teman Jepang saya, ini tidak berlaku di Jepang. Improvisasi dan inovasi tetap saja tidak atau sulit dilakukan sekalipun pemegang kendali kebijakan dalam bisnis usaha atau pemerintahan semakin bertambah umurnya.

Katanya orang muda lebih banyak dan lebih mudah untuk berimprovisasi ketimbang yang tua. Namun kepekaan dan naluri berimprovisasi akan luntur jika orang-orang muda selalu dilarang dan dikekang dengan memenjarakannya dalam peraturan yang sangat ketat.

Memang serba salah, di saat peraturan dilonggarkan, ada pihak yang kendor kedisiplinannya. Dan saat peraturan diketatkan, maka pelanggaran mungkin saja tidak ada, tetapi stress dan keinginan untuk melanggar barangkali muncul juga, dan tentunya improvisasi tidak akan bisa berkembang.

Jadi, seorang pemimpin, manager, kepala sekolah dan pimpinan apa saja mesti pandai-pandai mengetatkan dan mengendorkan peraturan tetapi bukan dengan ketidaktegasan. Barangkali sulit dipahami, dan apalagi diterapkan, tetapi saya ingin memberikan contoh kasus yang saya alami di tempat bekerja.

Di kursus perawat yang saya menjadi penerjemah di dalamnya, semua peserta belajar bahasa Jepang dan budaya Jepang setiap hari. Kerutinan biasanya membawa kebosanan jika tak ada selingan dan improvisasi di dalamnya. Maka peserta pun demikian. Mulai muncul kebosanan dan merasa terpenjara di tempat pelatihan yang jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk tersebut. Sekalipun boleh keluar, tetapi PR yang banyak dan jalan yang harus ditempuh sekitar 20 menit jalan kaki untuk sampai pada supermarket terdekat, maka banyak perserta yang tidak keluar asrama.

Baru-baru ini seorang peserta menyatakan keinginannya untuk berkunjung ke rumah jompo yang ada di dekat asrama.Alasannya sederhana, ingin berbicara dengan para lansia di sana sekaligus melatih bahasa Jepangnya. Saya sekalipun hanya sebagai penerjemah dan tidak berhak menyetujui atau menolak ide tersebut, dalam hati sebenarnya sangat mendukung. Tetapi seperti lazimnya orang Jepang mereka tidak gampang menerima usulan tersebut. Pertama karena tidak biasa di Jepang melakukan kunjungan mendadak, kedua perlu ditegaskan berapa orang yang akan berkunjung dan jam berapa mereka akan berkunjung, bahkan perlu melaporkan apa kira-kira isi pertanyaan atau perbincangan yang akan mereka lakukan.

Penanggung jawab kegiatan sebenarnya ada dua orang, senior dan yunior. PJ senior tidak menampakkan itikad mendukung usulan tersebut karena tidak terskedul dalam program barangkali, sementara PJ yunior cenderung setuju dan bersedia meneleponkan pihak panti jompo untuk menanyakan kebolehan berkunjung. Saya berterima kasih sambil membungkuk mewakili perawat sebagai ungkapan terima kasih.Saya yakin sesudahnya akan muncul lagi ide-ide untuk maju dan memperbaiki diri di kalangan peserta pelatihan.

Sekarang mengapa improvisasi hanya muncul di kalangan tertentu saja ? Mengapa tidak semua peserta mempunyai sense of improvisation ? Saya kira karena tidak semua orang menyukai ketidakmapanan dan lebih menyukai rutinitas yang terpola.

Tetapi berdasarkan kajian karakter manusia, dikatakan bahwa golongan darah dan bulan kelahiran mempengaruhi karakter tersebut di atas. Entahlah, tapi berdasarkan itu saya divonis sebagai orang kaya ide dan tukang protes🙂

Banyak orang tidak berani berimprovisasi karena lebih cenderung memikirkan keselamatan diri. Tidak berani menanggung resiko dan memilih yang aman-aman saja. Orang-orang seperti ini kurang tepat ditempatkan sebagai penggerak R&D, dan mungkin juga bukan pemimpin yang baik.

Dalam kajian manajemen pendidikan perbincangan lebih banyak terarah pada mekanisme kerja top dan middle management (kepsek dan wakasek).Namun, menurut saya sudah saatnya kita bergeser dari masalah mekanisme dan mulai mendorong organizational learning behavior, melalui pembinaan guru. Salah satunya menyusun pola-pola pelatihan yang mentrigger daya improvisasi guru, dengan kesengajaan menciptakan masalah atau kondisi tertekan. Dan sudah saatnya dikatakan kepada kepala sekolah untuk berhenti bersifat kaku, dan membuka pintu lebar-lebar bagi stafnya yang gemar berimprovisasi tanpa meninggalkan norma atau prinsip dasar organisasi.

  1. saya justru paling suka improvisasi. tanpa melakukan perubahan apapun dan menurut rutinitas. sama saja sudah mati. apa bedanya mati 50 tahun kemudian dan mati sekarang klo udah ga ada2 apapun dalam hidupnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: