murniramli

Menertibkan Penumpang Kereta

In Serba-serbi Indonesia on Juni 4, 2011 at 12:35 am

Kereta yang penuh sesak di dalam dan di atap-atapnya barangkali merupakan pemandangan yang akan kita temui di negara-negara berpenduduk padat dengan angka kemiskinan tinggi dan gap penduduk kaya dan penduduk miskin bagaikan jurang. Lalu, bagaimana menertibkan penumpang yang bandel yang lebih suka atau terpaksa naik ke atap kereta?

PJKA tampaknya belum kehabisan ide untuk menertibkan para penumpang nakal yang menikmati sekali perjalanan di atap kereta. Dari mulai semprotan air warna-warni sampai papan cowboy bertegangan tinggi. Kelihatannya, sistem baru akan tetap tidak berjalan baik, selain beberapa pihak mulai mengkritik akibat fatal yang akan diderita konsumen.

Kalau tidak pernah merasakan kereta Jabotabek (kereta tersesak di Indonesia), maka mungkin kita tidak tahu bagaimana kegerahan, ketidaknyamanan orang-orang yang ada di dalam kereta. Mungkin banyak yang ngedumel, “Ngapain sih ngga naik bis saja? daripada bejubel di kereta?” Saya mungkin bisa mewakili masyarakat kelas bawah menengah untuk menanggapi dumelan tersebut, “Karena kereta lebih murah dan nggak macet”.

Katanya tidak boleh mencari kambing hitam dalam setiap permasalahan, tetapi menurut saya kambing hitam dan kambing putih perlu dicari 🙂 agar permasalahannya dapat dipecahkan. Ada dua pihak utama yang mesti memperbaiki diri, yaitu pengelola dan penumpang.

Dari segi penumpang, memang mereka tidak bisa dilarang untuk tidak naik kereta kalau sudah penuh sesak,apalagi memaksa untuk tidak naik ke atap, jika mereka beralasan harus sampai di kantor jam 8 pagi tepat. Bertambah susah lagi bagi para pegawai/karyawan yang akan kena denda berupa potongan gaji jika terlambat tiba di kantor, mereka pasti lebih nekat. Beragam tekanan akan memaksa seseorang untuk berbuat nekat. Jika masih ada pilihan kendaraan umum, maka pastilah orang yang berpikir akan memilih jenis kendaraan yang bisa mengantarkannya ke tempat tujuan dengan segera dan tentu saja dengan selamat. Tetapi pilihan-pilihan tersebut tergantung pada uang dan nasib. Kalau ada uang, tidak ada kendala dan halangan menggunakan bis atau taksi. Kalau nasib lagi baik, tak mengapa menerima tawaran tumpangan mobil dari teman. Sayangnya, sebagian besar penumpang kereta tidak memiliki pilihan tersebut. Kalau begitu apa yang perlu diperbaiki dari sisi penumpang?

Yang pertama adalah mengubah pemahaman dan mindset. Pemikiran “Yang penting sampai” harus diubah menjadi “Yang penting sampai dengan selamat”. Cara pandang “Resiko gue tanggung sendiri” harus diubah menjadi “Resiko mau tidak mau akan ditanggung oleh orang lain juga”. Pola pikir “Yang penting GUE ndak kenape-nape, selamet sampe tujuan” harus diubah menjadi “Yang penting SEMUA harus nggak kenape-nape, selamet sampe tujuan”. Cara berpikir “Yang penting GUE disiplin, orang lain terserah mo disiplin apa kagak” harus diubah menjadi, “Yang penting GUE dan ORANG LAIN kudu disiplin”. Atau pikiran lari dari masalah, “Itu bukan urusan gue” harus diubah menjadi, “Itu urusan gue, karena gue adalah penumpang”.

Intinya, kepedulian terhadap masalah yang berkembang, sikap dan perilaku yang menginginkan kebaikan, pengetahuan tentang apa yang baik bagi penumpang, dan sikap mengutamakan kepentingan bersama, mesti dimiliki oleh para penumpang. Kalau tidak bisa memiliki itu, berhentilah menasehati anak-anak tentang empati, kepedulian, dan segala tetek bengek nilai-nilai moral! Bagaimana mungkin orang dewasa berani bercakap yang baik-baik kepada anak-anak, sementara mereka tidak bisa menerapkannya sendiri?

Lalu, dari sisi pengelola yang dalam hal ini adalah PJKA atau pemerintah. Kereta yang disediakan untuk rakyat kecil sudah penuh sesak, tua, dan tidak lagi memberikan kenyamanan, yang oleh karenanya perlu menambah jumlahnya, membuat rel-rel tambahan, atau membangun sistem perkeretaan layang atau bawah tanah. Sistem perkeretaan bawah tanah dan kereta layang (maksudnya di jalan layang), menjadi alternatif yang dipergunakan beberapa negara untuk mengantisipasi masalah kemacetan. Karena fasilitas kereta bawah tanahnya sangat memadai, kesibukan di bawah tanah lebih besar ketimbang di atas tanah di Jepang.

Apa alasan pemerintah tidak mau memperbaiki sistem kereta untuk rakyat kebanyakan (rakyat miskin adalah lebih banyak daripada rakyat kaya)? Jika karena anggaran, berikan kami buku catatan keuangan negara, agar kami bisa mengajari Anda-Anda di pemerintahan untuk menjadi pengelola uang yang baik. Rakyat yang tidak berpunya atau mempunyai penghasilan pas-pasan, sangat terlatih memilah-milahkan pendapatan mereka untuk keperluan yang sangat pokok, menghemat sana-sini supaya tetap survive, dan bukan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak manfaat.

Setiap hari ada saja pejabat yang korupsi, ada yang tertawa-tawa sambil dengan sombong mengatakan, “biar saja hukum dan kepolisian yang membuktikannya”, tetapi sebelumnya dia sudah menyumpal orang hukum dan kepolisian dengan  “uang”. Sepertinya sudah bebal telinga mereka mendengarkan perkataan suci tentang larangan mengorup uang negara. Duh, kalau semakin banyak perilaku semacam ini, pendidikan karakter tidak perlu dimasukkan dalam substansi ajar di sekolah, tetapi sangat sangat perlu dimasukkan dalam substansi ajar PRAJABATAN atau materi seleksi awal anggota-anggota dewan dan pejabat negara. Karena bukan anak sekolah yang tidak berkarakter, tetapi orang dewasa yang lebih tidak berkarakter.

Untuk membangun sistem kereta yang baik untuk rakyat kebanyakan, yang dibutuhkan hanyalah TEKAD dan NIAT IKHLAS para pemegang kebijakan. Kalau sudah ada TEKAD dan NIAT, semuanya pasti akan bisa dijalankan. Bukankah para penumpang nakal di atap kereta juga mengandalkan TEKAD dan NIAT yang kuat untuk memilih cara berkereta? Komitmen sedikit sekali dimiliki oleh orang-orang penting di negeri ini. Perjuangan dan pengabdian mereka tidak murni untuk rakyat, tetapi murni untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Kalau sudah lebih banyak dan lebih baik fasilitas kereta di Jabotabek, maka saya yakin tidak akan ada yang naik ke atap kereta, kecuali yang memang bebal. Nah, untuk yang bebal seperti inilah, pengelola dapat menerapkan hukum yang keras. Bahkan saya setuju dengan sistem papan cowboy untuk mereka. Sewaktu sistem lalu lintas sudah dibangun dengan baik di Jepang, para polisi Jepang menempeleng dan memukul orang-orang yang masih bandel menyeberang di sembarang tempat. Saya kira, kekerasan harus ditempuh dan dikenakan kepada orang-orang yang bebal. Manusia diajar dengan akalnya, binatang diajar dengan cambukan, begitu kata orang-orang dulu. Orang yang bebal sama saja dengan binatang yang hanya mengerti ini boleh dan tidak boleh, dengan cambukan keras di badannya.

Tidak sekedar memperbanyak jumlah gerbong kereta, pengelola perlu menyiapkan sistem berkereta dan rela mengeluarkan uang lebih untuk mensosialisasikan sistem tersebut melalui media, ceramah ke RT-RT, desa-desa, kantor-kantor pemerintah, dll.Untuk menjalankan sistem perkeretaan yang tertib, para pegawai yang tidak mau kompromi dan tidak menghendaki kebaikan bersama, harus mendapat perlakuan yang sama dengan penumpang bebal. Bolehlah tidak dikerasi, tetapi diberi tawaran pemecatan atau bekerja serius.

Sistem perkeretaan meliputi bangunan stasiun yang tertutup dari masuknya penumpang gelap dan terbentengi dari pemukiman penduduk. Penjual-penjual makanan di dalam kereta harus diatur dan diberikan tempat berjualan layak di stasiun, bukan di dalam kereta. Ini sudah berjalan di kereta-kereta eksekutif, mengapa tidak dijalankan juga di kereta ekonomi? Juga termasuk membereskan sistem ticketing dengan sistem mesin, bukan sistem punch (bolong), atau pemeriksaan manusia. Karena pemeriksaan manusia masih bisa salah, apalagi kalau mental pemeriksa kurang baik. Ticketing dengan mesin lebih menjamin kevalidan, tentu saja dengan asumsi manusia dan sistem yang menjalankannya tidak rusak. Di dalam kereta, anjuran kesopanan berkereta mesti disampaikan dan terdengar jelas di semua gerbong, kalau perlu kereta perlu dipasangi iklan-iklan yang menyampaikan etika berkereta. Informasi tentang tempat-tempat penting di setiap stasiun perlu disampaikan agar penumpang tidak salah naik dan turun.

Sistem busway trans Jakarta sudah memberikan contoh baik, bagaimana penumpang bisa diajak menjadi tertib dengan sistem transportasi yang juga tertib. Ini mestinya menjadi pelajaran bagi PJKA yang sudah berusia tua sekali. Mestinya, dalam umurnya yang semakin menua, banyak pengalaman yang bisa dipetik, dan kebaikan hidup yang mesti dicapai.

Jadi, jika pengelola TERTIB, maka penumpang pun pasti akan TERTIB.

Iklan
  1. Setuju Bu Murni.. Mudah-mudahan di baca pihak yang berkewajiban membereskan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: