murniramli

Masanya Touch Ticket

In Serba-Serbi Jepang on Februari 20, 2011 at 1:08 pm

Sejak 11 Februari 2011, kota Nagoya dihebohkan dengan dilaunching-nya sistem ticketing baru untuk berkereta dan berbus. Kereta bawah tanah, kereta dan bis meitetsu, serta bis kota Nagoya mulai menerapkan kartu “manaca”, yang sistemnya rechargable dan tinggal disentuhkan saja ke panel touch ticket untuk melewati palang ticket. Sistem selip menyelipkan kartu ke dalam mesin ticket masih berlaku tetapi sepertinya akan segera ditinggalkan.

Kalau menelusuri sistem perticketan di Jepang barangkali sama dengan di Indonesia sekarang. Sekitar 5 bulan yang lalu saya naik kereta executive dari Bandung ke Semarang dan dari Madiun ke Jakarta. Pengecekan tiket masih sangat sederhana, yaitu diperiksa oleh Mbak-Mbak yang cantik atau Bapak-Bapak yang berkumis di pintu masuk platform. Di dalam kereta juga demikian, pemeriksaan masih dilakukan oleh seorang petugas berseragam PJKA, dan dua orang security guard yang berseragam biru. Masing-masing penumpang diperiksa ticketnya dan dicoret pada bagian tertentu.

Dalam perjalanan dari Jakarta ke Bogor, saya naik kereta Pakuan Express, dan sistem ticketing juga masih sama, diperiksa oleh manusia di pintu masuk platform, dan di dalam kereta lebih tidak eco lagi karena seorang atau dua orang security (saya tidak tahu ini security atau petugas PJKA, sebab bajunya mirip security) memeriksa ticket kami dan melobanginya dengan punch sebagai bukti sah. Yang tidak eco adalah bulatan-bulatan bekas bolongan tiket berhamburan di lantai kereta. Keretanya terkesan kotor, ditambah lagi dengan lampunya yang tidak menyala, menambah kekusaman di dalam kereta. Saya yang terbiasa membaca di dalam kereta mesti menghentikan sejenak bacaan jika melewati stasiun tertentu yang gelap.

Jepang pada awalnya juga mengalami masa ticketing seperti itu. Saya menemukan beberapa situs yang menuliskan tentang tiket-tiket kereta jaman Meiji, Taisho, Showa, Heisei. Ada juga link yang memperkenalkan tiket-tiket jaman Showa di beberapa daerah di Jepang. Kalau kita lihat dalam situs di atas, tiket-tiket jaman dulu berukuran segi empat kecil dari kertas tebal dan keras, dan untuk menandakan itu sah, dipunch di sisinya.

Tiket-tiket tebal akhirnya digantikan dengan tiket tipis dengan permukaan magnetik di salah satu sisinya sehingga dapat dideteksi oleh mesin tiket. Pembelian tiket pun tidak lagi melalui loket yang dijaga petugas, tetapi sudah langsung dilayani oleh mesin. Petugas hanya diperlukan saat terjadi kemacetan ketika memasukkan tiket ke pintu masuk tiket.

Era tiket tipis dengan lapisan magnetik mulai tergantikan sejak diperkenalkan sistem IC-Card (Integrated Circuit Card), yang sistemnya rechargable dan berfungsi sebagai kartu untuk berbelanja sebagai pengganti uang tunai. Sistemnya sama dengan kartu kredit. Dengan adanya IC-Card ini sistem pintu tiket masuk menuju era touch panel system. Tiket berubah menjadi seperti kartu kredit tetap dengan lapisan magnetik yang dapat terdeteksi hanya dengan menyentuhkannya pada panel detektor yang tersedia di pintu masuk tiket.

Tiket IC-Card yang pertama kali diperkenalkan adalah IC Card Suica pada tahun 2001 di jalur kereta Timur (Higashi Nihon Ryokutetsudou) milik JR. Selanjutnya berturut-turut perusahaan JR memperkenalkan ICOCA, yang dipergunakan untuk wilayah Barat (Nishi nihon ryokutetsudou) pada tahun 2003. Lalu tahun 2004, perkeretaan di daerah tengah, yaitu jalur yang dikelola oleh perusahaan Hankyuu Dentetsu yang beroperasi di Osaka, Kobe, dan Kyoto mengeluarkan PiTaPa IC Card yang dipakai bersama dengan kereta milik perusahaan Nose Dentetsu, dan Keihan Denki Dentetsu.

Perlu diketahui bahwa Japan Railway (JR) memang menguasai sebagian besar jalur perkeretaan antar prefektur dan kota di seantero negeri, tetapi di masing-masing kota sendiri terdapat perusahaan kereta yang menangani jalur-jalur dalam kota atau perfektur. Misalnya saja di Aichi perfektur, terdapat perusahaan Meitetsu, Kintetsu, kereta bawah tanah yang dikelola oleh Nagoya Kotsu Kyoku (Kantor Transportasi Kota Nagoya), Nagoya Guideway Bus yang mengelola Yutori-to line, Nagoya Rinka Kousokutetsudou yang menangani Aonami Line, Tokai Kotsu Jigyou yang menangani Jouhoku Line, dan Aichi Kousoku Kotsu (Aichi Rapid Transit Co.Ltd) yang menangani jalur Toubukyuu ryou dengan kereta Linimo-nya yang dulu pernah dipakai untuk Aichi Expo 2005, dan yang terakhir adalah Aichi Kanjo Tetsudou yang mengelola jalur Tokutei Chihou Koutsuu, jalur khusus yang mengantarkan para pegawai Toyota ke kantor pusatnya di Mikawa Toyota.

Kembali ke masalah pertiketan elektronik. Pada tahun 2006 JR Tokai (Tokai ryokyakutetsudou) melaunching IC Card TOICA yang dipakai di wilayah Jepang tengah termasuk kota Nagoya. Selanjutnya kartu PASMO diperkenalkan di wilayah Kantou yang meliputi Tokyo dan sekitarnya. Tahun 2008 KITACA diperkenalkan di jalur perkeretaan di Hokkaido, kemudian tahun 2009, IC Card SUGOCA diterapkan di Kyushu. Dan yang terakhir tahun 2011, kartu MANACA dipakai di jalur Meitetsu, Kereta bawah tanah, Aonami, Yutori, dan jalur bis di kota Nagoya.

Sebelum pulang ke Indonesia bulan depan, saya ingin juga merasakan tiket dengan sistem touch panel, maka sejak 12 Februari, saya mengganti semua tiket langganan (teikiken) untuk kereta bawah tanag yang selama ini saya pakai, juga tiket panorama Meitetsu (untuk naik kereta meitetsu) dengan satu tiket saja, yaitu MANACA IC Card. Lumayan, ketika hendak keluar masuk dari pintu tiket, tidak perlu lagi merogoh tiket dalam dompet tiket, tetapi cukup menempelkannya.

 

Ada rencana perkeretaan di Jepang untuk menyatukan semua IC-Card, sehingga ke manapun bepergian, kita cukup menggunakan satu tiket saja.

Karena tiket IC-Card sekaligus bisa dipakai untuk berbelanja, lama-lama tidak perlu lagi membawa dompet ke mana-mana, sebab semuanya tersimpan dalam sebuah kartu. Dan tidak ada masalah jika kartu tersebut hilang, sebab data tersimpan dengan baik.

Membayangkan berubahnya masyarakat menjadi masyarakat yang dikuasai teknologi, saya cukup khawatir, karena barangkali akan hilang kebiasaan bicara dan berkomunikasi manusia. Sebab yang kita hadapi hanya mesin dan mesin saja. Saat uang simpanan di tiket habis, kita hanya perlu men-charge kartunya dengan menekan tombol-tombol dan memasukkan uang tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun. Saat berbelanja demikian pula, tinggal menempelkan kartu IC ke panelnya, maka semuanya beres.

Beruntunglah bahwa kartu-kartu tersebut belum dipakai di dalam rumah untuk membuka pintu, menyalakan TV, AC atau meminta Ibu memasakkan sarapan 🙂

Iklan
  1. terima kasih Mbak untuk info menarik ini. Indonesia perlu belajar lebih banyak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: