murniramli

Haruskah selalu sejurusan ?

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, Renungan on Januari 6, 2011 at 4:07 pm

“Jurusan” pada judul di atas maksudnya adalah jurusan dalam bidang pendidikan. Dalam kata lain bisa dinyatakan sebagai bidang, major, program studi,departemen atau fakultas. Mengapa tulisan ini perlu dibuat ? Karena ini adalah bentuk pembelaan saya sebagai orang yang gonta-ganti jurusan🙂

Seperti saya tuliskan di bagian HOME blog ini, saya kuliah S1 di bidang Teknologi Benih, IPB, lanjut ke S2 di bidang Pemuliaan Tanaman, dan S3 di bidang Manajemen Pendidikan. Sama sekali tidak nyambung, bukan?🙂

Kadang-kadang saya susah menjelaskan ketika ditanya dengan kerutan di kening penanya, kenapa pindah jalur ? Jadi, saya biasa menyusun cerita sebagai berikut dan memang ini kenyataannya. Pertama, sejak lulus dari S1 IPB saya bekerja di sebuah Politeknik Pertanian hingga level Ketua Jurusan, dan sekaligus mengisi waktu dengan mengajar di sebuah Madrasah Aliyah. Jalur utama saya sebenarnya tetap di pendidikan tinggi, buktinya sambil bekerja di politeknik saya melanjutkan ke jenjang S2 Pertanian. Tetapi beruntung saya karena pengalaman mengajar di Madrasah dan diakui untuk mengikuti training guru di Jepang. Lalu, kenapa saya melamar TT ? Entahlah ! Saya tidak tahu benar alasannya selain saya ingin belajar lebih lanjut tentang pendidikan barangkali. Supaya klop antara pekerjaan di politeknik dengan Teacher Training yang saya ikuti, saya pilih jurusan Manajemen Pendidikan. Dan begitulah, 1.5 tahun training jelas tidak memadai untuk memahami ilmu manajemen pendidikan, maka lanjutlah saya ke S3 Manajemen Pendidikan. Jadi, ceritanya masuk akalkah ?🙂

Lalu, saya memiliki track yang lebih aneh lagi, karena sambil kuliah S1 saya masuk pesantren mahasiswa, dan sambil kuliah S2 saya masuk LIPIA sore hari. Karenanya saya bisa mengajarkan tentang Islam dan bahasa Arab.

Lalu, apakah jurusan yang tidak konsisten seperti itu menguntungkan ? Bagi saya pribadi sebagai orang yang ingin mengetahui banyak hal, tentulah menguntungkan. Tetapi ternyata orang seperti saya yang tidak kukuh memegang prinsip kesinambungan dan keberlanjutan jurusan, sangat sulit menjadi dosen di Indonesia🙂 Ya, sebab kebanyakan universitas masih mengharapkan dosen yang sejurusan. Saya masih mencoba, barangkali ada universitas tertarik mempekerjakan dosen dengan  academic background seperti saya🙂

Baru-baru ini saya tertarik membaca buku antropologi budaya. Sebenarnya karena saya merasa tidak puas hanya mengetahui ilmu manajemen pendidikan, sementara dalam penelitian pendidikan dibutuhkan pemahaman luas tentang masalah sosial, termasuk masalah antropologi.

Buku yang saya baca adalah Pokok-Pokok Antropologi Budaya terbitan PT Gramedia 1980, editor T.O Ihromi. Buku lama yang isinya sangat menarik dan menurut saya merupakan bekal dasar seseorang menjadi antropolog dan menyelami ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan. Jika saya punya mahasiswa di bidang sosial, saya akan menyuruhnya membacanya sampai selesai. Buku tersebut memperkenalkan saya pada nama-nama terkenal di bidang anropologi, Edward B. Taylor yang terkenal dengan teori predeterminasi, dan sejalan dengan itu Lewis Henry Morgan.

Dalam buku itu saya juga berkenalan dengan sebuah nama, Frans Boas yang merupakan antropolog abad ke-20, menyelesaikan Ph.D-nya di bidang Fisika dan menulis buku The Limitation of the Comparative Method of Anthropology. Para antropolog menggolongkannya sebagai pengusung teori Kekhususan Sejarah.

Lalu ada lagi nama Bronislaw Malinowski orang Polandia dengan keahlian matematik, yang kemudian melanjutkan pendalaman ilmu antropologi di Inggris selama 4 tahun. Selanjutnya dia menjadi pengamat masyarakat Pulau Trobriand pada PD II dengan cara tinggal bersama penduduk di sana. Malinowski melahirkan Teori Fungsionalisme, yang berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat di mana unsur itu berada.

Nama-nama di atas saya sebutkan untuk menghibur diri sendiri yang barangkali menurut kebanyakan orang salah jalur atau pindah jalur. Saya tentu saja tidak bisa disamakan dengan ilmuwan sekaliber mereka di atas, tetapi mungkin saya memiliki kesamaan dengan adanya kegemaran kami menuntut ilmu🙂 Mudah-mudahan !

Demikianlah. Saya selalu mempertanyakan apakah memang kita harus sejurusan seumur hidup ? Apakah tidak boleh kita berbelok ? Saya mengira perjalanan mempelajari ilmu adalah sebuah perjalanan berliku, yang kadang-kadang perlu berbelok ke bidang lain untuk bisa lebih arif menyikapi segala sifat dan karakter alam, manusia dan makhluk hidup lainnya. Jadi, seandainya saya diberi umur panjang, saya masih berencana mempelajari ilmu yang saya tinggalkan di bidang pertanian. Saya ingin lebih memahami petani dan kehidupannya. Bahkan pun saya ingin mendalami sekolahnya generasi petani, sekolah pertanian, lama-lama saya mulai memadukan ilmu-ilmu yang pernah saya dalami, barangkali🙂

  1. yang penting kita bisa memaksimalkan potensi kita. tidak mematikan potensi satu karena terpaku pada potensi yang lain.
    trima kasih, wacana baru buat sya

  2. dari SMA ke tingkat universitas saja saya sudah berbeda, saat SMA ambil jurusan IPA sedang jurusan di kuliah ambil ilmu sosial ^^

  3. Mangunwijaya berpendapat pendidikan itu hendaknya membuat manusia itu merdeka. Artinya, bebas menentukan mau kemana arah hidupnya.
    Dalam hal ini sejurusan atau tidak tentu kembali kepada minat belajar. Belajar tenpa minat progres-nya akan lambat.
    Sayang, pikiran kebanyakan “intelektual” kita begitu sempit memaknai pendidikan. Hanya gelar saja, jadi sertifikasi dosen khususnya akan sulit bagi mereka yg gelarnya tidak berasal dari jurusan yg sama.
    Mereka lebih suka mengkotak-kotakan dan mengolong-golongkan. Apakah ini baik?

    salam kenal
    blogwalking
    gommu

  4. Yah, sebagai mahluk “omnivora” dalam ilmu (kecuali ilmu sihir), saya benar-benar suka artikel anda.

  5. Bukan bermaksud menghakimi, namun hemat saya, demi alasan hobi menuntut ilmu tidak boleh mengesampingkan kompetensi akan kekhususan ilmu yang akan diberikan. Mengerti, memahami, mengetahui, mengenali adalah bentuk perbedaan yang sangat mendasar.. yang tentunya akan berpengaruh dalam karakter bagi seorang pengajar jika tidak… no problemo bu… selamat menimba ilmu….🙂

  6. @Mas Anang Nurcahyo : Sama-sama,setuju dg pendapat Anda
    @Mba Dida : itu ndak masalah, yg penting dinikmati
    @Mas Gommu : salam kenal juga, barangkali pengkotak-kotakan ilmu ada baik dan ada buruknya.
    @Mas Ismail : Terima kasih
    @Mas iKings94 : menuntut ilmu bagi saya bukan hobi,tp makanan wajib🙂 Kompetensi kekhususan ilmu adalah kemutlakan, jd jelas tdk bisa dipungkiri, apalagi di alam akademik Indonesia.Tp spt tulisan di atas, inti ajakannya adalah anjuran u memperluas wawasan untuk bisa mengatasi masalah hidup🙂 selamat menimba ilmu juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: