murniramli

Sampaikan Ide Secara Tertulis

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Organizational Learning on Mei 20, 2011 at 1:26 am

Salah satu kelemahan pimpinan dalam organisasi adalah ketidakpandaiannya dalam mendelegasikan tugas kepada bawahannya. Tindakan ini justru akan sangat menghambat jalannya organisasi dan suksesnya setiap kegiatan yang melegakan semua pihak (bukan melegakan ketua saja).

Proses delegasi adalah mutlak jika seorang pemimpin tidak mau mati berdiri karena harus menangani semua tugas-tugas. Ada banyak pemimpin yang memiliki karakter anti kemapanan, dan selalu muncul di dalam rapat-rapat dengan ide-ide brilian. Ide-ide itu memang akan disampaikan kepada semua bawahannya, tetapi hanya penjelasan ringkas. Tidak ada keterangan tertulis yang menjelaskan asal muasal/latar belakang program, bagaimana target dan tujuannya, bagaimana pengelolaannya, dan bagaimana evaluasinya. Semuanya hanya berupa penjelasan makro.

Apa akibatnya jika terjadi delegasi yang kurang matang seperti itu? Yang akan terjadi adalah pemborosan waktu, energi dan tentu saja dana. Karena ketidakjelasan pendelegasian, si bawahan akan bolak-balik bertanya, baik secara langsung maupun via telepon. Bawahan juga tidak berani mengambil keputusan mandiri saat ada permasalahan di lapangan karena dia tidak tahu sebatas mana yang boleh dia lakukan dalam program tersebut, dan sebatas mana yang dilarang.

Supaya tidak terjadi hal yang demikian, maka sebuah ide yang dilontarkan oleh seorang pemimpin atau non pemimpin harus dituangkan dalam bentuk tertulis yang dibagikan kepada semua bawahan/anggota. Uraian ide tersebut formatnya boleh apa saja, tetapi paling tidak semacam proposal proyek/program yang menjelaskan latar belakang, tujuan, target, waktu dan tempat pelaksanaan, pendanaan, siapa saja yang terlibat (pelaku), tugas-tugas dan wewenang masing-masing pihak.

Jika telah ada uraian tertulis, maka pemimpin hanya perlu menunggu laporan hasil saja, atau jika diperlukan konsultasi untuk masalah-masalah yang tidak dituliskan dalam uraian kerja tersebut. Dan si pemimpin dapat mulai mengerjakan hal yang lain sambil tetap mengontrol program bersangkutan.

Sayangnya budaya tulis menulis sangat lemah di antara kita. Banyak orang lebih suka “berkhayal” dengan ide-idenya, dan lebih suka mengoceh saja tentang rencana-rencananya. Tetapi mungkin juga hal itu dilakukan karena tidak semua orang pandai menuangkan ide dalam bentuk uraian tertulis. Tetapi menuangkan ide dalam bentuk tulisan bukanlah masalah bakat dan talenta. Semua orang bisa melakukannya asalkan dilatih dan mau belajar.

Untuk melatih siswa-siswa di sekolah menyampaikan ide dalam bentuk tertulis, banyak cara yang bisa dilakukan guru. Sebelumnya perlu didefinisikan terlebih dahulu bahwa kata “tertulis” juga bermakna uraian dalam bentuk gambar.  Misalnya ketika murid-murid diminta idenya untuk memperingati hari bumi yang beberapa waktu lalu kita peringati, tuntun mereka untuk tidak sekedar bicara, tetapi harus menyampaikan ide yang runut. Jika hanya sekedar diskusi, bolehlah ide disampaikan dengan gamblang, tetapi pelatihan kepada siswa agar dia mampu menelurkan idenya dalam bentuk tulisan, harus dilaksanakan pada kelas-kelas yang lebih dari sekedar diskusi. Pendekatannya akan lebih tepat apabila digunakan pendekatan proyek kelas. Sehingga siswa akan mengerjakannya tidak hanya sejam dua jam pelajaran, tetapi dapat dialokasikan waktu seminggu atau lebih.

Untuk dapat menyampaikan ide secara tertulis, tentu saja yang perlu dimatangkan adalah kemampuan bahasa tulis anak. Di tingkat SD dan SMP, siswa belum wajib hukumnya membuat proposal rumit seperti yang diajarkan di level universitas. Para siswa dapat menyampaikan idenya secara sederhana dengan membuat gambar, karikatur, atau skema kegiatan dengan sedikit tulisan. Tetapi, penggambaran/penguraian tersebut harus memuat, apa tujuannya (jika anak belum mengerti apa arti kata tujuan, maka dapat dipakai kata, apa gunanya), untuk siapa kegiatan itu, apa saja yang dilakukan, kapan, berapa lama, di mana, dan berapa orang yang akan melakukannya, serta bagaimana memperoleh dana/bahan yang akan dipakai. Secara mudahnya, menyampaikan ide seperti menguraikan perjalanan dari Semarang ke Jakarta.

Anak-anak SMP dan SMA biasanya akan lebih terlatih dengan penyampaian ide secara tertulis, apabila mereka terlibat dalam kegiatan organisasi di sekolah, baik OSIS, Pramuka, PMR, maupun organisasi lainnya. Mereka biasanya berlatih menulis proposal dengan pola peniruan proposal yang dilakukan kakak kelasnya, terutama sub-sub bagian dalam proposal. Lama-lama keahlian menyusun proposal sudah seperti keahlian menulis diary🙂

Menyampaikan ide secara tertulis tidak saja untuk keperluan penulisan proposal penelitian, tetapi seperti diuraikan di atas, keahlian dan kebiasaan ini perlu dikuasai oleh pemimpin agar tidak terjadi salah isi penugasan kepada bawahan.

  1. membiasakan menulis itu yang sulit bagi saya, mungkin juga bagi banyak orang lainnya. sehingga ide, gagasan memang sering diawang-awang, sulit diwujudkan.

  2. saya guru SD yang gak mau ketinggalan ama tulisan2 bu murniramli. sarat edukasi. pantas untuk dibincangkan kembali. karena ide memang harus ditulis, dibuat menyejarah. termasuk lewat blog. ditunggu kunjungan baliknya. salam

  3. termasuk nulis di blog ya Bu?🙂

    eh, ngetik masud saya, ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: