murniramli

Petani Jepang dulu dan sekarang

In Serba-Serbi Jepang on November 29, 2010 at 5:26 pm

Jika dikatakan bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat yang tidak mengenal kasta atau strata, maka itu tidaklah benar seratus persen.Masyarakat Jepang saat ini memang tidak lagi tampak sebagai masyarakat berkasta dan cenderung lebih menunjukkan kehomogenan. Tetapi pada masa Edo, masyarakat Jepang menerapkan kasta-kasta.

Urutan kasta pada masa Edo adalah samurai, petani, tukang, dan pedagang, yang dalam ringkasan berbahasa Jepang dikenal sebagai shi nou kou shou, yaitu shi dari kata bushi (samurai), nou dari kata noumin (petani), kou dari kata kounin atau shokunin dan terakhir shou dari kata shounin (pedagang).

Petani menempati urutan kelas dua setelah para samurai, karena pada masa Edo, beras adalah makanan vital yang dengannya para petani menjadi orang kaya dibandingkan kasta lain. Semua kasta tergantung kepada mereka dengan produksi berasnya. Mereka dihargai para daimyo dan samurai karena produksi berasnya.

Status yang tinggi dan kedudukan sebagai orang kaya pada masa Edo sebenarnya terus berlanjut hingga saat ini. Para petani Jepang adalah kelompok masyarakat yang dari penampakan luar tampak miskin dengan pakaiannya yang bersahaja. Tetapi kalau kita perhatikan dengan baik, umumnya mereka mempunyai rumah besar, mobil lebih dari satu, mesin-mesin pertanian, dan lain-lain yang hanya bisa diupayakan dengan memiliki uang banyak tentunya.

Sekalipun dalam segi pendidikan, sebagaimana jaman Edo, banyak anak-anak petani yang tidak diperkenankan memasuki jenjang sekolah karena tradisi bertani yang berusaha dipertahankan ayahnya, dan juga karena sulitnya mereka masuk dalam lingkungan sekolah yang hanya disiapkan untuk para samurai dan kalangan atas.

Anak-anak petani sekarang ini banyak yang tidak lagi mempertahankan tradisi bertani dan memilih untuk pergi bersekolah menuntut ilmu yang sama atau berbeda dari ayahnya. Tak jarang banyak kegiatan bertani terputus setelah ayah dan ibu meninggal.

Petani di Jepang bersatu dalam Nougyou kyoudou kumiai (Japan Agriculture) yang sekaligus menjadi corong pemasaran produk pertanian di Jepang. Di luar dari pendapat yang mengatakan bahwa organisasi ini sangat memonopoli bisnis pertanian di Jepang, saya pikir JA telah berkembang sebagai lembaga untuk meningkatkan taraf dan prestisius petani di Jepang.

Baru-baru ini sekitar 3000 petani memprotes Trans Pacific Partnership (TPP) yang dianggap akan membuka trade lebih mengglobal dengan penerapan tarif global. Petani menganggap mereka adalah pihak yang “terbunuh” pelan-pelan dengan penerapan sistem ini, sekalipun pebisnis Jepang mendukungnya.

Saya pikir ada resiko dan keuntungan yang akan diperoleh. Para petani tampaknya lebih menyadari fakta bahwa Jepang adalah negara kecil yang harus berusaha keras menghasilkan produksi terbaik dan masyarakatnya perlu mengapresiasi produk ini dengan baik. Impor produk pertanian yang cukup besar akan menyebabkan harga produk domestik menurun untuk menyeimbangi harga-harga produk impor.

Tetapi di lain pihak, para pebisnis Jepang harus mengeluarkan dana besar jika menggunakan bahan mentah domestik. Jika sering memperhatikan label makanan Jepang, maka kita bisa membaca dari negara mana bahan dasar produk berasal. Jika tertulis 国産(kokusan) maka itu artinya makanan tersebut berasal dari dalam negeri. Dan coba perhatikan lebih lanjut bahwa harga produk dengan tulisan seperti itu lebih mahal jika dibandingkan dengan produk bertuliskan nama negara lain.

Baru-baru ini saya pergi ke Kisofukushima yang ada di wilayah Kaida Kougen, tempat ski yang terkenal di Nagano. Setiap pergi ke sana, saya selalu mampir ke toko suvenir yang banyak menjual produk pertanian setempat. Jika dilihat, harganya cukup mahal dibandingkan dengan apa yang biasa saya beli di supermarket di Nagoya. Tetapi herannya jualan mereka cukup laku, dan saya pun penggemar produk soba (baik mie soba maupun mochi soba). Saya pikir beberapa orang Jepang sangat fanatik dengan daerah asal. Misalnya soba yang enak adalah buatan Kisofukushima, apel yang terenak adalah apel Aomori, jeruk yang lezat adalah Jeruk Shizuoka, dll. Dan ini menjadi pengetahuan yang tersampaikan dari mulut ke mulut, sehingga kalau pergi jalan-jalan, dan hendak membeli oleh-oleh, produk daerah menjadi pilihan utama.

Sekarang, tinggal menunggu kebijaksanaan pemerintah untuk menghasilkan kebijakan yang tidak sampai melindas petaninya, tetapi sekaligus dapat memberi kesempatan kepada pebisnisnya untuk berkembang dengan misalnya memberikan keringanan biaya produksi.

 

  1. Reblogged this on tempat nulis enjang sugianto and commented:
    yang ini juga sangat bagus….mesti di re-blog maning….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: