murniramli

Masakan terlezat dan kasih sayang ibu

In Renungan on November 5, 2010 at 11:35 pm

Masakan terlezat di dunia menurut saya adalah masakan mamak. Saya termasuk pemamah biak yang tidak pilah pilih makanan dan gampang sekali beradaptasi dengan makanan baru. Tetapi sampai sekarang belum ada masakan yang melebihi kelezatan masakan mamak saya.

Kalau hendak pulang berlibur ke Indonesia semua teman-teman sudah merencanakan acara kuliner mencicipi semua jenis makanan Indonesia yang sangat jarang dijumpai di Jepang. Bahkan mereka kadang sudah melist daftar makanan yang harus dimakan per harinya. Saya tak pernah sempat menyusun list tersebut karena biasanya saya pulang sebentar dan itupun berkeliling beberapa kota. Jadi, kebanyakan hanya makan sebagaimana yang disiapkan tuan rumah. Saya pun termasuk orang yang tidak betah makan di restoran.

Alhasil jika pulang yang paling saya rindukan adalah masakan mamak saya. Apa saja yang dimasak mamak selalunya enak. Baru-baru ini saya pulang sebentar dan mamak menyajikan ikan bakar khas Bone, ditambah sambal cabe belimbing wuluh. Rasanya saya tidak bisa berhenti makan.

Jika pulang agak lama, mamak pasti akan memasakkan baje utti (kolak pisang kental), atau sarikaya tello (kue yang dibuat dari telur dan gula saja), atau ikan asam kuning, masakan khas orang Bugis. Karena saya penggemar gula merah dan makanan yang kecut-kecut, maka jenis-jenis makanan seperti itu yang biasa disiapkan mamak.

Sewaktu almarhum bapak masih memelihara ikan lele, pecek lele adalah makanan wajib yang selalu keluar baik ketika makan siang maupun malam. Selain pecek lele, pecek terong mamak juga tidak ada bandingannya.

Saya hanya pulang dua harian di Madiun minggu lalu. Itupun tidak bisa keluar-keluar rumah selain hanya mengunjungi makam bapak saja, sebab badan saya sudah remuk, kecapekan mengunjungi beberapa kota beberapa hari sebelumnya. Saya terserang demam yang tidak terlalu tinggi, tetapi diikuti oleh flu yang mengganggu hingga saya terbang kembali ke Jepang.

Karena hanya pulang dua harian dan dalam keadaan sakit, saya tidak terlalu cerewet meminta masakan kesukaan kepada mamak. Yang penting bisa makan banyak dan bergizi. Jadilah saya melahap sayur bayam yang dikukus, atau wortel kukus, ikan bakar, tempe goreng saja. Tetapi itu sudah menyenangkan sekali.

Ketika hari kepulangan tiba, badan saya kembali menghangat, jadi sebelum naik kereta jam 9.30 malam ke Jakarta, sepanjang hari saya tiduran saja. Masih terdengar sayup-sayup suara kocokan telur dan blender di dapur. Pasti mamak sedang membuat kue. Ketika bangun, sudah ada senampan besar kue-kue bolu kecil makanan masa kecil saya, yang terbuat dari tepung beras dan gula merah. Memakan dua potong kue saja sudah mengenyangkan.

Kue-kue itu dibungkus mamak dengan plastik setelah dingin. Kira-kira ada 3 plastik masing-masing berisi 10 buah kue. Sisanya yang tidak dibungkus lambat laun habis disantap oleh adik-adik. Mamak sendiri hanya makan satu potong barangkali, seperti biasa.Kue-kue yang terbungkus plastik adalah untuk bekal dan oleh-oleh saya. Tetapi karena bawaan saya sudah berat, saya cuma membawa satu bungkus. Mamak agak sedih sambil berkata, ini untuk mengingat mamak, nak ! Saya terharu sekali, maksud hati membawa lagi satu bungkus, tetapi karena kesibukan mengurus barang bawaan akhirnya terlupa.

Dalam perjalanan pulang ke Jepang, kue buatan mamak menjadi pengganjal perut saat menunggu transit pesawat, pun sampai sekarang menjadi pengganjal saat saya perlu berkejaran dengan kereta yang mengantarkan saya ke tempat kerja sementara saya belum sempat mengisi perut. Kue buatan mamak memang menjadi agak keras karena udara semakin dingin di Jepang, tetapi karena itu pula kue itu bertahan lama tanpa harus saya masukkan ke dalam kulkas. Masih ada 3-4 potong yang tersimpan dalam tas yang selalu saya bawa. Kalau tiba-tiba perut saya keroncongan selama bekerja, kue itu menjadi penyelamat.

Ketika saya mengatakan bahwa kemungkinan saya tidak diterima bekerja di Indonesia dan akan mencoba mencari peruntungan di Jepang, mamak kelihatan sedih, dan selalu mengulang-ulang, “jangan lupakan mamak ya, nak”. Saya tidak akan pernah lupa dengan mamak di manapun Allah menempatkan saya. Kasih sayangnya tidak pernah putus dan tidak pernah berkurang sedikitpun.

Bagi seorang ibu, makanan adalah pengikat kasih dengan anak-anaknya yang akan terkenang selamanya sampai sejauh apapun anak itu pergi, sampai ujung duniapun dia berjalan. Rasa masakan ibu tidak akan terlupa sekalipun lidah anak sudah terkontaminasi dengan ribuan makanan aneh. Sebab masakan ibu dilengkapi dengan bumbu yang tidak ada pada masakan yang lain, yaitu kasih sayang.

  1. Iya, mbak…Masakan ibu memang selalu nomor satu ya…
    Jadi kangen masakan rumah. Kata adek-adekku, kalau Mbak Lia lagi pulang ke rumah, mama pasti masak segala jenis masakan…hehe…

    Sayang ga jadi bawa satu plastik kue lagi ya, Mbak. Kalau jadi, mungkin Motoyama kebagian😀

  2. Assl wr wb, ga sengaja waktu mencari tulisan bu Anni Iwasaki aku menemukan blog ini. Ini Murni Ramli yang dulu sekolah di SMP 1 dan SMA 2 Madiun ya? Memang skrg tinggal di Jepang, kenapa sampai ga diterima kerja di Indonesia? Aku Nunik, masih ingat? Sekarang tinggal di Malang dan mengajar di UIN Maulana Malik Ibrahim.

  3. ya mbak murni,amak (minang) memang segala-galanya. masakannya saja tidak bisa kita lupakan, apalagi kasih sayangnya. beruntunglah mbak murni punya amak/ ibu yang sangat perhatian.

  4. betul mbak..setuju..
    aq jg sll merindukan masakan bundaku.bagiku masakan bundaku yg terlezat.d kala aq plg cuti k rmh,bundaku udh nyiapin masakan mangut kepala ikan manyung..makanan favoritku.itu sll teringat terus dlm jiwaku

  5. aslm, jangan pernah menyerah untuk kembali dan berkarya di Indonesia
    sampai bertemu …

  6. Siiip.,.emang tiada yg bs menandingi kelezatan masakan seorang ibu.,krna stiap masakan ibu selalu d bumbui kasih sayang&doa

  7. Siiip.,.emang tiada yg bs menandingi kelezatan masakan seorang ibu.,krna stiap masakan ibu selalu d bumbui kasih sayang&doa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: