murniramli

Krisis Dunia dan Simbiosis Parasitisme

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, Renungan, Sains, Sejarah, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang, SMA on Desember 31, 2010 at 6:29 am

Setelah krisis minyak menjadi pembicaraan hangat di abad 20, krisis selanjutnya yang menjadi pokok percakapan adalah krisis energi dan krisis air. Entah siapa yang duluan mengangkat isu krisis per abad, tetapi yang pasti semestinya ada institusi/lembaga/badan/kelompok yang bertugas mendengungkan isu-isu panas di dunia. Tujuannya untuk apa ? Barangkali agar sekedar kehidupan di dunia tidak sepi dan monot0n🙂

Tetapi adalah sebuah keyakinan yang tidak tertolak bahwa semua isu tersebut dihembuskan oleh negara maju. Dan yang sangat menggelikan adalah permasalahan krisis, pada sebenarnya permasalahan yang dihadapi oleh negara maju, tetapi penyelesaian dan kambing hitamnya diarahkan kepada negara berkembang dan terbelakang.

Saya pikir Allah telah menciptakan keseimbangan yang sangat adil di dunia ini. Negara-negara maju diberi kelebihan berupa manusia-manusia unggul yang bisa mengembangkan teknologi lebih cepat dibandingkan dengan negara berkembang/terbelakang. Karena pesatnya kemajuan yang mereka peroleh, maka negara maju secara alami menghabiskan sumber dayanya lebih cepat dibandingkan dengan negara berkembang/terbelakang. Sebaliknya, negara berkembang/terbelakang diciptakan dengan kekayaan alam yang melimpah yang tanpa proses pengolahan pun mereka bisa hidup dengannya secara sederhana. Kenyataan sekarang, ketika umur bumi mencapai 4.54 billion tahun, negara berkembang/terbelakang masih penuh dengan sumber daya alam yang belum terolah, sumber minyak, gas alamnya masih melimpah di negara berkembang/terbelakang.

Karenanya banyak yang mengatakan bahwa antara negara maju dan negara berkembang/terbelakang terjadi simbiosis mutualisme yang sulit diputus. Negara berkembang tidak mempunyai lagi sumber daya alam yang cukup untuk industrinya sehingga harus mengimpor dari negara berkembang/terbelakang. Sebaliknya negara berkembang perlu produk teknologi baru untuk menyamai kemajuan negara maju. Maka menjadilah negara-negara ini sebagai pasar makmur produk-produk negara maju.

Seorang murid bahasa Indonesia saya tanya, mengapa Toyota membuka pabrik baru di Indonesia baru-baru ini ? Sebenarnya pertanyaan tersebut terdengar tolol barangkali, sebab siapapun tahu jawabannya. Tetapi saya tanya dia sekedar untuk melatihnya berbahasa Indonesia🙂  Dan jawabannya seperti yang saya duga, Indonesia adalah market yang bagus untuk produk Toyota.

Ketika krisis minyak diangkat ke permukaan, yang pertama kali mendapat sorotan adalah negara-negara produsen minyak yang notabene adalah negara berkembang. Sama halnya ketika krisis energi menjadi booming pembicaraan akhir-akhir ini, beberapa negara maju meminta kerelaan negara berkembang/terbelakang untuk melapangkan darat, lautan, pengunungan, hutan-hutannya untuk dijelajahi dan diselami untuk mencari sumber energi baru. Maka menjadilah pencarian energi biru sebagai proyek besar-besaran di beberapa lautan luas.

Lalu apa yang harus diterima oleh negara berkembang/terbelakang yang alamnya telah diexplore besar-besaran ? Lagi-lagi mereka harus menerima berbagai akibat negatif yang tidak sebanding dengan keuntungannya. Keuntungan berupa kesempatan meingkatkan taraf hidup memang diperolehnya, tetapi di balik itu, masalah utama yang dihadapi negara berkembang/terbelakang adalah rusaknya lingkungan dan menipisnya sumber daya alam tentunya.

Anehnya negara-negara maju yang menanamkan modalnya untuk mengembangkan industri di negara-negara resipien tersebut tidak mengakui kerusakan lingkungan sebagai efek tindakan mereka. Dengan berdalih bahwa penduduk negara resipien menjadi makmur dengan terbukanya lapangan kerja baru, meningkatnya daya beli mereka dan naiknya gaya hidup mereka mendekati sesamanya yang tinggal di negara maju, maka negara maju senantiasa merasa “harus” tetap exist di negara resipien untuk melanggengkan simbiosis seperti ini.

Seharusnya tidak ada masalah jika simbiosis tersebut adalah mutualisme. Tetapi saya pikir simbiosis yang berkembang adalah simbiosis parasitisme. Sebab negara maju yang tidak saja memiliki dana, tetapi juga keahlian, hanya membagikan kepada negara resipien dananya dan bukan keahliannya. Keahlian dan teknologi memang diajarkan dan dipelajari secara alami oleh tenaga kerja negara resipien, tetapi apa yang mereka pelajari adalah hal yang aplikatif, dan bukan hal yang prinsip yang menjadi kunci keberhasilan industri yang dikembangkan. Saya kira negara maju sama dengan guru-guru dunia persilatan yang tidak mau memberikan ilmu pamungkasnya kepada murid dengan kekhawatiran murid akan menyainginya  kelak kemudian.

Krisis dunia tidak bisa dilepaskan dengan permasalahan lingkungan yang mengekor di belakangnya. Karenanya mengangkat masalah krisis minyak, krisis energi, ataupun krisis air di milenium ini adalah isu memperuncing simbiosis parasitisme antara negara maju dan negara berkembang/terbelakang.

Jika masalah lingkungan masih dicapkan sebagai masalah negara berkembang yang tidak arif menjaga lingkungannya karena ketidakcerdasan mereka akibat pendidikan yang didapatnya masih jauh dari sempurna, maka saya kira permasalahan simbiosis parasitisme akan semakin tajam.

Sampah-sampah plastik yang mengambang di kali-kali di Jakarta, atau sampah-sampah besi yang sengaja dibuang di perairan kepulauan seribu adalah produk negara maju yang dibuat dengan tangan-tangan penduduk negara berkembang, lalu produk itu dipasarkan oleh mereka, dan uang penjualan dan keuntungannya masuk ke kantong negara maju untuk kemudian dipakai sebagai modal untuk menghasilkan sesuatu yang lebih canggih yang baru akan diekspor ke negara berkembang jika penghuni negara maju sudah puas atau kepuasannya mencapai titik jenuh.

Saya kira demikianlah siklusnya !

Sehingga tidak layak membebankan masalah krisis dan masalah lingkungan yang mengikutinya sebagai beban yang harus ditanggung negara berkembang. Tetapi agar simbiosis berlaku secara mutual, maka bukankah sebaiknya negara maju perlu bertanggung jawab ?

Sebagai pendidik, saya pikir semua mahasiswa dan murid-murid harus memahami apa yang berlaku sekarang di saat orang dewasa gempar membicarakan krisis dunia. Mereka tidaklah cukup bahkan mungkin tidaklah urgen untuk menghafalkan kapan krisis minyak membooming, apa krisis yang melanda dunia. Tidak cukup itu !

Mereka perlu diajari untuk tidak pesimis karena harus menanggung beban memperbaiki lingkungan yang sudah rusak total barangkali di masa mendatang yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya, tetapi mereka harus dididik agar selalu optimis dan senantiasa mengajak kepada simbiosis mutualisme dengan sesamanya di negara manapun.

Bukankah bumi ini satu bagian bulat, yang jika merongga di salah satu permukaannya, maka kesulitan akan menimpa semua penghuninya ?

  1. krisis akhlak jadi sumber segala krisis..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: