murniramli

Di mana-mana antri

In Serba-Serbi Jepang on Desember 13, 2010 at 12:54 pm

Saya belum pernah mendengar ada masyarakat yang gemar mengantri selain orang-orang Jepang. Selama beberapa bulan terakhir ini selalu saja ada deretan panjang manusia mengantri di depan toko donut yang mendadak menjamur di daerah pertokoan stasiun Nagoya.

Mengantri untuk membeli produk baru iPad atau iPhone misalnya adalah hal yang wajar di dunia. Begitu juga antrian panjang menunggu serial baru Harry Potter. Ataupun juga mengantri semalaman menunggu rilis pertama game adalah hal biasa.

Tetapi mengantri panjang untuk membeli donut Krispy Kreme selama hampir 5 jam lewat adalah hal yang tidak masuk akal. Atau mengantri antique donut yang mengeluarkan serial donut berkalori rendah, yang sewaktu dibuka pertama kali di Nagoya membuat padat sesak jalan yang harus saya lewati menuju tempat mengajar, karena antriannya berlapis-lapis, juga adalah hal yang benar-benar tidak bisa dicerna akal sehatku. Baru-baru ini peminat antique donut menurun karena mereka beralih ke Ring-Ring donut yang katanya telah meraih sukses berat di Osaka. Ring-Ring donut mengandalkan donut bakarnya yang cocok untuk para dieters.

Peredaran chain donut berkisar di antara tiga kota besar di Jepang, yaitu Tokyo, Osaka, dan Nagoya. Jika sebuah toko donut sukses di Tokyo, maka seperti sebuah dogma, bahwa toko itu harus dibuka pula di Osaka dan Nagoya. Krispy Kreme menjadi popular di Tokyo, Antique donut berjaya di Nagoya, dan Ring-ring donut menaklukkan Osaka. Saking gemarnya atau penasarannya dengan rasa donut Krispy Kreme, beberapa penduduk prefekture lain seperti Gifu, Mie, dan Nagano repot-repot datang ke Nagoya hanya untuk membelinya.

Donut bukanlah makanan asli Jepang. Tetapi ada kecenderungan masyarakat Jepang terutama kalangan mudanya yang lebih menyukai makanan praktis dan instan untuk beralih ke roti-rotian dan donut-donutan. Donut bahkan menjadi oleh-oleh yang ditunggu sanak saudara yang tinggal jauh dari Nagoya, Osaka dan Tokyo.

Kegemaran untuk mengantri adalah fenomena menarik. Sebab orang Jepang sebaliknya pun menyenangi bekerja. Artinya kegemaran mengantri bisa diidentikkan dengan menurunnya minat kerja, terutama di kalangan mudanya. Atau dapat pula dimaknakan bahwa kegemaran mengantri adalah gambaran orang Jepang yang tidak pernah putus asa untuk mendapatkan impiannya ? Anggap saja donut adalah impian anak muda, dan karenanya mereka bertekad untuk tidak pulang ke rumah sebelum sukses membeli sekotak donut🙂

Tetapi kadang-kadang saya mengira kebiasaan mengantri adalah “penyakit” orang Jepang🙂 Barangkali sekedar menghabiskan waktu, ketimbang di rumah seharian, mendingan ikut-ikutan antri🙂 Entahlah, tampaknya perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui tujuan orang Jepang mengantri.

  1. Tapii kalo berjam jam bete juga😀

  2. antriannya tertibkan ? orang jepang penyabar juga ya, tidak seperti kita, kalau antriannya panjang suka ada yang naik darah alias tidak sabaran.

  3. Kalo dilihat dari segi positifnya, mungkin memang benar, orang-orang jepang itu selalu berusaha keras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, itulah kemungkinan besar alasan mereka untuk mengantri berjam-jam untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh mereka. Salut.. sifat yang patut dicontoh, btw thx buat share-nya, inspiratif..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: