murniramli

Membicarakan Islam kepada mahasiswa Jepang

In Renungan, Serba-Serbi Jepang on Desember 28, 2010 at 5:17 am

Minggu lalu tanggal 21 Desember saya diundang menyampaikan tentang Kehidupan Muslim di Jepang di salah satu kuliah Fakultas Hukum, Universitas Toyo. Kesempatan yang baik dan merupakan tantangan besar bagi saya karena ini kali pertama saya berbicara tentang detil Islam dalam sebuah perkuliahan berbahasa Jepang. 

Materi yang saya sampaikan saya susun sambil mengingat-ingat permintaan teman dosen yang bekerja di sana. Beberapa hari sebelumnya saya menanyakan apa tujuan mengadakan kuliah ini, mengapa saya diundang, dan bagaimana pemahaman mahasiswa tentang Islam selama ini, dan seperti apa mahasiswa yang akan saya hadapi. Lamanya kuliah 90 menit, dan saya diberi slot waktu 1 jam untuk menyampaikan kuliah, lalu 30 menit adalah sesi diskusi.

Mahasiswa yang saya hadapi sebelumnya sudah mendapatkan materi hukum Islam yang mendasar, terutama tentang hal-hal pokok yang menyangkut masalah sosial kemasyarakatan. Mereka juga belajar tentang hukum pernikahan, pengadilan dalam Islam sebab itu adalah bidang utama mereka. Saya diminta menyampaikan bagaimana saya menerapkan ibadah dan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari di Jepang.

Bahan presentasi saya susun dengan runutan penjelasan tentang pendidikan agama yang saya peroleh, rukun Islam dan bagaimana saya menerapkan dan memahaminya ketika di Indonesia dan di Jepang, kesulitan sebagai muslim di Nagoya, organisasi keIslaman dan peranannya. Karena semuanya adalah pengalaman pribadi, jadi rasanya saya cukup lancar menyampaikan kuliah.

Sesi tanya jawab seperti biasa, mahasiswa cenderung senyap. Untunglah teman saya berkeliling menanyai mahasiswa satu per satu. Saya merasakan kecenderungan mahasiswa Jepang yang kurang aktif bertanya, oleh karena itu kami selalu memberikan selembar kertas kecil untuk menanyakan sesuatu kepada pemberi kuliah yang akan dikumpulkan akhir kuliah. Ini semacam kewajiban, sebab dosen dapat menilai pemahaman mahasiswa dan keaktifannya melalui lembar komentar tsb.

Saya membaca semua komentar sambil menunggu teman yang sedang memberikan kuliah selanjutnya. Komentar mahasiswa membuat saya sadar bahwa perlu ada usaha besar umat Islam untuk menyampaikan Islam kepada orang Jepang, dan memperbanyak interaksi dengan mereka.

Hampir semua mahasiswa menyatakan senang, tertarik, dan juga terkejut dengan perkuliahan yang saya sampaikan, terutama terkait dengan kesulitan ibadah sholat yang dihadapi muslim di Jepang. Sebagian lagi tidak bisa menerima dengan pernyataan saya, “ramadhan adalah bulan yang paling menyenangkan bagi saya sebagai muslim”, dan sebagian lagi bertanya mengapa saya nekat pergi haji.

Karena kepercayaan kebanyakan mahasiswa dengan agamanya sendiri (shinto, buddha, dll) mungkin kurang kuat, mereka agaknya sulit menerima penjelasan saya tentang ibadah yang muslim harus tunaikan sehari-hari. Bahkan ada yang mengatakan menjadi muslim adalah berat sekali, dan ada mahasiswa yang berkomentar, saya tidak mungkin masuk Islam karena saya sangat suka minum sake dan makan babi.

Seandainya mereka lebih memahami tentang ajaran Buddha dan Shinto, saya yakin ketidakmengertian dan kesulitan merasakan kenikmatan beragama akan hilang. Sebab pada dasarnya semua pemeluk agama yang taat menjalankan ritual untuk memuja Tuhannya, hanya saja cara dan tingkat kerutinannya berbeda. Tentu saja tidak ada maksud menyamakan ajaran semua agama, tetapi pada dasarnya mereka berupaya memujakan Dzat Yang Maha Besar, Sang Pencipta.

Ibadah sembahyang tidak saja ada di dalam Islam, tetapi juga dikenal oleh orang Jepang. Sebentar lagi menjelang tanggal 1 Januari, semua orang Jepang akan pergi ke temple dan shrine atau ke gunung utuk berdoa kepada dewa matahari. Lalu, bagi keluarga yang taat mereka akan melakukan sembahyang kepada leluhurnya setiap hari sebab abu leluhur ditaruh dalam salah satu ruangan di rumah tradisional Jepang. Puasa juga dilakukan oleh pendeta Budha dan Shinto.

Bedanya yang mendasar adalah semua ibadah dalam Islam bukanlah kewajiban yang mesti dilakukan oleh kyai dan ulama saja, tetapi seluruh orang yang telah mengucapkan syahadat. Barangkali karena itulah mereka menganggap ibadah muslim sangat berat.

Terlepas dari ketidakpahaman dan keengganan mereka masuk atau menerima ajaran Islam, saya melihat kuliah ini sebagai sebuah upaya untuk mengenalkan mahasiswa dengan dunia lain, dengan masyarakat lain di luar homogenitas masyarakat Jepang yang sehari-hari mereka lihat. Bahwa mereka tidak bisa menolak adanya globalisasi, dan di masa depan mereka akan berhadapan dengan komunitas beragam pemeluk agama dan keyakinan, masing-masing menjalankan kepercayaannya. Di dunia kerja yang sebenarnya mereka akan berhadapan dengan atasan, bawahan yang barangkali berbeda keyakinan agama. Dalam kesempatan itu jika mereka tidak pernah melihat, mendengar bahkan berusaha menerima adanya pemeluk agama yang beragam, maka tentulah sulit memahami orang lain, dan mengembangkan diri sebagai pribadi yang mengglobal.

Saya menilai semua orang berhak menjalankan keyakinannya sampai batas tertentu, dan orang lain perlu menghargai ini sebagai sebuah pandangan, pemahaman, dan keyakinan yang tidak bisa diganggu gugat. Ketimbang mencegah orang lain melakukan ibadah dan menerapkan keyakinannya, lebih baik seseorang berupaya memahami dengan baik keyakinannya.

Toleransi sangat perlu di dunia yang semakin kecil dan meyatu ini.

  1. Nice share miss…^_^

    sepertinya menyenangkan sekali bisa menimba ilmu di negeri orang & mengenalkan indahnya Islam…
    salam kenal🙂

    silahkan kunjungi blog ku di http://khusnulok.wordpress.com//

  2. …..sudah lama tidak mampir….hm, kalimat terakhir memang harus diperhatikan oleh kita semua….the smaller the world, the bigger capacity from us to accept the differences…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: