murniramli

Mental untuk Tidak Menjadi Rusak di Negeri Orang

In Islamologi, Renungan, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on September 23, 2010 at 10:17 pm

Kalau ditanyakan bekal untuk pergi berguru ke negeri orang, maka jawaban pertama yang akan diberikan adalah bekal dana, setelah itu bekal ilmu, rasa percaya diri, dan terakhir adalah mental. Bekal mental menurut saya identik dengan gemblengan dan kepercayaan agama yang kuat.

Ada dua resiko yang akan didapati oleh orang yang belajar atau bekerja di negeri orang, pertama dia dapat memperoleh manfaat dan kedua dia dapat pula menjadi rusak kepribadian. Tentu saja manfaat dan kerusakan memiliki definisi yang berbeda bagi setiap orang. Sebab kadang kala manfaat bagi seseorang tetapi adalah kerusakan/kerugian bagi yang lainnya.

Banyak sudah saya menyaksikan orang Indonesia yang datang ke Jepang yang gagal menjadi baik dan mengambil manfaat perilaku baik orang Jepang, tetapi justru meniru perilaku yang kurang sesuai dengan tuntunan agama. Saya tidak bisa menilai bagaimana kehidupan di Indonesia yang dilaluinya dulu. Boleh jadi mungkin orang tersebut memang seperti itu adanya, kurang pemahaman agamanya dan atau menyukai kehidupan yang membolehkan apa saja.

Beberapa waktu belakangan ini saya menemui gadis-gadis dengan sikap yang menurut saya kurang terdidik. Saya mendefinisikan terdidik bukan dari tingginya pendidikan akademik yang pernah ditempuhnya, tetapi dalamnya didikan perilaku/norma/sikap/agama yang dipunyainya. Sebab sekalipun gelar doktor telah diraihnya, masih banyak juga orang yang tidak berlaku santun sejalan dengan gelarnya sesungguhnya.

Entahlah saya yang berfikiran jumud sebab masih beranggapan bahwa perempuan seharusnya seperti putrinya Nabi Syu’aib yang ditolong oleh Nabi Musa, mereka berjalan malu dan menutupi wajahnya di belakang Nabi Musa yang mengangkatkan kendi airnya. Dan sikap ini yang saya lihat dan pahami dari nenek dan mamak saya, yang senantiasa berjalan di belakang bapak. Dan demikian pula yang banyak saya amati terhadap wanita Jepang. Sekalipun teknologi telah merajai negerinya, mereka tetaplah perempuan yang sangat santun dan anggun dalam kimononya. Mereka tetaplah pemalu dalam busana sehari-harinya. Memang generasi mudanya telah berubah banyak, tetapi mereka tetap memegang tradisi malu dan disiplin.

Karenanya saya tidak tahu apakah gadis-gadis Indonesia itu menyadari bahwa muka saya merona merah tatkala mereka dengan santainya menggoda seorang laki-laki dewasa Jepang. Saya tak berani mengangkat muka dan segera menutupi telinga dengan iPod. Inginnya agar saya tak mengerti bahasa Jepang yang mereka ucapkan.

Apakah mereka tidak pernah diajarkan oleh ayah ibunya tentang perlunya seorang wanita menjaga kemaluan dan kehormatannya ? Barangkali ayah ibunya telah berpesan banyak hal kepada si gadis, tetapi dia melupakannya karena setan lebih kuat godaannya.

Sedihnya saya, karena dia berjilbab.

Pergi ke negeri orang selalunya menimbulkan shock budaya. Bukan hal-hal yang sepele yang berbeda antara budaya dan kebiasaan kita, tetapi hal-hal yang prinsip. Banyak yang semula berpakaian sopan, menjadi tidak sopan karena dikiranya dia tidak akan dianggap jika tak berpakaian ala harajuku yang lebih terbuka auratnya. Banyak yang tak pernah minum alkohol, berlagak menjadi orang Jepang dengan menenggak sake yang sebenarnya orang Jepang tak memaksa mereka meminumnya. Ada yang datang dengan berkerudung, pulang dengan tanpa hijab lagi di kepalanya.

Semuanya karena lemahnya mental.  Mental yang harus dimiliki oleh sesiapa saja yang akan mendatangi negeri lain adalah mental untuk menjadi orang yang lebih baik dan beradab. Mental untuk tidak menjadi rusak, itulah yang terpenting. Dan itu semua kembali pada didikan agama di rumah oleh orang tua, sebab bukan di sekolah sikap dan perilaku kita terasah, melainkan pada lingkungan yang lebih banyak kita menghabiskan waktu di dalamnya, keluarga.

  1. Aku bersyukur aku masih dpelihara oleh Allah saat pergi kesana, walaupun hidup juga proses…yaa…Aku kagum masih banyak gadis Jepang yang selalu menjaga sopan santun, dan mereka sangat menghindari berbohong.

  2. Lingkungan memang salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang, walaupun itu bukan seseatu yang dia inginkan, akan tetapi naluri seseorang untuk tidak merasa asing dengan orang – orang disekitarnya,memaksanya untuk mencoba bersahabat dengan lingkungan tersebut, sedikit banyak perubahan itu akan terjadi dan tanpa di sadari,, Aku kandang berfikir kenapa Ada beberapa Para Ulama ada yang bersiakap keras untuk melarang seorang muslim tinggal di negeri yang tidak menhormatii Akhlak dan Tata karama “Islami”,,Mungkin itu timbul dari bentuk kekhawatiran akan Syakhshiyah seorang muslim yang begitu berharga dan mulia yang harus di jaga agar tidak ternodai…Wallahu A’lam..

  3. Aslkm,
    nice blog…..
    Salam kenal…..
    Wah senengnya bu tinbggal dijepang……
    Saya juga pengen ke sana….
    alamat email yg ibu cantumin msih aktif kan bu?
    Saya ingin berdiskusi dengan ibu…..
    Boleh tidak?

  4. @Xioni : masih aktif, silakan, akan saya jawab jk tdk sedang sibuk, dan bisa saya jawab pertanyaannya.
    ttg diskusi, mohon maaf saya tdk mengaktifkan YM krn sangat sibuk. Jadi maaf, diskusi mungkin kurang bisa berjalan baik, kecuali model tanya jawab saja via email. Silakan tanya dan akan coba saya jawab sebisanya.

  5. mungkin saya belum dikasih kesempatan untuk belajar ke luar karena menurut Allah (salah satunya) saya belum siap mental,,
    kok saya jadi ikutan malu y, denger cerita ibu…>,<

  6. Luar biasa bu. Sebuah perenungan yang sangat berkesan bagi saya. terima kasih. Semoga dimanapun kita berada, berpegang teguh pada dien itulah yang terpenting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: