murniramli

Kalau tidak ada air

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Pendidikan Menengah, Pendidikan pra sekolah, Penelitian Pendidikan, Renungan on Januari 4, 2011 at 8:38 am

Dalam tulisan yang lalu saya memaparkan tentang krisis dunia dari sudut pandang penduduk negara berkembang🙂 Barangkali ada penduduk negara maju yang telah menuliskan refleksi yang berlawanan atau mungkin sama. Entahlah !

Kali ini saya ingin mengupas tentang krisis air. Barangkali bisa menjadi bahan ajar teman-teman guru biologi atau guru kimia yang hendak memahamkan siswa-siswanya tentang H2O, baik sifatnya maupun manfaatnya. Namun karena fokus saya adalah krisis air, maka tulisan kali ini akan lebih cenderung pada ajakan moral yang perlu disampaikan kepada siswa-siswa tentang kepekaan terhadap urgensi air.

Pertama, tahukah anda berapa persen air yang bisa dikonsumsi oleh manusia di muka bumi ini ? 97% air yang ada di muka bumi adalah air laut, artinya air yang tidak dapat kita konsumsi sebelum terlebih dahulu dipisahkan kandungan garamnya. Sekitar 3% adalah air tawar yang terbagi menjadi 0.3% air di permukaan tanah, 30.1% air di bawah tanah, dan 68.7% berupa glasier. Air di permukaan itulah yang selama ini dimanfaatkan/dikonsumsi manusia . Dari hanya 0.3% air di permukaan, sebagian besar adalah air danau (87%), sekitar 11% adalah air payau dan hanya 2% adalah air sungai. Jadi boleh dikatakan tanpa upaya mengubah air laut agar dapat diminum, manusia hanya bergantung pada 0.3% air di muka bumi ini.

Kedua, untuk apa saja air diperlukan oleh manusia ? Ya, jawabannya mudah jika berkisar pada masalah kehidupan sehari-hari, yaitu minum, mandi, dan mencuci. Air lebih banyak lagi dipakai di dalam industri , restoran dan pabrik. Keperluan air rata-rata manusia untuk minum dan mencuci saja sehari sebanyak 20 liter. Adapun orang Jepang menggunakan air terbanyak untuk keperluan ofuro (mandi berendam), karenanya kebutuhan air mereka per hari sebanyak 300 liter. Sedangkan dalam industri dan pertanian penggunaan air lebih banyak lagi. Misalnya saja untuk produksi gandum diperlukan sebanyak 21oo lt, jagung 300 lt dan untuk membuat T-Shirt diperlukan sebanyak 2700 lt (data-data ini saya dapatkan dari acara Akira Kegami, Mr. Nyuusu di Asahi TV).

Saat musim dingin seperti ini, secara logika sebenarnya keinginan untuk minum semakin berkurang, tetapi kebutuhan air bertambah untuk keperluan mandi dan mencuci dengan air hangat/panas. Untuk langsung menggunakan air hangat dari kran di beberapa tempat tidak bisa. Kami perlu menunggu sekitar 3-5 menit sambil terus membiarkan air mengalir dari kran hingga keluar air hangat. Ini mengakibatkan pemborosan yang tidak terhindarkan🙂

Menyadari minimnya air yang tersedia, maka langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana membuat ketersediaan air semakin bertambah. Diciptakanlah sistem reverse osmotic yang dapat memisahkan air laut dari kandungan garamnya. Jepang mempunyai keunggulan teknologi dalam bidang ini. Mereka sudah mampu membuat alat dan filtrasi untuk memisahkan teh dari campuran teh dan airnya saja, sehingga diperoleh air bening untuk diminum. Singapura bahkan memproduksi air minum botolan yang merupakan filtrasi air seni penduduknya🙂

Daerah dengan proses pemisahan air terbesar di Jepang adalah Okinawa dan Fukuoka, keduanya ada di daerah selatan Jepang. Selain dapat menyuplai keperluan air bersih dengan proses reverse osmotic, muncul pula masalah lingkungan lainnya yaitu menumpuknya garam hasil pemisahan. Lalu akan diapakan garam tsb ? Ini masih menjadi masalah juga sebab tidak mungkin manusia mengkonsumsi semuanya🙂

Dengan menyadari minimnya ketersediaan air, siswa-siswa mestinya diajak untuk sama-sama memikirkan bagaimana mengatasi hal ini ? Apa yang bisa mereka lakukan dengan kondisi ini ?Tentu saja ide-ide yang mereka kemukakan berdampak negatif dan positif. Tetapi dengan cara demikianlah mereka dilatih untuk memecahkan masalah khususnya melatih kepekaan mereka terhadap krisis air. Pembahasan dan diskusi tentang air akan lebih menarik dengan contoh kasus Indonesia sebenarnya, sebab banyak contoh pencemaran air, bahkan di musim kemarau sering terjadi kekeringan, dan di musim hujan terjadi banjir. Saya kira anak-anak mempunyai ide cemerlang untuk membicarakan krisis air ketimbang orang dewasa🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: