murniramli

Agar Target Mudah Dievaluasi

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Organizational Learning, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on September 20, 2010 at 4:13 pm

Ada dua kata utama yang mesti dimiliki oleh orang-orang yang menyenangi kemajuan dan keberhasilan, yaitu sasaran dan evaluasi. Dua kata ini yang saya perkenalkan kepada mahasiswa hari ini. Para mahasiswa sudah belajar 1,5 tahun bahasa Indonesia tetapi mereka belum dapat berbicara lancar dan bahkan kesulitan menyusun kalimat.

Saya kemudian menanyakan di bagian mana yang mereka rasakan/pikirkan sangat sulit atau sebel mempelajarinya. Beberapa menjawab kosa kata, tata bahasa, kata kerja dan pengucapan. Saya kemudian mengejar mereka bagaimana selama ini mereka menghafalkan kosa kata,atau bagaimana belajar tata bahasa. Dan dari situ saya menyimpulkan bahwa mahasiswa saya kurang serius mempersiapkan diri dan kurang termotivasi untuk menguasai bahasa Indonesia.

Supaya belajar atau bekerja menjadi menyenangkan, pelaku harus menciptakan atmosfer penyemangat. Salah satunya adalah menetapkan target atau sasaran. Dengan adanya target, tujuan yang ingin dicapai bukankah kita lebih bersemangat mengejarnya ? Namun target yang dibuat haruslah target yang masuk akal bukan yang muluk-muluk agar evaluasi mudah dilakukan.

Misalnya bagi saya yang datang dari keluarga berpenghasilan pas untuk hidup sehari-hari dan sekolah, adalah terlalu muluk jika saya menargetkan naik haji pada usia 25 tahun. Sebab itu artinya saya harus bekerja sejak SMA atau paling lambat sejak lulus kuliah (usia 23 tahun) dengan gaji jutaan per bulannya, supaya terkumpul uang keberangkatan haji dalam masa kerja hanya dua tahunan. Ini mustahil. Akan lebih lumrah jika saya menargetkan naik haji sebelum berusia 35 tahun misalnya.

Demikian halnya bagi pembelajar bahasa, harus dapat menyusun target harian, misalnya berapa kosa kata yang harus dikuasainya, dalam arti dimengerti arti dan pemakaiannya. Berapa ungkapan yang harus dihafalkannya sehari. Lalu target/sasaran yang sudah ditetapkan setiap harinya harus dapat dievaluasi dalam masa seminggu atau sebulan.

Tidak hanya menetapkan target yang mudah dievaluasi, tetapi juga harus dapat terbayang langkah-langkah menyukseskan target.Supaya bisa menguasai 5 kosa kata sehari misalnya, seseorang harus meluangkan waktu minimal setengah jam untuk memahami dan mengulang pemakaian, menuliskan kosa kata di notes atau menuliskan di tempat-tempat yang mudah terlihat.

Target juga kurang dapat dievaluasi jika sifatnya terlalu umum. Misalnya target dalam sebulan dapat berbicara dengan orang Indonesia. Ini sulit dievaluasi, sebab boleh jadi saya bisa berbicara sebatas sapaan harian, tetapi saya belum mampu melakukan percakapan di restoran misalnya. Akan menjadi realistis jika misalnya dapat menguasai percakapan di restoran, di kantor pos, dan di tempat menukar uang.

Pembatasan dengan angka atau level akan lebih memperjelas target. Misalnya penggunaan angka 50% mengerti pembicaraan, 30 % dapat menulis, dll. Kalau menggunakan buku pegangan, maka penunjukkan halaman, misalnya menguasai kosa kata hingga halaman 10, misalnya akan lebih memudahkan proses evaluasi.

Dalam kursus perawat yang lalu juga saya mendapati kesulitan peserta untuk menuliskan target yang mudah dievaluasi. Kebanyakan menulis dalam target di bulan september adalah menguasai kanji 300 dalam pelajaran bahasa Jepang, dapat bercakap dengan orang Jepang, benar menggunakan tata bahasa, dll. Kesemuanya sulit dievaluasi. Akan lebih baik jika pada setiap target tersebut dicantumkan level pencapaian yng diinginkan seperti saya uraikan di atas.

Hal yang sama juga perlu diterapkan dalam organisasi. Pimpinan perlu menetapkan target dalam bentuk kuantitatif  dan bukan kualitatif karena evaluasi pernyataan kualitatif cukup sulit dilakukan kecuali jika sudah ada pembakuan yang dapat diterjemahkan dalam bentuk angka.

Kata “bagus”, “bisa”, “besar” adalah kata-kata yang kualitatif dan subjektif. Bagi bawahan sesuatu adalah bagus, tetapi bagi atasan barangkali itu tidak bagus. Kebagusan pun memiliki derajat yang berbeda. Lumayan atau agak bagus juga termasuk bagus dalam makna positif. Tetapi kurang bagus adalah pemaknaan negatif. Jika derajat kebagusan dapat didefinisikan dalam bentuk angka dengan rentang 1-5 misalnya, tentu akan lebih mudah mengevaluasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: