murniramli

Mengajarkan anak SD di Jepang tentang akil balig

In PAUD, Pendidikan Dasar, SD di Jepang, Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Januari 30, 2011 at 2:25 pm

Hari Sabtu yang lalu saya berkesempatan mengajar anak-anak Indonesia di Sekolah Bhinneka, Nagoya. Anak-anak yang belajar hari itu duduk di kelas 4,5, 6 dan SMP. Umurnya bervariasi, ada yang sudah mengalami akil balig dan ada juga yang belum. Sehari sebelum mengajar materi akil balig, saya sudah search di internet barangkali ada yang punya trik mengajarkan materi ini kepada anak-anak SD. Tetapi saya tidak menemukan link yang saya inginkan. Pembahasan yang banyak berkisar antara definisi mani, madzi, wadhi, dan mandi wajib. Saya kira sangat sulit menerangkan hal ini kepada anak-anak yang belum mengalami akil balig atau bahkan belum pernah mendapat pelajaran agama karena bersekolah di sekolah Jepang.

Seingat saya di pelajaran agama di SD dulu, saya sudah belajar tentang najis dan akil balig di kelas 4 atau mungkin kelas 5. Tetapi waktu itu cuma hafalan saja. Dalam arti saya tidak mengerti benar apa yang dimaksud.

Sebelum pergi mengajar, saya masih ada kerja part time di luar kota, jadi waktu untuk persiapan hampir tidak ada. Di dalam kereta, saya mencoba membuat outline dan alur bercerita supaya anak-anak lebih mudah mengerti.

Di dalam kelas yang saya ajar, ada 3 orang yang sudah mengalami akil balig. Kepada mereka agak lebih mudah menjelaskan. Karena saya tidak ingin anak-anak menghafal mati kata mani, madzi dan wadhi, dan saya kira mereka kesulitan mengingat ini, maka saya menjelaskan akil balig dari tanda-tanda yang mudah terlihat. Saya pun tidak menggunakan kata akil balig, sebab inipun sulit dimengerti. Jangankan kata ini, kata surga dan neraka pun anak-anak tidak tahu, tetapi mereka tahu bahasa Jepangnya. Kata akil balig saya ganti dengan kata dewasa.

Pertama, saya jelaskan tanda-tanda akil balig untuk anak perempuan dan anak laki-laki. Anak-anak perempuan mengalami haid/menstruasi. Anak laki-laki biasanya tumbuh jakun, kumis, dan suaranya menjadi dalam. Saya tidak menjelaskan bahwa anak laki-laki akan mengalami mimpi basah, sebab ini sulit menjelaskannya di kelas yang digabung antara laki-laki dan perempuan. Alasan lain saya menghindari ini, anak-anak masih terlalu polos dan belum paham tentang hubungan laki-laki dan wanita.

Setelah menjelaskan tanda-tandanya, saya tanyakan apa yang harus dilakukan oleh orang yang sudah dewasa atau mengalami tanda-tanda itu di dalam Islam. Ya, mereka harus sholat, puasa. Anak-anak menjawab benar untuk hal ini. Saya tambahkan bahwa kewajiban-kewajiban itu tidak harus dikerjakan oleh anak-anak, dan mereka tidak berdosa jika tidak mengerjakannya. Dosa anak-anak ditanggung oleh ayah ibunya. Mendengar ini yang masih anak-anak bersorak sambil bersahut-sahutan mengatakan, “Kalau gitu nggak usah sholat, ngga usah puasa !” Saya langsung memotong sambil mengatakan, “Kalau kalian nakal, ndak sholat, ndak puasa, dosanya ditanggung ayah ibu, lalu ayah ibunya masuk neraka, mau tidak ?” Anak-anak menggeleng. Nah, karena itu sekalipun belum wajib sholat, kalian tetap berusaha sholat 5 waktu sebagai latihan.

Karena saya menyebut kata surga dan neraka, anak-anak langsung silih berganti menanyakan tentang surga dan neraka. Mereka tampaknya sudah mendengarkan cerita dari bapak ibunya tentang titian rambut menuju surga. Saya kemudian menjelaskan tentang surga, dan anak-anak berteriak-teriak keheranan ketika saya mengatakan di surga mau makan apa saja ada, mau minum apa saja ada, bahkan makan banyak tidak usah buang air, minum banyak tidak usah pipis. Dan makan banyak tidak jadi gemuk. Anak-anak kemudian bersahutan, “tsumaranai !” (bosan dong di surga !). Saya katakan perasaan bosan, marah, iri, sedih tidak ada di surga. Semua orang gembira, dan tidak pernah bosan. Dasar anak, yang mereka tanyakan aneh-aneh, apakah di surga ada dinosaurus, pegasus, ular, lumba-lumba🙂 Apakah di surga boleh gemuk ? Maksudnya, kalau seseorang kurus kering di dunia, apakah dia bisa minta supaya menjadi gemuk di surga ?Saya tertawa, sambil mengatakan, “Pokoknya yang bagus-bagus ada. Yang jelek ndak ada !”

Saya berusaha kembali ke pembicaraan akil balig dengan menerangkan bahwa setelah menjadi dewasa, semua muslim harus patuh pada perintah Allah. Mengapa harus patuh, supaya bisa masuk ke surga. Kalau mereka melanggar, maka neraka akan jadi tempat tinggalnya. Lalu, saya sedikit bercerita tentang pengadilan di padang masyar. Menyinggung pengadilan dan kitab amal baik dan buruk yang akan diterima manusia nanti, saya singgung juga tentang malaikat penjaga, Raqib dan Atid. Bahwa semua yang dikerjakan manusia akan dicatat oleh kedua malaikat tersebut. Setelah diadili, manusia akan melewati jembatan rambut. Jika amalan baiknya banyak dengan mudah mereka akan melewati titian rambut, tapi kalau dosanya banyak dia akan nyemplung ke neraka. Untuk melewati titian rambut itu ada orang yang lari dengan cepat, ada yang merangkak, ada yang jalan pelan-pelan. Seorang anak kemudian menyeletuk, “Kalau begitu, kita latihan dulu saja dari sekarang, supaya bisa lari cepat nanti di jembatan rambut itu”. Saya tergelak. “Biarpun latihan beratus tahun, kalau amalannya sedikit, dan dosanya banyak, tetap saja tidak bisa berlari melewati jembatan itu. Bisa tidaknya orang melewatinya tergantung amalan baiknya di dunia. Jadi yang perlu dipersiapkan adalah amal baik”, kata saya.

Pembicaraan kemudian melebar pada terjadinya hari kiamat. Apa tanda-tandanya hari kiamat ? Tidak ada anak yang tahu. Saya tanyakan, sehari-hari matahari terbit dari mana, terbenam di mana ? Anak-anak tampaknya kurang diajak oleh orang tuanya untuk melihat matahari terbit dan terbenam, sehingga mereka tidak begitu fasih menjawab🙂  Saya jelaskan bahwa pada hari kiamat, bumi hancur, matahari terbit dari arah berlawanan, bintang jatuh, laut menjadi api. Lalu ditiup terompet dan semuanya mati. Ditiup terompet lagi, kemudian semuanya hidup berkumpul di padang masyar. Seorang anak berkata, “Manusia kan sudah bisa bikin pesawat luar angkasa, pake pesawat itu saja untuk melarikan diri waktu buminya hancur”. Saya kembali tergelak. “Mau terbang ke mana ?” Ke Mars ? Ke bulan ? Semuanya juga hancur, Nak”. Tidak ada yang bisa melarikan diri kalau sudah terjadi kiamat. Si anak balas menyahut, “Sia-sia dong manusia buat roket ! Sia-sia dong manusia pergi ke bulan, ke Mars !”  Dalam hati, anak ini kritis sekali, saya senang !  Saya jelaskan bahwa tidak ada yang tahu kapan hari kiamat akan tiba. Tidak ada yang tahu akan masuk surga atau masuk neraka. Oleh karena itu, semuanya harus bekerja, harus berusaha supaya bisa hidup lebih baik. Tidak ada yang sia-sia dari usaha manusia, karena malaikat akan mencatatnya di buku amalannya.

Anak-anak masih bertanya ngalor ngidul tentang manusia pertama, Nabi Adam atau monyet. Dan kalau seandainya Nabi Adam tidak makan buah khuldi, apakah tidak akan ada manusia ? Lalu mengapa istrinya, Hawa disebut Eve dalam bahasa Inggris ? Kalau hanya ada Adam dan Hawa pada masa itu, berarti anak-anaknya menikah antar saudara ya ? Masih banyak pertanyaan yang diajukan, dan semuanya saya coba jawab satu per satu, sambil sesekali tidak bisa menahan ketawa.

Terakhir saya menjelaskan tentang tata cara mandi wajib, dan cara membersihkan noda keputihan atau cairan yang melekat di celana saat akan sholat. Sekalipun jijik, anak-anak harus tahu, dan membiasakan mengecek pakaian dalamnya sebelum berwudhu.

Demikianlah, materi akil balig hari itu berlangsung sekitar 1 jam, dengan dibumbui pertanyaan anak-anak yang beraneka rupa tentang agamanya. Saya senang sekali tetapi juga merasa masih harus belajar banyak untuk memahami pemikiran anak, dan memahamkan mereka tentang Islam.

  1. wah ini pak guru sudah pengalaman ya..salam kenal ya dari pak guru juga.tapi baru wisuda belum dapet kerja…hehe

  2. wah.. masa’ sih anak seusia itu blm tau matahari terbit dari timur?

  3. “Lalu mengapa istrinya, Hawa disebut Eve dalam bahasa Inggris ? ”
    Tolong dijawab pertanyaan ini (^_^)

    • @Ianx : Sy pikir lebih gampang menjelaskannya kpd orang dewasa🙂 Nama-nama tokoh dalam Islam dlm bahasa Indonesia dikutip langsung dari Al-Quran, Hadits dan Kitab Shirah. Sementara orang berbahasa Inggris mengambilnya dari kitab bible atau pembentukan kata baru berdasarkan bunyi yg lebih gampang bagi lisan mereka.
      Misalnya Ibnu Sina dalam bahasa Inggris disebut Avicena.
      Ibnu Rusyd menjadi Avi Rusyd.
      Hawa menjadi Eve🙂

  4. […] Mengajarkan anak SD di Jepang tentang akil balig « Berguru […]

  5. seberapa besar pengaruh pendidikan tentang kesiapan mereka terhadap masa akil baligh di jepang pak,,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: