murniramli

Protes Konsumen

In Renungan, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Januari 6, 2011 at 5:02 am

Selama beberapa tahun tinggal di Jepang, saya sudah sering melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana konsumen Jepang yang memprotes pihak toko atau restoran akibat terjadinya kesalahan pelayanan, produk yang rusak, ada rambut, benda kecil atau serangga dalam makanan, keterlambatan tiba barang yang dipesan dan ketidaksesuaian barang pesanan. Sampai-sampai sewaktu bekerja di sebuah toko donut, saya menganggap perlakuan pihak toko kepada pelanggan terlalu berlebihan, dengan mendatangi rumah konsumen dan mengantarkan donut ganti rugi kepadanya. Tetapi itulah konsumen Jepang !

Barangkali karena produk Jepang senantiasa sempurna yang membuat konsumennya tidak bisa menerima kecacatan produk sebagai hal yang lumrah. Atau barangkali karena konsumen benar-benar raja dan para produsen adalah pelayan sehingga penduduk Jepang di manapun sangat berani memprotes produk yang cacat.

Baru saja disiarkan di layar TV protes yang dilayangkan konsumen osechi (baca tulisan sebelumnya) di sebuah kota di Jepang. Menurut konsumen, osechi yang mereka terima tidak sama dengan yang ada di pamflet. Padahal beberapa waktu lalu juga disiarkan tentang sebuah perusahaan osechi yang sengaja mempekerjakan 1000 tenaga part time untuk membuat pesanan osechi selama tiga hari berturut-turut. Dalam dokumentari tersebut ditampilkan bagaimana telitinya pemeriksaan produk, sehingga potongan wortel yang berbentuk bunga dengan salah satu kelopaknya rusak saja, akan dianggap sebagai produk yang tidak layak jual. Dalam komplen yang diajukan pelanggan di atas, ditampakkan kotak osechi yang tidak terisi penuh sesuai dengan gambar yang tertera. Pelanggan membeli dari layanan internet yang menunjukkan harga semula barang adalah 21.000 yen kemudian didiskon 50%.

Kasus di atas menunjukkan bahwa sekalipun pemeriksaan ketat, masih saja memungkinkan terjadinya kesalahan. Namanya juga manusia. Sayangnya, konsumen tentu saja tidak bisa menerima produk yang dibayarnya dengan mahal, 10.500 yen bukan nominal yang sedikit pada kondisi ekonomi sekarang ini.

Saya barangkali sama dengan warga asing lainnya di Jepang yang tidak senang membuat keributan dan tidak terlalu peduli dengan sehelai rambut atau sebutir pasir kecil yang ada dalam makanan. Terkecuali jika terjadi kekeliruan pesanan seperti yang pernah saya alami dengan shopping online amazon. Buku yang saya order dengan buku yang dikirimkan tidak sama. Saya bersikeras tidak mau menerimanya dan minta dikirimi buku sesuai pesanan. Penjual yang ada di USA berdalih buku yang saya pesan sudah tidak ada, uang akan dikembalikan dan buku yang sudah dikirimkan menjadi hak milik saya. Demikian selesai.

Tetapi saya tidak memprotes ketika suatu kali menemukan yakult yang saya beli di salah satu departemen store di dalamnya ada rambut. Pertama saya kesulitan melakukan komplen karena nota pembelian sudah saya buang. Kedua, saya malas mengikuti rentetan prosedur yang akan saya hadapi. Ketimbang melakukan protes panjang, saya memilih membuang produk tersebut.

Barangkali sifat pemaaf seperti saya dan kebanyakan teman asing tidak akan membangun industri, pasar dan pelayanan yang lebih baik.

Produk di manapun akan menjadi semakin baik jika ada respon dari konsumen pemakainya. Konsumen adalah penyeimbang agar produksi tetap berlangsung dan semakin berkembang dengan produk yang lebih baik. Karenanya sikap kritis dan cerewet konsumen Jepang barangkali adalah salah satu kunci yang membuat produsen, pelayanan di restoran, di kantor-kantor pemerintah selalu berlaku dengan kualitas yang sangat memuaskan. Atau boleh dikatakan produsen tampaknya sedikit takut melukai konsumen🙂

  1. salam kenal mbak murni, saya fahmi
    membaca artikel mbak tentang protes konsumen jepang ini mengingatkan saya sama konsumen atau lebih tepatnya pengguna transjakarta busway,
    saya sering sekali mendengar keluhan dari para pengguna busway kepada petugas transjakarta, tapi yang dikatakan petugas hanya “ini bukan tanggung jawab petugas, tapi pemda” , tapi kenyataannya sampai sekarang pelayanan busway masih jauh dari memuaskan padahal keluhannya bukan cuma dari satu atau dua orang, tapi puluhan bahkan ratusan…

  2. Kebiasaan yang patut dicontoh, namun apakah cocok bila kita terapkan di lingkungan negara Indonesia?

  3. itulah yg bkn Jepang cpt maju dbanding bangsa kita.,keras,disiplin&slalu mengedepankan keprofesionalisme krja drpd basa-basi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: