murniramli

Kebijakan tanpa observasi mendalam dan empati

In Manajemen Pendidikan, Organizational Learning on Oktober 16, 2010 at 4:09 am

Banyak kebijakan di tangan pemimpin atau manager yang lahir hanya dari meja diskusi dan debat. Ada juga melalui analisa hasil survey yang dilakukan oleh orang lain. Dan hanya sedikit kebijakan yang lahir di lapangan dari observasi langsung pada kenyataan yang berlaku.

Dalam pola manajemen modern, pengambilan keputusan umumnya tercetus di ruang rapat setelah debat panjang pihak-pihak yang berkepentingan. Lahirnya kebijakan tersebut biasanya bukan dari sebuah hasil pengamatan yang mendalam terhadap fakta, tetapi asalkan “lahir” saja atau “perlu” kebijakan baru saja untuk menegaskan eksistensi pejabat baru.

Tak banyak pemimpin yang melahirkan kebijakan baru berdasarkan pemantauan mendalam. Oleh karenanya kebijakan baru biasanya tidak bisa memecahkan permasalahan yang muncul. Sistem pelaporan saja yang menjadi andalan para pejabat, menyebabkan banyaknya fakta di lapangan yang tidak tercover. Protokoler yang ketat menyebabkan banyak pejabat tidak berkesempatan melihat kenyataan di lapangan.

Sebagai contoh, banyak fakta pendidikan di daerah yang sangat sederhana. Ketika menyempatkan pulang ke Indonesia di tahun 2008, saya mengunjungi sekolah saya yang ada di pelosok kota Bogor. Dalam perjalanan pulang dari sekolah, saya dapati banyak anak SD yang berjalan kaki dan membutuhkan waktu satu jam atau lebih untuk sampai di sekolah. Kampung tersebut bukan termasuk yang miskin sekali, sebab jalan aspal sudah tersedia yang merupakan ring road menuju kampus IPB Darmaga, dan juga mestinya sebuah lembaga penelitian kehutanan yang ada di tengah kampung. Angkot juga sudah banyak. Permasalahannya si anak tidak dibekali uang oleh orang tuanya untuk naik angkot. Dan itu karena ayah ibunya pun tentunya tidak punya cukup uang.

Dengan fakta di atas, semestinya pemegang kebijakan dapat memutuskan untuk membangun sekolah yang lokasinya lebih dekat dengan rumah penduduk dan menerapkan sistem rayonisasi sekolah, yaitu siswa hanya boleh bersekolah di kelurahan tempat tinggalnya.

Belakangan ini di dalam koran dan internet ramai dibicarakan tentang Bapak Bupati Kab. Sarmi di Papua sebagai bupati yang terpuji dengan tindakannya yang merakyat. Saya membaca salah satu tulisan tentang beliau di salah satu koran nasional. Salut atas kerendahan hati dan kecerdasan beliau membawakan sabun kepada rakyatnya, karena beliau meyakini dengan hidup bersih, kebiasaan baik akan muncul dari rakyatnya. Sebuah pemikiran yang amat sederhana.

Kebijakan tidak saja bisa lahir hanya dengan pengamatan kondisi nyata di lapang, tetapi hanya akan bisa terwujud jika ada empati dari pemegang kebijakan. Sebab boleh jadi setiap hari seorang pemimpin melihat sampah menumpuk di sepanjang jalan menuju perumahan dinasnya, tetapi sama sekali tidak tersentuh untuk menyelesaikannya. Kondisi keterbiasaan dengan sesuatu menyulitkan seseorang untuk menyadari bahwa hal tersebut adalah masalah yang harus diselesaikan.

Ketika mendengar ada warganya yang tidak makan karena tidak ada bahan makanan di rumahnya, khalifah Umar Bin Khattab mau bercucur keringat memikulkan sekarung gandum dan membawanya langsung ke rumah rakyatnya. Tentulah karena beliau berempati penuh akan perut lapar rakyatnya. Umar menemukan permasalahan rakyat dan menyelesaikannya secara gampang, tetapi langsung mengena. Dia tidak memerlukan diskusi dengan pejabat negara yang lain. Dia tidak perlu masukan dari bawahannya, sebab dia melihat sendiri faktanya.

Kebijakan persekolahan saya kira sama saja. Jika orang-orang di kementrian atau di dinas tidak turun langsung mengamati bagaimana guru mengajar di kelas, bagaimana keseharian kepala sekolah, bagaimana susahnya kehidupan guru sehari-hari, maka sulit diharapkan lahirnya kebijakan yang akan memecahkan persoalan pendidikan kita.

 

 

 

  1. Memang terkadang kebijakaan – kebijkaan baru justru malah memperpanjang masalah, bukan menuntaskan…
    mau mendengar dan saling memberi masukan saya kira bisa menghasilkan kebijakan yang jitu….
    Wallu Alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: