murniramli

Hasil UN harus diapakan ?

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Menengah, SMA on Desember 24, 2010 at 4:24 am

Mendiknas mengatakan bahwa setelah keluar kebijakan baru tentang UN yang akan diterapkan tahun depan, diharapkan tidak ada lagi kontroversi tentang UN. Saya kira keluarnya kebijakan baru bukan final penyelesaian evaluasi pendidikan di Indonesia, tetapi adalah langkah pembaharuan dan perbaikan, yang karenanya tidak akan luput dari pro dan kontra. Bukankah ini hal yang alami sekali dalam hal kebijakan?

Bahwa pemerintah bermaksud menjadikan hasil UN sebagai seleksi awal masuk PTN, saya kira sebuah langkah baik, ketimbang menjadikannya sekedar sebagai tolok ukur kelulusan SMA. Saya belum mendapatkan detil rencana penerapan kebijakan UN yang baru ini, sehingga kesulitan untuk menganalisanya lebih jauh.

Sistem evaluasi pendidikan adalah proses yang multi aspek. Evaluasi tidak saja diterapkan pada proses pendidikan tetapi juga evaluasi pelakunya. Oleh karena itu tidak cukup dengan evaluasi belajar, tetapi perlu diadakan pula evaluasi pengajar, dan evaluasi proses pembelajaran di sekolah. UN hanyalah salah satu evaluasi yang dipergunakan untuk menilai pemahaman siswa, kesinkronan pemahaman siswa dengan tujuan dan target kurikulum sesuai jenjang pendidikannya, dan sekaligus keberhasilan belajar mengajar di sekolah.

Sejak jaman Belanda ketika sistem persekolahan modern di Indonesia diperkenalkan, kita sudah mengenal ujian akhir sekolah dan ujian masuk sekolah.Tidak semua lulusan MULO dapat memasuki AMS atau HBS, demikian pula pada jaman Jepang tidak semua siswa Chuutougakkou dapat memasuki Koutouchuugakkou secara otomatis, jika seseorang tidak lulus ujian akhir dan juga ujian masuk.Artinya, dapat dikatakan bahwa ujian adalah sistem evaluasi dan seleksi keberlanjutan jenjang pendidikan.

Evaluasi UN yang diterapkan di tanah air selama ini adalah selain sebagai alat ukur kemampuan siswa SMA/SMK di Indonesia berdasarkan standar nasional, juga merupakan seleksi untuk meluluskan siswa dari jenjang pendidikan menengah. Selanjutnya semua siswa pemegang ijazah SMA/SMK diperkenankan untuk mengikuti seleksi masuk PTN.

Penyelenggaraan seleksi masuk PTN yang berlangsung saat ini pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu, pertama melalui seleksi nasional yang dibiayai dan diselenggarakan oleh pemerintah (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Nasional~SMPTN), dan kedua, seleksi di tingkat perguruan tinggi,  yaitu PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat) atau di beberapa universitas dulu disebut Pemilihan Bibit, dan yang terbaru Seleksi Jalur Khusus dapat dikategorikan dalam model ini.

SMPTN dapat diikuti oleh semua siswa lulusan SMA/SMK atau yang sederajat, artinya mereka yang telah mengantongi ijazah SMA boleh mengikutinya tanpa pembatasan pilihan PTN. Jadi siswa dengan skor SMPTN yang rendah sekalipun dapat mencoba mendaftar ke PTN yang bonafid. Mengapa bisa demikian ? Sebab UN sebagai kriteria kelulusan SMA belum 100% dipercaya sebagai alat ukur yang tepat untuk menentukan kemampuan akademik anak. Bukan dari segi materi yang diujikan dalam UN, tetapi karena masih besarnya faktor kecurangan dan ketidakjujuran dalam pelaksanaannya. Dengan kata lain tingkat kepercayaan publik pada hasil UN masih rendah.

Penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi seperti PMDK dan pemilihan bibit adalah lebih rasional dan merupakan alat ukur yang lebih valid. Karena kriteria seleksi adalah nilai rapor dari kelas 1 sampai kelas 3. Nilai rapor per semester adalah pengakuan valid tentang kemampuan akademik seorang siswa. Saya kira ini hampir sama dengan pengujian dalam pencarian varietas baru tanaman. Tanaman yang potensial menjadi varietas unggul adalah tanaman yang setelah melalui beberapa tahapan seleksi tetap menunjukkan keunggulannya. Jadi, jika seorang siswa tetap menunjukkan prestasi akademik yang memuaskan dalam setiap seleksi ujian per semesternya, berarti secara alami dan terproses, dia sudah terbukti sebagai siswa unggul.

Pelaksanaan dan hasil Ujian Nasional dianggap belum valid sebagai penentu kelulusan SMA, oleh karena itu hal yang menarik adalah pada tahun 2009, siswa SMA yang tidak lulus UN diperbolehkan mengikuti SMPTN melalui beberapa kriteria khusus. Dengan ketentuan ini, UN tidak dapat dikatakan sebagai seleksi untuk menentukan boleh tidaknya seseorang mengikuti SMPTN, sebab pada dasarnya semua siswa mempunyai kesempatan yang sama mengikuti ujian nasional.

Usulan untuk membuat sistem seleksi khusus peserta yang diperbolehkan mengikuti ujian nasional menurut saya dapat disamakan dengan seleksi dalam pemuliaan tanaman. Untuk mendapatkan generasi turunan yang lebih unggul proses seleksi berlangsung beberapa kali, dan setiap kali proses seleksi jumlah galur induk yang diseleksi makin lama makin berkurang. Dengan proses ini proses seleksi akan lebih efektif.

Dengan demikian kita dapat menetapkan bahwa siswa yang lulus UN adalah siswa yang layak mengikuti seleksi masuk PTN. Pada taraf ini, masih diperlukan lagi skor akhir UN yang dapat dijadikan patokan PTN mana yang bisa diapply oleh siswa. Skor masuk PTN ditetapkan berdasarkan range skor UN. Masing-masing PTN tentu saja dapat menetapkan skor masuknya secara umum, atau jika ingin lebih detil skor per fakultas pun dapat diakomodir. Penetapan skor masuk ini tentu saja tidak dapat semena-mena dilakukan oleh PTN, sebab ini juga menyangkut berapa besar kapasitas yang dimiliki dan juga berapa kuatnya skor menjadi penarik mahasiswa baru untuk mendaftar.

Dengan demikian hasil UN dapat ditetapkan sebagai hasil evaluasi belajar di SMA, dan sebagai salah satu komponen kelulusan SMA. Dalam artian kelulusan SMA tidak boleh ditetapkan hanya berdasarkan hasil UN saja. Parameter lain harus digunakan, misalnya hasil evaluasi belajar dari kelas 1, motivasi siswa, dan keunggulan keterampilan/keahlian yang dimiliki siswa. Misalnya saja, siswa-siswa yang unggul dalam olah raga dan seni tetapi lemah dalam bidang akademik, barangkali tidak bisa lulus UN, dan tidak bisa mengikuti SMPTN.

Jadi, apabila kita mencoba memikirkan arah positif dijadikannya UN sebagai alat ukur/seleksi peserta SMPTN, maka langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah memperbaiki pelaksanaan UN, dan mempersiapkan klasifikasi/skoring  PTN. Tidak boleh dilupakan juga bahwa PTN tetap memiliki otonomi untuk menyeleksi mahasiswa barunya. Artinya, PTN dapat menerima siswa-siswa yang lolos UN untuk mendaftar sebagai mahasiswa baru, memberi kesempatan mereka untuk mengikuti SMPTN, dan boleh membuat sistem seleksi intern dalam PTN bersangkutan.

Tentu saja dengan menjadikan UN sebagai alat seleksi peserta SMPTN, maka kesempatan masuk PTN melalui jalur SMPTN menjadi terbatas dan boleh dikatakan pendidikan tinggi menjadi pendidikan elit yang hanya bisa diikuti oleh golongan dengan kelebihan tertentu, yaitu kelebihan dari segi kemampuan akademik. Saya pikir ini adalah hal yang alami, sebab tidak semua orang perlu dipaksa atau harus mengenyam pendidikan tinggi (PTN). Untuk menciptakan keseimbangan antara profesional dan akademikus, maka harus diseimbangkan antara SDM yang menempuh jalur PT dan orang yang menempuh jalur kerja.

Sekalipun pendidikan di tanah air masih carut marut, tetapi saya sangat yakin banyak orang pandai dan beritikad baik untuk memperbaiki dan memajukannya.

 

  1. susah sekali bikin regulasi pendidikan di negeri yang kesadaran masyarakatnya masih rendah ya sensei,kalau seandainya kejujuran kita sama dengan kejujuran orang jepang, mungkin seleksi pendidikan tinggi cukup dengan nilai UN saja ya, lebih mudah, sederhana dan murah.atau mungkin PTN kita harus bikin tim peneliti yang meneliti kejujuran SMA dan SMK, jadi nanti secara bertahap sekolah – sekolah menengah yang diputuskan kredibel oleh tim dalam pelaksanaan UN hasil UN nya bisa diakomodasi untuk langsung dipakai sebagai alat seleksi, sekalian diumumkan aja tuh atau dibikin rangking, sekolah – sekolah mana aja yang tingkat kecurangannya masih tinggi. soale sebagai orang indonesia yang kebetulan saat ini kerja di perusahaan jepang dan hari – hari melihat mereka kerja, ngenes rasanya melihat kredibilitas dan integritas orang – orang kita kalau dibandingkan dengan mereka.rasanya kok saya sebagai orang indonesia ikut manjadi rendah sekali kalau lihat kecurangan – kecurangan UN.apalagi kecurangan itu terjadi di institusi yang mendidik anak – anak kita.perjalanan kesadaran kita sebagai bangsa jadi lambat sekali.oh ya salam kenal ya sensei, nama saya ahadi. kerja di pulau seram maluku, supervisor budidaya di PT. Nissui indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: