murniramli

Sekolah yang bagus adalah…..

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, SMA on Mei 20, 2011 at 11:49 pm

Pernah ada yang bertanya kepada saya seperti apakah sekolah yang bagus itu? Kenapa sekolah yang bagus, kenapa bukan sekolah yang ideal? Barangkali karena sekolah ideal hanya ada dalam wacana saja dan tidak ada pada faktanya. Sementara sekolah yang bagus adalah penilaian yang sifatnya subjektif sehingga lebih mudah ditemukan. Pertanyaan detilnya adalah, “Sekolah apa yang bagus untuk anak saya?”

Seminggu yang lalu, saya dan teman mengantarkan anaknya untuk mendaftar ke sebuah sekolah RSBI (sudah SBI ?) di kota Semarang. Secara online peserta yang mendaftar sudah lebih dari 2 ribu orang, dan pada saat kami datang ke sekolah bersangkutan sudah disiapkan tenda seperti ada hajatan besar untuk para siswa menunggu giliran verifikasi dokumen. Di antara para pendaftar yang mengantri, ada seorang Ibu yang ingin sekali anaknya masuk SMA favorit tersebut, sementara kalau dilihat nilai anak jauh di bawah rata-rata pendaftar yang lain, yang umumnya juga murid SMP RSBI.

Apakah SMA tersebut bagus untuk anak saya? Untuk menjawab hal ini, orang tua harus mengenali terlebih dahulu seperti apa tabiat, motivasi belajar, dan karakter anak masing-masing. Jika, anak adalah orang yang berani berkompetisi, tidak mudah stress menghadapi persaingan, tidak minderan, dan tentu saja berotak encer, tidak mengapa dimasukkan ke sekolah-sekolah favorit yang isinya memang anak-anak yang seperti itu. Memaksakan anak memasuki sekolah yang murid-muridnya telah memiliki karakteristik sama (gemar belajar, gemar berkompetisi, selalu ingin menjadi nomor satu, otak encer), sementara si anak tidak memenuhi kriteria tersebut, bak mengirimkan anak ke penjara.

Lalu, sekolah apa yang bagus untuk anak saya? Jawabannya sekolah yang akan membuat anak anda nyaman belajar, dan selalu termotivasi untuk mengetahui sesuatu. Nah, bagaimana caranya mendapatkan informasi sekolah semacam itu? Orang tua tidak perlu mewawancarai guru atau kepala sekolah, tetapi yang perlu dilakukan adalah orang tua harus menjadi investigator dengan target siswa sekolah bersangkutan. Yang bisa menilai sekolah telah berhasil mendidik dengan baik, hanyalah siswa yang bersekolah di sekolah tersebut. Tambahkan pula responden yang harus diwawancarai adalah orang tua si siswa, sebab beliau yang lebih mengetahui perubahan sikap dan perilaku anaknya, bukan pihak sekolah. Wawancara dengan guru dan pengelola sekolah tidak perlu dilakukan karena biasanya apa yang akan disampaikan sudah tertulis di pamflet sekolah.Jadi, jika tidak ada pamflet, barulah boleh mengorek informasi dari kedua pihak tersebut.

Dengan demikian ada dua langkah pokok untuk mengetahui mana sekolah yang bagus untuk anak Anda, yaitu pertama, kenali anak Anda, dan wawancarai para siswa di sekolah yang ingin dimasuki. Sebagai orang tua tidak usah terlalu berambisi ingin memasukkan anak ke sekolah favorit, sebab semua sekolah pada dasarnya menerapkan kurikulum yang sama. Baik tidaknya pembelajaran di sekolah tergantung pada gurunya yang mampu menyetel cara mengajar dengan mengikuti karakter dan kemampuan siswa.

Kemarin, saya dan teman dosen sempat membincangkan masalah sekolah di daerah. Lalu, seorang teman menceritakan tentang sebuah SMK di Papua, yang memfokuskan pada produksi ikan karena letaknya dekat dengan laut. Siswa-siswa di sekolah tersebut diajari ilmu dasar menjadi nelayan dan bagaimana membudidayakan ikan dengan model praktek langsung. Hingga pada suatu ketika, produksi ikan mereka menumpuk dan tidak dapat lagi dipasarkan. Siswa-siswa kemudian mencari informasi pengolahan ikan, dan ketemulah mereka dengan ikan sarden yang didatangkan dari tanah Jawa. Mereka kemudian meminta salah seorang gurunya yang berasal dari Jawa untuk menjelaskan dan mencarikan info daerah penghasil ikan sarden tersebut. Daerah yang dimaksud adalah Banyuwangi. Maka berangkatlah serombongan siswa-siswa SMK tersebut ke tanah Jawa untuk belajar cara membuat ikan sarden.

Mendengar itu, saya langsung mengacungkan jempol.  SMK di Papua tersebut adalah sekolah yang bagus untuk anak-anak di manapun. Terlepas dari siswanya yang pandai atau gurunya yang pandai, sekolah tersebut telah menciptakan atmosfer “mau maju”  di lingkungan civitasnya. Sekolah telah berhasil memfungsikan diri dengan baik, sehingga setiap anak mengerti, “untuk apa dia bersekolah?”

Bukankah seperti itu sekolah yang bagus untuk anak Anda?

Menurut penelitian psikologi, anak di usia SMP adalah dalam fase mencari jati dirinya. Sementara anak pada usia SMA sudah memiliki gambaran kasar akan ke mana hidupnya kelak. Jika pendidikan dilakukan dengan benar, maka semestinya siswa-siswa SMA sudah tahu mau jadi apa dia nantinya. Kalau setingkat siswa SMA belum juga mempunyai cita-cita dan bayangan hidup lima tahun ke depan, maka guru dan orang tua harus bekerja ekstra membantunya menemukan cita-citanya.

Jadi, kalau anak Anda tidak berotak encer, bukan berarti tidak ada sekolah yang bagus untuknya. Sebagai orang tua berhenti saja mengeluh dan memarahi anak karena nilai-nilainya hancur. Kalau sudah tidak bisa anak menunjukkan prestasi belajarnya, maka itu adalah tanda SOS yang disampaikannya bahwa dia tidak cocok dengan model belajar di sekolah atau ada masalah yang tidak mampu dia atasi sendiri.

Sayangnya banyak orang tua yang tidak peduli. Ketika nilai anak tak sesuai harapan, maka dipaksanya anak belajar dengan mengirimnya ke bimbel-bimbel. Mengirim anak ke bimbel sama artinya dengan tidak lagi mempercayai pendidikan di sekolah. Jika memang sudah tidak cocok lagi sekolah mendidik anak-anak kita, maka yang harus kita lakukan adalah mendatangi sekolah, menanyakan kenapa dan bagaimana, apa yang perlu dibantu, apa yang perlu dilakukan oleh guru. Jika guru dan kepala sekolah menerima Anda dengan tangan terbuka, maka Anda tidak salah memilih sekolah tersebut. Sekarang, mulailah membicarakan masalah yang dihadapi anak Anda. Jika pihak sekolah berusaha memberikan respon positif dengan melakukan pembaharuan, dan itu terlihat pada perkembangan belajar anak Anda, maka itulah sekolah yang bagus untuk anak Anda.

  1. Jadi ingat dulu waktu SMP dan SMA, aku dimasukkan ke bimbel oleh orang tua. Maklum, saya termasuk peringkat rendah di sekolah. Sebenarnya tidak ada pengaruh besar dari bimbel, sebagian besar yang terasa hanyalah kepenatan. Saya bahkan sudah tidak meneruskannya beberapa bulan sebelum ujian. Hasilnya malah diterima di sekolah dan perguruan tinggi negeri. Kuncinya hanyalah motivasi belajar (bukan motivasi lulus) dan berlatih mengerjakan soal.
    Untuk masalah sekolah, dari pengalaman, menurut saya semua standar. Semua hanya mengajarkan buku teks. Saya rasa yang membuat berbeda adalah dari guru. Saya ingat guru sejarah saya waktu sma, bagaimana beliau dapat membuat saya tertarik dengan sejarah. Tidak hanya menghapalkan fakta-fakta, melainkan menceritakan sebuah cerita, ada alur cerita, yang sepertinya cara ini cocok untuk otak saya. Begitu juga dengan guru fisika, kurasa beliau satu-satunya guru yang menceritakan darimana sebuah rumus dapat tercipta. Kalau guru-guru lain hanya memberitahu cara menerapkan rumus tersebut di dalam soal.

  2. Menurut mbak murni ramli, guru yg bagus itu gimana? ….Kenapa tidak tanya guru yg ideal itu gimana? Nah gimana tuh guru ideal menurut mbak murni? Di jepang apakah ada guru ideal? Boleh turut denger kan ceritanya?

    Terimakasih.

    • Guru yang bagus banyak definisinya, tergantung sudut pandangnya. Tp jk seseorang mampu menjadi motivator bagi seseorang yg lain, mk dia adalah guru yang bagus. Guru ideal dan guru bagus sy pikir sama saja Pak Urip di manapun dia berada hehhe…
      Nanti saya kisahkan teman2 guru sy di Jepang

  3. bulan maret lalu saya pernah menulisnya bu. di http://gurusydi.blogdetik.com/?p=136 saya lihat seperti ada usaha hegemoni penguasa atas pendidikan negeri ini. walau telah diatur PP 47 th. 2008 pasal 9 ayat 1, namun penguasa memberi kuasa pada sekolah2 menguras kekayaan calon muridnya melalui komite. aturan diberlakukan karena penguasa lepas tangan terhadap pengembangan sekolah melalui otonomi sekolah, sekolah berbasis manajemen. gitu kan bu?

  4. saya tertarik untuk mengetahui pendapat ibu mengenai homeschooling🙂

    • @Mba Dida : homeschooling bagus2 saja sbg salah satu alternatif sistem sekolah formal yg tdk cocok dg individu/siswa tt. Cuma sayang, tdk semua ortu mampu menjadi pembina atau mampu menyelenggarakan homeschooling u anak2nya di rumah. Untuk ibu yg bekerja, atau ibu yg tdk berpendidikan, sy pikir HS kurang bisa diterapkan.Sistem sekolah massa yg mampu menampung semua anak tanpa pandang bulu itulah sistem yg diterima saat ini sbg model pendidikan rakyat. HS boleh dikata sebagai pelengkap sistem sekolah formal yg ada.

  5. mengapa banyak org menyalahkan sistem pnddkan formal?
    mengapa org2 besar dan penemu2 mayoritas hidupnya minim fasilitas?
    marilah membangun diri bkn skdar mencari kambing hitam

    • @Determity :
      1. Saya pikir bukan menyalahkan sistem pddk formal, tetapi mengkritisinya. Dan sikap kritis berlaku tdk saja thd pendidikan formal, tp non formal dan informal pun sah-sah saja.
      2. Orang2 yg minim fasilitas dan berada dalam kondisi marjinal secara psikologis memiliki semangat maju dan tdk ingin terus2an dalam kondisi yg serba susah. mungkin begitu barangkali hhehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: