murniramli

Salah Kaprah Sebelum dan Sesudah UN

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah on Mei 20, 2011 at 10:54 pm

Di milis-milis setiap hari tema diskusi yang dibahas hanya seputar UN, dari mulai kelulusan 99%, daerah yang paling jujur dalam pelaksanaan, daerah yang paling sedikit nilai kelulusannya. Setiap hari yang keluar di koran, hanya angka-angka kelulusan SMA ini, SMA itu, kota ini kota itu. Saya agak malas membaca angka-angka itu.Jadi kali ini saya tidak akan membahas kuantitatif UN, tetapi saya akan menulis tentang salah kaprah yang dilakukan sebelum dan sesudah UN.

Sebelum pelaksanaan UN, ramai-ramai anak-anak kelas 3 SMA diajak doa bersama, istighotsah. Saya kira kegiatan tersebut tidak membawa efek kecuali menambah stress anak-anak. Saya bukan orang yang menentang pendekatan agama, tetapi ibadah adalah kedekatan pribadi antara hamba dengan Tuhannya. Maksud saya, ketimbang melaksanakannya berjamaah, dengan memanggilkan guru/penceramah yang dipesankan agar membuat ceramah/doa yang menyentuh  hati sehingga bisa membuat anak menangis (seperti itu yang saya baca di koran) yang sungguh bukan sebuah kekreatifan dan alam berpikir kemajuan, lebih baik menyerahkan sepenuhnya kepada siswa sebagai sebuah ibadah pribadi.

Di dalam semua agama dan ajaran, ikhtiar dan doa adalah kunci utama kesuksesan. Dalam kasus UN, setelah semua anak dibekali dengan bahan-bahan pelajaran dengan muatan yang terukur, dan anak-anak pun sudah belajar jungkir balik, tinggallah dia berserah diri kepada Allah dengan doanya yang khusyuk yang dilakukannya setelah sholat-sholat wajib dan sunnah, serta ketawadhuannya untuk berdiri di malam hari bermunajat kepada Allah (khusus untuk orang Islam).

Namun, saya kira panitia istighotsah UN barangkali berpikir ada anak yang tidak bisa dan biasa berdoa sendiri, sehingga perlu dikumpulkan untuk diajari cara berdoa. Jika ini alasannya, sayang sekali, kenapa sekolah tidak mengajari si anak berdoa, sejak dia mulai masuk di kelas satu dulu? Kenapa pula baru akan UN, baru diajari nilai-nilai religi?Lalu, di mana keluarga si anak, di mana ayah dan ibunya, mengapa tak diurusnya anak yang merupakan titipanNya? Bukankah mengajari anak berdoa dan sholat adalah hal yang azas?

Beberapa hari lalu, saat pengumuman kelulusan dilakukan, saya berpapasan dengan serombongan anak SMA yang mengendarai motor dengan seragam yang penuh dengan coretan.  Tradisi lama corat-coret yang mengekal karena tidak ada yang memberitahu mereka bahwa itu tidak ada gunanya dan hanya hura-hura belaka. Saya tidak tahu, apakah semua siswa melakukan hal itu? Namun, sepertinya ada kecenderungan siswa berotak encer tidak melakukannya, sebab mereka barangkali lebih bisa berpikiran normal.

Jika mengikuti pendekatan istighotsah, semestinya sesudah UN dan dinyatakan lulus, perlu diadakan lagi acara doa syukur bersama🙂

Aksi corat-coret baju lalu sekarang diikuti dengan pawai motor adalah embrio keonaran dan kebringasan. Onar dan beringas, dua-duanya adalah ikon kejelekan.Saya ingat teman-teman juga melakukan aksi corat-coret sewaktu kami lulus SMA. Saya tidak melakukannya karena ingat kebiasaan mamak memberikan baju-baju kami kepada saudara yang membutuhkannya untuk sekolah. Tetapi untuk mengenang teman-teman, saya sudah siapkan buku diary dan minta mereka untuk menuliskan kesan dan pesan di situ.

Aksi corat-coret pasca UN SMA sudah mulai ditiru oleh anak-anak kecil di SD dan SMP. Fenomena ini mengikuti teori, “kebaikan sukar ditiru, kejelekan/kejahatan gampang ditiru”. Atau seperti kata Ustadz saya dulu, “Godaan syeithan gampang diikuti, namun sulit ditolak”. Sekalipun sudah merebak, sekolah dan pemerintah tidak melakukan tindakan apa-apa. Yang ada hanyalah para pejabat yang mengecam saja. Kecaman dan kritikan tanpa saran perbaikan sudah bukan jamannya lagi di era semua penduduk dunia bergerak pada peradaban yang lebih baik.

Oleh karenanya, aksi corat-coret dan keinginan untuk corat-coret pasca lulus sekolah perlu disalurkan dalam bentuk yang positif. Banyak ide dan kekreatifan yang bisa kita pikirkan. Saya yakin semua orang punya ide-ide itu. Kalau kesulitan menemukan ide, cobalah cara berpikir di luar kotak, yaitu melihat kenyataan dan permasalahan dari sudut pandang yang lain. Caranya? Yang iseng adalah berdiri dengan posisi terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas🙂 Yang tidak iseng adalah pergi ke perpustakaan, baca buku dan temukan wawasan dan gagasan baru. Atau pergilah berjalan-jalan menghirup udara segar dan tajamkan hati untuk memahami kenapa sebuah aksi terjadi.

Berikut ini daftar aksi yang mungkin bisa dilakukan sebagai ganti aksi corat-coret :

1. Seperti mamak saya dan mamak yang lain lakukan, kumpulkan baju-baju seragam untuk disumbangkan, atau kalau mau jalan otak bisnisnya, dibazarkan di daerah miskin.

2. Kumpulkan buku pelajaran, tas-tas sekolah, sepatu, dll yang sudah tidak mau dan tidak perlu lagi dipakai. Lalu, sumbangkan atau bazarkan sama dengan nomor 1.

3. Sekolah menyiapkan kertas besar untuk dicorat-coret. Supaya hasil corat-coret tidak ngawur, bisa juga sebelumnya dibuatkan pola gambar yang bagus, misalnya gambar tangan melambai, lalu anak-anak tinggal memadatinya dengan tanda tangan, komentar, dll.

4. Pengumuman kelulusan diberikan dalam bentuk surat kepada orang tua. Jadi, yang hadir ke sekolah adalah orang tuanya. Muridnya di rumah saja🙂

5. Corat-coret baju yang nyeni. Jika seandainya tetap ingin corat-coret baju, maka usahakan dilakukan dengan nilai estetika. Artinya bukan sekedar menggunakan pilox atau tanda tangan gedhe-gedhe, tetapi setiap siswa diminta menggambar dan tulisan atau tanda tangan kecil saja. Untuk SMA di Jawa bisa saja dibuat di atas kain batik, sehingga hasil akhirnya nanti kain panjang batik yang bisa dijual atau dibuat baju lagi oleh murid-murid yang lulus.

6. Pengumuman kelulusan dibarengkan dengan kegiatan seminar. Kalau bisa seminar sampai sore dengan mengundang pembicara/selebritis yang digemari remaja. Dan tentu saja ada larangan dari sekolah untuk membawa pilox dan mencorat-coret baju.

Enam usulan tadi, silakan dilanjutkan dengan ide-ide aksi positif pasca pengumuman kelulusan. Namun, langkah yang paling efektif adalah mengeluarkan peraturan hukum yang melarang aksi tersebut dan memberlakukan sanksi keras kepada pelakunya. Langkah ini dapat diambil jika semua pihak bersepakat bahwa aksi corat-coret dan pawai motor merugikan orang banyak.

  1. Ide yg cemerlang… Tahun depan bisa dicoba. Rekan guru smp sepertinya masih bisa mempraktikkannya saat kelulusan smp sebentar lagi. Terimakasih.
    Wassalam
    guru tengah hutan🙂

    apakabar mbak?

    • @Pak Urip : alhamdulillah sehat wal afiat,
      Pak Urip, tinggal di Banjarmasin kah ?
      Saya ada kegiatan seminar di UNLAM 8-9 Juni 2011.

  2. setuju bu guru saya,mudah-mudah banyak orang berfikir seprti sampean

  3. Salam kenal Bu, Terkait dengan aktifitas istiqosah para siswa (umumnya SMP/SMA/SMK)yg notabene tak lepas dari prakarsa gurunya tersebut saya sependapat dengan Ibu, memang kegiatan semacam itu saya anggap sebagai sesuatu yang berlebihan. UN adalah hal biasa dan wajar dihadapi oleh para siswa, layaknya ulangan harian. Dengan kegiatan istiqosah/doa bersama/pengajian massal, dll akan menjadikan UN sbg momok bagi siswa. Kegiatan tsb merupakan cermin dari ketidaksiapan dan ketakutan siswa/guru utk menghadapi UN. Untuk melatih kemandirian siswa cukuplah para siswa dihimbau agar lebih giat beribadah/mendekatkan diri(tawakal) pada-Nya. Saya kira siswa seusia SMP/SMA mampu untuk melakukan itu.
    Tentang aksi coret-coret pasca UN memang sesuatu yg memprihatinkan bagi kita semua. Saya berpikir, aksi corat-coret, pawai keliling hingar-bingar di jalan raya merupakan fakta bahwa ketercapaian tujuan pendidikan hanya pada ranah kognitif. Untuk ranah afektif…NOL BESAR. Siswa yang berkepribadian dan bermoral tak akan berbuat seperti itu. Apakah di Jepang juga ada aksi corat-coret, Bu?

    • @Masteha : Salam kenal juga Pak/Bu. Di Jepang saya belum pernah melihat aksi corat-coret, sebab tdk ada ujian kelulusan SMA, dan kelulusan hampir 100%, lalu tdk ada pengumuman rangking2an.

  4. artinya kekagalan sekolah untuk membawa pesan moral dan memberi nilai2 positif pada murid2. walau tak sepenuhnya setuju, saya sepakat bila dalam istigosah juga harus disampaikan mengenai pentingnya kemandirian dan kesiapan psikis pasca un. nah pasca un inilah yang tidak pernah (atau jarang) tersentuh oleh sekolah2. padahal pasca un juga menentukan sikap dan kesuksesan mereka setelah lepas dari sekolah. salam. ditunggu kunjungan baliknya bu guru. BTW, masih di jepang ya?

  5. benar sekali dengan pendapat bu guru… yuk kita mulai dari diri qt masing-masing. menjadi seorang GURU yang Pantas(pantas di gugu dan di tiru) baik kognitif afektif maupun psikomotornya….

  6. thx infonya…keep posting pak

  7. thx infonya..sangat bermanfaat pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: