murniramli

Nobel dan Kecintaan Meneliti

In Pendidikan Jepang, Renungan, Sains on Oktober 7, 2010 at 10:32 pm

Dua orang ilmuwan Jepang kembali mendapatkan penghargaan Nobel di bidang Kimia bersama dengan seorang peneliti Amerika, Richard F. Heck dengan penelitian mereka tentang palladium-catalyzed cross couplings in organic synthesis”. Kedua peneliti Jepang tersebut adalah Bapak Eiichi Negishi dan Bapak Akira Suzuki. Keduanya masing-masing kelahiran tahun 1935 dan 1930.

Seperti pernah saya tuliskan dalam blog ini tentang pemenang Nobel tahuhn 2009 yang berasal dari universitas tempat saya belajar, Nagoya University, kebanyakan dari pemenang adalah orang-orang yang lahir sebelum atau berdekatan dengan usainya PD II. Saya melihat fase tersebut melahirkan generasi yang mungkin tidak sebrilian anak-anak sekarang, tetapi generasi yang mempunyai semangat kebangkitan dan semangat belajar yang tinggi.Keterbatasan uang, tekanan perang, keterbatasan waktu telah membuat mereka mempunyai mimpi yang sangat kuat tertanam di kepala untuk menjadi golongan yang sepandai orang-orang yang mengalahkan bangsa mereka.

Dalam situsnya di Universitas Purdue tempatnya mengajar, Prof Nigishi telah mempublikasikan kurang lebih 400 jurnal dan menyampaikan paparan akademik yang tak terhitung. Adapun Prof Suzuki mengagumkan sekali karena dalam usianya yang 80 tahun beliau masih sangat sehat dan saat diwawancarai TV Jepang dua hari lalu saat pengumuman kemenangannya, beliau menjelaskan konsep kecintaannya pada penelitian. Sekalipun telah memasuki usia pensiun, beliau tidak berhenti meneruskan penelitian di bidang ini, dan dalam masa pensiunnya beliau tetap mengajar di beberapa universitas swasta di Jepang. Dalam sebuah paparan data pribadi beliau di layar TV disebutkan beliau sangat menggemari Ninomiya Kintaro, anak dari keluarga miskin yang mempunyai semangat belajar tinggi dan digambarkan senantiasa membaca buku saat berjalan memikul kayu (Saya menuliskan ttg Ninomiya Kintaro dan diterbitkan dalam Majalah Basis No.07-08 tahun ke-59, 2010, pp.49-50).

Saya lebih cenderung mengidentikkan penghargaan Nobel dengan kecintaan meneliti, ketimbang sebuah prestasi yang dihargai dunia, apalagi sebuah jor-joran untuk mengangkat derajat bangsa. Disebutkan dalam berita bahwa dalam periode 10 tahunan belakangan ini, ada 10 ilmuwan Jepang yang telah meraih penghargaan Nobel. Sebuah prestasi yang membanggakan orang Jepang tentunya, tetapi jika dilihat dari usia para peraih Nobel tersebut, maka kita tak dapat pungkiri bahwa mereka adalah orang-orang yang menghabiskan hidupnya dengan kecintaan bekerja sebagai peneliti dan ilmuwan.

Dulu pernah ada seseorang memosting di milis kegembiraannya bergabung dengan sebuah lab. peraih Nobel di USA, dan teman-teman menyelamatinya bahwa dia akan segera kecipratan meraih Nobel. Saya yakin seseorang tersebut adalah orang yang ulet dan gemar meneliti tentunya, namun keikutsertaan tersebut tidak ada artinya jika hanya mendompleng nama professor dan tidak ada usaha dari si mahasiswa.

Atau di tanah air, Kemendiknas merencanakan beberapa puluh tahun ke depan akan lahir nobelist dari Indonesia melalui proyek pencerdasan anak-anak yang memang dasarnya sudah brilian. Barangkali track menjadi nobelist sudah mengalami alterasi dari sebuah usaha keras nan panjang, menjadi sebuah usaha terprogram yang boleh dikata instan.

Instan selalu tergambarkan dalam benak saya sebagai sesuatu yang kurang baik. Sebagaimana mie yang saya nikmati kemarin, mengenyangkan sesaat tetapi menimbulkan bau sendawa yang kurang sedap dan perut yang melilit pada akhirnya.

Anak-anak brilian itu saking briliannya mereka sudah dapat mengerjakan soal-soal doktoral dalam usianya yang masih belia. Sebenarnya ingin sekali tahu, bagaimana perasaan mereka berhasil sepesat itu dalam usia muda, atau bagaimana perasaan mereka melewati masa muda dengan “gemblengan keras” untuk menjadi juara ?

Hampir semua peraih Nobel dari Jepang melewati masa kanak yang cukup tertekan pada masa perang. Saya kurang bisa menyimpulkan apakah mereka juga anak brilian pada masa kecilnya, namun terlepas dari definisi kata brilian, mereka adalah orang-orang yang lebih kuat “sense belajar” nya ketimbang orang kebanyakan.

Saya ingin menegaskan bahwa perolehan yang mereka raih dan kecintaan meneliti adalah sesuatu yang lahir secara alami. Saya yakin mereka tidak merencanakan dari awal untuk memperoleh penghargaan Nobel, tetapi pastilah mereka tak peduli dengan hal itu, selain terus mengembangkan apa yang ingin diketahuinya, apa yang ingin dibuktikannya melalui riset mendalam yang mereka lakukan. Dan karenanya studi mereka tidak putus dengan hanya sebuah penghargaan Nobel saja, tetapi akan terus berlanjut hingga mereka tak sanggup lagi meneliti.

Negara Jepang dalam hal ini memang mempunyai “maksud” untuk memperbanyak ilmuwan mereka yang memperoleh Nobel, dan ini bisa dilihat dengan dana riset yang melimpah yang disediakan untuk para peneliti. Dan sekalipun jaman sudah berubah sangat pesat dengan kebebasan berfikir yang sangat tak bisa dibatasi lagi, para ilmuwan/professor tersebut tetap  dipanggil dengan kata keramat “Sensei”, dan kebanyakan orang Jepang masih menganggap kedudukan mereka sama seperti jaman perang dulu : setingkat di bawah kaisar.

Selain para peraih Nobel tersebut, masih banyak di dunia ini ilmuwan sejati yang menghabiskan waktunya menemukan sesuatu yang berharga untuk umat manusia. Sayangnya Nobel memiliki keterbatasan kuantitas, sehingga tak bisa mengcover dan mengkategorikan para ilmuwan tersebut sebagai yang patut dihargai. Tetapi, alam dan isinya membungkuk dalam kepada mereka yang telah menciptakan sebuah kesejahteraan baru dan kearifan baru dalam perjalanan hidup manusia.

  1. saya suka tulisan anda, tampaknya anda juga seorang peneliti yg tinggal di negri sakura. dan memang menurut saya, di Indonesia kecintaan thdp penelitian masih sangat minim. bangsa ini kurang mencintai pendidikan karena lbh suka pragmatis hedonis; ke mall, lulus kuliah,dapet kerja, uang banya, eksis di banyak komunitas dan seterusnya. padahal penelitian sangat berpengaruh pada peradaban umat manusia, ealopun efeknya memang akan terasa lama,bisa berpuluh dan beratus tahun. dan saya juga sepakat dengan anda bahwa mereka yg memperoleh nobel sesungguhnya pasti tdk menghiraukan arti nobel itu semata-mata. nobel hanyalah sebuah simbol bahwa para peraih nobel itu sangat mencintai ilmu pengetahuan sekecil apapun itu. saya juga sedang sangat berharap bisa mencintai ilmu dgn lebih baik. salam🙂

  2. Saya pernah nonton film anak2 dimana ada seorang guru di kelas yang mengatakan, “belajar itu perjalanan, bukan akhir.” Jadi belajar harusnya tidak dipandang sebagai kewajiban/sesuatu yang final melainkan proses. Sayangnya, banyak orang yang justru menertawakan orang yang suka belajar; dibilang geeky-lah, nerdy, kutu buku (konotasi negatif), nggak gaul, dsb. Padahal ujung-ujungnya, justru hasil dari belajar itu nampak dari cara bersikap serta pola berpikirnya. Tulisan yang bagus !

  3. saya sering mengulang-ulang kepada anak-anak saya, “Belajar adalah kebutuhan hidup dan konsekuensi hidup. Dan hidup itu dua kali, di dunia dan di akhirat. Maka yang dipelajari juga untuk kebutuhan di dua kehidupan itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: