murniramli

Orang-orang yang tidak mau belajar

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, Renungan on April 20, 2011 at 10:47 am

Lama saya tidak menyambangi blog ini. Bukan karena saya mengalami reculture shock sepulang dari Jepang, dan bukan juga karena saya sangat sibuk. Semata karena saya membuat diri sendiri menjadi sibuk. Barangkali tidak sama dengan teman-teman yang baru pulang dari luar negeri menyelesaikan studi, umumnya ingin mengambil cuti sebentar untuk bongkar-bongkar barang, bersih-bersih rumah, dan atau mendaftarkan anak ke sekolah, atau ada juga yang sibuk wisata kuliner🙂 Karena saya tidak harus mengerjakan itu semua, maka saya hanya perlu waktu seminggu untuk kemudian siap bertempur.

Keinginan untuk segera aktif bekerja mendorong saya untuk segera ke UNDIP bersiap-siap menjadi dosen. Ternyata perjalanan yang harus saya lewati tidak semulus bayangan, saya harus sabar menunggu hingga semester depan.Beruntunglah saya bertemu dengan teman-teman dosen yang gemar meneliti di sebuah lembaga di UNDIP, maka mulailah saya bekerja menyusun proposal penelitian, menyusun rencana seminar sembari menyelesaikan buku yang tidak kelar-kelar juga malah berkembang menjadi 3 buku sekaligus.

Perjalanan dari rumah saya di Madiun ke Semarang setiap kali saya tempuh dengan bis. Sekalipun kadang kedinginan jika kebetulan naik bis AC Patas, atau kepanasan saat naik bis ekonomi, saya sangat menikmati perjalanan tersebut. Di jalan saya suka menyapa orang yang duduk di sebelah saya dan sangat senang jika kebetulan bertemu dengan bapak/ibu guru. Saya akan langsung bertanya serentetan pertanyaan tentang sekolah dan pekerjaan mereka. Terus terang, saya tidak kekurangan informasi tentang kebijakan pendidikan di Indonesia, sebab selain mengikuti milis pendidikan, saya pun rajin mengecek berita di koran. Tak kurang-kurang kebijakan pendidikan yang ditelurkan pemerintah, tapi kenapa pendidikan kita masih banyak diprotes rakyat ? Saya kira untuk mengetahui seluk beluk dan permasalahan di lapang adalah bertanya langsung kepada bapak dan ibu guru.

Suatu kali dalam perjalanan menuju Semarang, saya sebangku dengan seorang bapak guru dari SD kecil di Boyolali. Karena saya tidak begitu paham bahasa Jawa halus, maka sejak awal saya berterus terang bahwa saya bukan orang Jawa. Bapak guru Boyolali bercerita tentang SD nya yang sedikit siswanya, tapi kegiatan mulok-nya sangat menarik, yaitu pelajaran tembang Jawa. Kebetulan sekali dua hari sebelumnya saya pergi ke Surabaya untuk mewawancarai seorang tokoh pendidikan jaman Belanda dan jaman Jepang. Kepergian saya ke sana karena saya bertekad meneruskan penelitian S3 yang saya lakukan di Jepang. Dari hasil obrolan dengan tokoh tersebut, saya mendapatkan buku bacaan Tataran 1 (bahasa Jawa) yang dipakai di sekolah ongko loro (tweedee school) pada jaman Belanda. Saat pembicaraan saya dengan Bapak guru Boyolali sampai pada kegiatan membaca di SD, saya keluarkan buku itu, dan berbicara panjang lebar tentang nilai-nilai budi pekerti yang ada dalam buku tersebut. Si Bapak sekilas membolak-balik buku yang saya sodorkan.Pembicaraan saya menjurus kepada ajakan untuk membudayakan membaca sebagai salah satu kegiatan wajib di sekolah. Ide ini muncul dari hasil wawancara yang saya lakukan dengan pak Suparto Brata, tokoh budaya Jawa di Surabaya. Sebelum berpisah, bapak guru Boyolali meminta alamat saya, dan sayapun mencatat alamatnya. Beliau memohon kalau ada makalah atau pelatihan pendidikan, agar dikontak.

Tidak hanya dengan bapak guru Boyolali, ketika saya ikut dalam acara pelantikan MSI Karanganyar, saya juga bertemu dengan bapak guru Karanganyar yang ternyata alumni UNDIP. Kami mengobrol tentang pendidikan, saya tanya mereka tentang metode pembelajaran sejarah di sekolah masing-masing, dan mereka pun bertanya tentang sistem di Jepang. Dan saya berbicara panjang tentang kegiatan belajar sejarah di Jepang.Saya menyodorkan diri untuk menjadi narasumber dalam kegiatan MGMP untuk memperkenalkan pola pembelajaran di Jepang. Dan saya sampaikan blog Berguru, jika mereka ada waktu untuk membaca-baca tentang opini pendidikan Indonesia dan Jepang. Mereka sangat antusias, dan menggoreskan catatan kecil tentang apa yang saya sampaikan.

Guru-guru yang saya temui adalah guru-guru teladan menurut saya, karena mereka mempunyai motivasi dan semangat belajar. Belajar, membaca, berguru adalah kegiatan seumur hidup yang tidak dibatasi umur, tempat dan waktu. Saya senang berbicara dengan mereka dan sangat ingin mendapatkan undangan untuk berkunjung ke sekolah-sekolah, mempelajari kondisi dan membagi ilmu. Saya pikir, saya yang harus belajar kepada para bapak/ibu guru itu. Tidak mungkin saya menyodorkan metode Jepang tanpa saya mengetahui apa sebenarnya yang sudah mereka kerjakan dan permasalahan apa yang dihadapai mereka.

Jika para guru yang saya temui adalah sosok pembelajar, lain lagi dengan cerita-cerita yang saya dengar di dunia perguruan tinggi.Saya agak tidak terbiasa dengan jam kuliah yang selalu molor dan dianggap sebagai hal yang lumrah. Suatu kali saya diminta mengisi kuliah tentang budaya Jepang, dan saya sudah siap 10 menit sebelum kuliah dimulai. Mahasiswa belum berkumpul dan saya diberitahu bahwa jadwal perkuliahan tanpa jeda. Kuliah pertama jam 08.40 sd 10.20, kuliah kedua 10.20-12.00, kuliah ketiga 12.00-13.40, dan begitu seterusnya. Tak terbayangkan jika ada dosen yang harus mengajar berturut-turut, dan bagaimana pula dengan mahasiswa yang harus pindah ruang? Keterlambatan yang berulang, menunggu mahasiswa berkumpul seharusnya membuat kita berpikir tentang waktu yang tidak efisien. Alih-alih hendak mengakhiri kuliah sore lebih cepat agar mahasiswa dan dosen tidak pulang malam, yang justru tercipta adalah ketidakefisienan.

Hal kedua yang saya juga sedikit kecewa adalah semangat meneliti yang masih kurang, karena waktu dosen sudah habis untuk mengajar. Dosen tidak sama dengan guru sekolah, yang hanya menjalankan fungsi utama sebagai pengajar. Dosen memiliki dua beban utama, mengajar dan meneliti.Keduanya saling terkait dan bersinergi untuk memperbaiki metode dan substansi kuliah.Saya lihat tidak ada waktu untuk dosen membaca buku, menggali ilmu baru, dan apalagi mengadakan diskusi ilmiah tentang bidang yang mereka tekuni. Saya terus terang merindukan suasana seperti ini, maka tercetuslah ide untuk mengadakan kajian ilmiah semacam ini yang saya sampaikan kepada seorang dosen yang saya kenal sangat apresiatif dan berpikiran moderat, serta barangkali anti kemapanan, dan menggemari kemajuan.

Kami sejalan karena kami menggemari penelitian. Dan saya beruntung bertemu dengan dosen-dosen yang memiliki semangat 45  walaupun usianya sudah lanjut. Dari mereka saya mendengar cerita-cerita tentang birokrasi perguruan tinggi yang tidak juga mengalami perbaikan. Dari mereka saya belajar bahwa banyak orang menghendaki jabatan, tetapi tidak mau belajar, senang dengan kemapanan, dan senang dengan pemujaan. Saya juga menemui sesuatu yang seharusnya mudah menjadi sulit, karena para birokrat tidak mau belajar. Para birokrat di manapun dia berada, di kampus, di lembaga negara, di lembaga sekolah, di lembaga pemerintah adalah pelayan rakyat dan yang di bawahnya. Mereka bukanlah pejabat yang harus dipuji karena kedudukannya, tetapi seharusnya dihormati karena kinerjanya.

Sayangnya saya tidak menemukan itu pada kebanyakan petinggi, tetapi saya mendapatinya pada orang-orang bawah yang gemar belajar dan mengharapkan kebaikan untuk bangsa ini.

Jika para petinggi tidak mau belajar untuk menjadi lebih baik, apatah lagi para bawahannya, mahasiswanya? Jika seorang guru tidak mau membaca buku, apatah lagi dengan para muridnya ?

  1. semangat belajar adalah semangat mengubah diri dan negeri. apalagi guru2, mereka harus lebih mau lagi belajar, agar menjadi contoh pada murid2nya. salam kenal dari guru SD di pedalaman lombok timur. ditunggu kunjungan baliknya via blog

  2. @Pak Rusydi : setuju. insya Allah saya kunjungi blognya, Pak.
    mudah2an juga ada waktu berkunjung ke pedalaman lombok timur🙂

  3. mohon maaf ini perasaan saya khoq berbeda, boleh kan? itu soal setting budaya/kulture nilai dicipta hadirkan antara murid dan guru dengan mahasiswa dan maha guru=dosen dan birokrat. sesuai tahapan usia pembelajar berikut fase emosi setara beban kesulitan pelajaran antara murid – mahasiswa juga beban psikologi bagi guru – mahaguru = dosen / birokrat juga sosiologi di dan oleh masyarakat itu berbeda nilai, harga dan penghargaan privilege diberikan dan sosialita di alami oleh kultur nilai dianut lagi berlaku di negeri ini.

    dipersepsi / asumsikan mulai TK (taman kanak-kanak s/d SLTA (high school) sederadjat phase belajar, ing ngarso sung tulodo s/d. ing madyo mangun karso ; menginjak Perguruan Tinggi(PT) s/d. Birokrat phase belajar mandiri (atas kesadaran/kemauan-kebutuhan sendiri), tut wuri handayani.

    celakanya, menginjak skema phase pembelajaran (ter)tinggi itu di sama artikan tamat usai, saat menikmati / panen hasil belajar! karena mencapai kesempurnaan, dari serangkaian proses yang panjang+lama (D1,13th), (D2,14th), (D3,15th),(D4/S1, 17th.& FK,19th.)dulu. karena dunia mengalami perubahan cepat menuntut mahaguru+birokrat menjadi pembelajar kembali, menyikapi hingga ke liang lahat!

    jadi mengapa (saya kutip) “karena mereka (paham hakikat status dan baru menginjak phase 1&2 dari sesanti Ki Hadjar Dewantoro) mempunyai motivasi dan semangat belajar. Belajar, membaca, berguru adalah kegiatan seumur hidup yang tidak dibatasi umur, tempat dan waktu”. Seharusnya phase di depan+tengah+belakang, itu satu kesatuan bukan layaknya nada “kroncong prothol”simas Bondhan itu bukan! baik sedari pendidikan dasar+menengah + tinggi, adalah kelanjutan phase proses (terminal sifatnya) bukan “keterpisahan”, melainkan keterkaitan hubungan urusan birokrasi antar Ditjen Dikdasmen+/(no vs)Ditjen Dikti bukan?

    ini tinjauan psikologi+sosiologi+budaya+rasa+karsa di dalam diri yang mampu mewarnai latar belakang karakter watak dibalik pola pikir plus sikap dan menyikapi dari seorang individu kebetulan berstatus … , jauh dari feeling administrasi nalar birokrasi logika teknokrat kadang berseberangan (astagrifullah) atau bahkan sejalan (alhamdulillah) dengan latar belakang status pendidikan+ jabatan disandang seseorang…

    mungkin itu latar belakang ulasan dari alasan dicari (saya kutip mbak)”Sayangnya saya tidak menemukan itu pada kebanyakan petinggi, tetapi saya mendapatinya pada orang-orang bawah yang gemar belajar dan mengharapkan kebaikan untuk bangsa ini”.

    .. sambung menyambung menjadi satu (budaya+psikologi+pendidikan= .. sikap petinggi dan calon petinggi-nya ..lantas hendak dimulai dari apa+mana+bagaimana memperbaikinya … Itulah Indonesia …! saya berharap Anda, Kau telah menemukan & memulai lagi menjalani Kau pula mengakhiri tularkan anti virus perbaikannya (kayak lagu Brurry & Dewi Yul itu), semoga. aamiin

  4. ibu Murni
    saya guru di smp pinngiran. saya sering membaca tulisan di blok ibu. sering juga ketika saya berbicara dengan rekan sejawat guru tentang bagaimana memperlakukan siswa, saya merujuk pada tulisan ibu. satu dari sekian yang saya pahami dan selalu saya sampaikan kepada rekan sejawat saya, marilah mendisiplinkan siswa dengan kasih sayang, bukan dengan cara militer ( bentakan dan kekerasan )

  5. Alhamdulillah ….
    Selamat datang di Semarang, apakah ini jawaban atas harapan selama ini?
    Di Semarang tinggal di mana?
    Teteh juga lama di Smg, kirimi teteh nomor yang bisa dihubungi …

  6. saya yakin mbak/ibu murni ramli tidak akan stres menghadapi kondisi yang sangat berbeda dengan di Jepang. birokrasi yang bukan melayani tapi sebaliknya,bukan prestasi yg penting tapi koneksi bahkan ini juga berlaku dalam dunia pendidikan adalah situasi yang sangat menyedihkan yang kelihatannya tidak semakin berkurang setelah reformasi tapi justru semakin menjadi.

  7. Di sekolah saya sering mendengar rekan2 guru yg mengeluh dg beban mengajar 24 jam, harus menyelesaikan administrasi mengajar yg bertumpuk mulai dari perencanaan sampai evaluasi sehingga ada yg sampai berkata kalau benar2 dipenuhi tugasnya tidak akan kober mikir rumah..
    Padahal, jika kita melakukan tugas kita dg sungguh2 tanpa menunda2 waktu, insyaAllah semua akan terasa ringan..
    Betul sekali Bu Murni,sebagai pendidik kita akan memberi byk ilmu ke anak bila kita sendiri mau berbenah diri dg menambah pengetahuan diantaranya melalui membaca.

  8. Banyak orang beranggapan bahwa belajar itu hanya ketika bersekolah/kuliah. Jika sudah lulus, selesai sudah kuwajiban belajar.
    Padahal, belajar itu tidak mengenal waktu dan tempat. Kita harus belajar dari pengalaman diri sendiri/orang lain, belajar dari kesalahan, belajar dari kesuksesan orang lain/bangsa lain dan sebagainya. Ketika kita (lebih luas lagi bangsa kita) tidak mau belajar, ya seperti inilah keadaanya.

  9. bu ngajar di undip? jurusan apa ya, bu? sy pengen diskusi banyak nih

  10. @Nurul Ichsan : Saya di FIB, Jur. sastra Jepang.
    Silakan kirim email dulu.

  11. salam kenal,
    jika mungkin ada waktu, saya akan mengundang anda untuk datang ke sekolah kami. kami sekolah menengah pertama swasta di wilayah Grobogan.

  12. @Pak Wisam : Salam kenal. Silakan kontak via email, Pak untuk membicarakan detilnya. Alamat email saya ada di HOME blog ini. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: