murniramli

Ingin membuat preschool ? Tanamlah pohon !

In PAUD, Pendidikan pra sekolah, Serba-Serbi Jepang, Taman Kanak-Kanak on Januari 28, 2011 at 6:17 am

Ya, jawaban di atas adalah jawaban yang akan saya berikan jika saya ditanya apa yang harus disiapkan pertama kali jika hendak membuat preschool atau TK. Mengapa harus pohon, dan bukan bangunan atau pengasuh-pengasuhnya ? Jawabannya gampang, karena pohon memerlukan waktu untuk menjadi besar dan bercabang banyak🙂

Baru-baru ini ada teman yang berkonsultasi hendak mendirikan sebuah playgroup di Indonesia, dengan maksud mengadopsi ide hoikuen/TPA di Jepang. Teman tersebut kemudian menceritakan konsep, dan sambil saya selingi mengapa harus membuat TPA di kota tersebut.

Sebagai orang yang belum berpengalaman dalam pendirian institusi pendidikan, saya berpikir lempeng saja, bahwa alasan orang mendirikan TPA atau TK karena ada sejumlah anak yang perlu mendapatkan pengasuhan dan penampungan (Saya tidak suka menggunakan istilah pendidikan di TPA atau TK, sebab keduanya adalah tempat mengasuh dan bukan mengajar seperti di sekolah).

Banyak alasan orang hendak mendirikan institusi pendidikan, tetapi kecenderungan yang ada kebanyakan bukan karena urgensi keperluannya, tetapi karena bisnis.Dengan alasan yang terakhir, menjadilah TPA dengan program macam-macam yang katanya layak dijual. Terus terang saya, sekali lagi orang yang lempeng, yang sama sekali tidak tertarik dengan aneka program quantum learning, english for kids, dll yang akan diusulkan untuk diterapkan di TPA atau TK. Saya murni orang pendidikan yang gemar mengamati anak-anak tumbuh normal, bebas bermain dan tidak usah dipaksa duduk diam menulis dan membaca pada usianya yang masih balita (5 atau di bawah 5 tahun).

Saya sedang menulis buku tentang pendidikan anak usia dini di Jepang, dan terhenti sejenak karena ketertarikan saya membaca buku Ibu Saito Kimiko, tokoh anak dan balita di Jepang yang mendirikan sebuah hoikuen di Tokyo dengan konsep pendidikan alamiah. Beberapa pemikiran yang ditulis oleh Ibu Saito sangat cocok, dan sama seperti yang saya alami di masa kecil dulu.

Salah satu konsep yang disampaikan oleh Ibu Saito adalah perlunya membiarkan anak bebas bermain di alam tanpa alas kaki. Dengan maksud demikian, maka harus diciptakan kondisi alam di halaman hoikuen. Perlu ada pohon, rumput, kolam ikan, batu-batu, lumpur, bunga-bunga, serangga, capung, kupu-kupu, nyamuk, suara burung, suara tonggeret, bahkan kalau perlu suara kodok. Mengapa semuanya perlu ?

Ibu Saito tekun mengamati perkembangan menggambar anak-anak berusia 1 tahun hingga 6 tahun. Anak-anak yang berumur 1 tahun 2 bulan yang belum bisa memegang pensil dengan baik, hanya dapat membuat coretan-coretan dan garis-garis pendek. Bertambah usianya menjadi 1,5 tahun, dia bisa membuat coretan bulatan berkali-kali seperti kumpulan karet gelang. Ketika usianya beranjak 2 tahun, dia sudah bisa membuat lingkaran mencong tapi belum utuh lingkaran. Anak usia 2,5 tahun sudah bisa memasang 2 mata dan mulut di bulatan mencong yang dibuatnya, dan biasanya sambil mengucapkan “mama”, “papa”. Tapi ada penelitian bahwa jika anak tidak sering bertemu mama papanya maka mungkin bukan kata tersebut yang diucapkannya. Anak-anak usia 3 tahun yang sering disebut masa paling tepat untuk menilai perkembangan anak selanjutnya, umumnya sudah bisa menambahkan kaki dan tangan pada lingkaran yang dibuatnya. Anak-anak berusia 4 tahun sudah bisa menggambar bulatan kepala, badan, tangan, dan kaki dan menggambar tanah. Orang-orang yang dibuatnya terlihat berdiri tegak di atas tanah.

Gambar-gambar yang dibuat anak-anak adalah berkat perkembangan otak, indera dan tubuhnya. Ketika dia sudah bisa menambahkan mata dan mulut pada bulatan yang dibuatnya, itu karena dia mengamatinya setiap hari. Lalu tambahan kaki dan tangan karena dia dibiasakan memakainya. Anak pun sampai pada pengertian bahwa manusia tegak berdiri di atas tanah dengan kakinya, karena dia dibiasakan menginjak tanah.

Yang menarik sekali adalah anak-anak berusia 5 tahun dan 6 tahun yang sering diajak bermain di alam terbuka membuat gambar serangga yang terkurung dalam lubang tanah, lalu beberapa serangga digambarnya seperti memanjat pohon. Adapun anak-anak yang tidak diajak bermain di alam terbuka, gambarnya sangat sederhana, berupa anak-anak perempuan, dengan rok dan rambut kepang serta pohon satu.

Suatu kali Ibu Saito pernah membuat gunung buatan di halaman hoikuennya dan membiarkan anak-anak membuat lubang kecil di gundukan tersebut. Membiarkan mereka puas bermain. Setelah puas bermain, mereka diajak masuk ke kelas dan diberikan kertas dan crayon. Gambar-gambar yang dihasilkannya sungguh di luar dugaan. Gambar-gambar sebelumnya selalu berupa gambar anak laki-laki dan perempuan, rumah satu, pohon satu dan matahari. Tetapi setelah mereka diberi kebebasan bermain di luar tanpa alas kaki, gambar yang dihasilkan sangat dinamis, ramai, sebuah taman yang penuh dengan anak-anak, bunga, kendaraan, pohon, jemuran.

Ada lagi sebuah fenomena menarik tentang anak yang diajari aritmetika dan menulis huruf di usianya yang belia. Gambar yang dihasilkannya berupa garis-garis patah, angka-angka dan huruf-huruf. Ibu Saito mengatakan jika seperti adanya di usianya yang 3 tahun, anak tersebut tidak bisa berkembang dengan baik di masa mendatang.

Ada kebiasaan ibu atau guru mengusik anak ketika menggambar. Misalnya si anak menggambar bulatan, lalu mata, mulut, ibunya akan berkata, “mana hidungnya ? rambutnya? tangannya ?” Atau, “tangannya bukan di kepala, tapi di badan “. Anak-anak memahami bagian-bagian tubuh manusia karena dia dibiasakan menggunakannya. Dia belum tahu bahwa tangan bukan di kepala. Bahwa ada hidung di setiap wajah. Jika orang tua dan guru sering merecoki dengan pemaksaan gambar sempurna, si anak akan terpola demikian dan tidak bisa kreatif menggambar yang aneh-aneh.

Jadi, untuk membesarkan anak yang mampu mengembangkan dirinya untuk menguasai ilmu-ilmu baru yang harus dilakukan oleh orang tua adalah membangun fondasi dalam diri anak. Fondasi tersebut berupa perkembangan anggota tubuh yang normal melalui pembiasaan di alam. Berlari dengan telanjang kaki akan merupakan pijatan alami di tapak kakinya, menjadikannya kuat berdiri. Membiarkannya memanjat pohon menjadikan jari-jari kakinya bersinergi menahan tubuhnya. Jangan lupa bahwa pusat syaraf manusia ada pada kakinya.

Tentu saja tidak cukup dengan latihan dan pembiasaan bermain di luar, tetapi makanan juga menjadi faktor penting dalam perkembangan fisiknya. Jika tubuhnya sudah tumbuh dengan baik, maka apapun yang hendak diajarkan dengan mudah akan dicernanya. Masa menyusun fondasi anak tersebut adalah pada usia balita, hingga dia berusia 5 tahun. Jadi, kalau dicampuri masalah penyusunan fondasi tersebut dengan materi-materi bahasa asing, berhitung kali-kalian, sungguh sayang. Sebab kepalanya sudah dipenuhi dengan sesuatu yang semestinya belum layak mengisi kepalanya. Kepala balita semestinya diisi dengan imajinasi-imajinasi dan dibiarkan dia untuk memahami manusia, alam dan sekitarnya dengan pertumbuhan yang normal.

  1. Konsep Ibu Saito Kimiko itu bagus juga diterapkan di negara kita

  2. wah luar biasa ya ibu saito kimiko, kira2 bu kasur kita sampai sejauh itu ga ya?, jika sudah selesai bukunya, saya pemesan pertama, saya tunggu.

    pandji (guru TK laki-laki di depok jawa barat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: