murniramli

Buku wajib baca untuk siswa SD

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan, SD di Jepang on Januari 24, 2011 at 3:19 am

Saya sedang mencari-cari informasi di internet tentang buku-buku yang diwajibkan baca untuk siswa SD, tetapi tidak menemukan satu pun informasi terkait. Barangkali sudah ada SD di Indonesia yang menerapkan sistem buku wajib baca. Yang saya ingin ketahui buku jenis apa yang diwajibkan dan bagaimana sistem pelaksanaannya.

Saya pribadi memiliki masa bersekolah di SD sebagai masa ketika saya mulai sangat menggemari kegiatan membaca. Kebetulan sekali SD yang saya masuki dulu memiliki koleksi lumayan lengkap, sehingga setiap hari saya bisa meminjam dan membaca satu judul.

Buku-buku yang saya gemari dulu adalah buku-buku terbitan Balai Pustaka terutama serial penemu dan serial IPA-nya. Buku-buku tersebut sangat tipis dan full color, karenanya sangat menyenangkan membacanya. Selain bacaan tersebut, buku-buku cerita rakyat dan petualangan juga menjadi langganan yang saya pinjam. Saya tidak yakin apakah anak-anak SD sekarang masih tahu kisah Ande-Ande Lumut, Si Malinkundang, Batu Belah, Roro Jonggrang, Rawa Pening, dll.

Saking gemarnya membaca, bapak saya sampai mengeluarkan dana khusus untuk berlangganan majalah Bobo, yang sebelumnya selalu saya pinjam dari tetangga. Seingat saya majalah Kuncung, Mentari dan Tom-Tom juga menjadi bacaan wajib saya. Semuanya pinjam. Saya belum mengenal komik saat SD, karena di desa Arasoe, Bone, tempat saya tinggal masih belum masuk komik barangkališŸ™‚

Saya masih ingat juga bahwa salah satu soal ulangan di kelas 6 SD adalah bercerita kembali tentang cerita yang sudah dibaca. Waktu itu saya menyampaikan kisah batu belah, tentang seorang ibu miskin yang merasa sedih sekali karena anaknya tidak menyisakan bagian ikan hasil tangkapannya sedikitpun untuknya. Karena sedihnya dia pergi ke sebuah batu dan Ā meminta sang batu untuk menelannya. Namanya masih anak SD, saya belum pandai berinprovisasi tentang cerita yang saya bawakan. Tetapi saya masih ingat bagian ketika Bapak Guru yang mengajar saya memuji cerita tersebut.

Tema-tema apa sebaiknya yang diwajibkan kepada anak SD untuk membacanya ? Saya pikir kisah-kisah rakyat adalah pilihan yang baik. Demikian pula kisah hidup para penemu dunia yang tentunya sudah bertambah jumlahnya dengan pertambahan umur bumi. Buku-buku tersebut WAJIB ADA di perpustakaan SD atau setidaknya perpustakaan desa/kampung atau kota.

Saya belum berkesempatan mengecek buku-buku anak yang beredar saat ini di tanah air. Semestinya variasinya sudah banyak sekali, dan justru menambah ragam buku yang bisa dibaca. Namun, saya lebih cenderung tetap mempertahankan dan mengenalkan anak-anak dengan bacaan-bacaan rakyat, sebab dari hal sederhana yang diungkapkan dalam bacaan tersebut mereka dapat belajar tentang bangsa, masyarakat, geografi dan moral tentunya.

Lalu, bagaimana penerapan wajib baca di sekolah ? Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya saja seperti SD di Jepang, anak-anak SD dibiasakan membaca apa saja, buku yang diminatinya sekitar 20-30 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Atau buku-buku wajib diperkenalkan terlebih dahulu, dan anak-anak dapat meminjamnya dari perpustakaan, kemudian guru bisa mewawancarai secara ringan tentang bacaan yang sudah diselesaikan pada jam istirahat atau jam-jam pelajaran bahasa Indonesia.

Anak-anak juga dapat diajarkan untuk saling membagi dengan membuat list buku-buku yang dipunyainya di rumah, dan memberikan kesempatan kepada teman-temannya untuk meminjam buku tersebut. Saling bertukar koleksi buku seperti ini mengajarkan anak-anak tentang “pertemanan” dan merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan dan menggembirakan tentunya.

Bagi sekolah-sekolah yang tidak memiliki koleksi buku atau berada di wilayah yang minim sumber literatur, bapak/ibu guru dapat mengupayakan untuk membuat fotocopy kisah-kisah rakyat di internet, majalah, atau surat kabar.

Kegiatan wajib baca harus merupakan latihan anak untuk memahami bacaan, menyampaikan ide, dan kritis terhadap bacaan yang dibacanya. Oleh karena itu kegiatan menceritakan kembali adalah wahana untuk menyampaikan pendapat sendiri tentang bacaan yang dibacanya. Dan tentu saja mengajak mereka untuk menulis kisah-kisah baru, mulai dari membiasakan membuat catatan harian atau diary.

Mungkin ada cara lain yang lebih menarik yang bisa saling dishare. Silakan….!šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: