murniramli

Sampah

In Serba-serbi Indonesia on Juni 13, 2011 at 8:49 pm

Kalau ditanya apa yang paling berkesan selama berada di Jepang, banyak orang akan menjawab masalah sampah yang tertangani dengan baik. Dan tak sedikit tulisan mengenai topik ini yang telah saya tuliskan di blog ini, tetapi tetap banyak saja ide yang muncul untuk kembali diangkat.

Saya tidak tahu apakah ada yang pernah melakukan penelitian tentang pemahaman dan perilaku masyarakat menanggapi masalah sampah di tanah air. Tetapi salah satu hal yang ada dalam rencana penelitian “iseng” yang ingin saya lakukan adalah mengenai topik ini.

Ketika berbicara dengan teman-teman dosen masalah persampahan, tak sedikit yang bersikap pesimis bahwa masalah sampah di tanah air tidak akan teratasi karena mental orang Indonesia yang tidak bisa diubah. Dan memang benar demikian, sebab di antara teman dosen ada pula yang bermental demikian. Beberapa kali saya amati teman-teman makan dan melempar bungkusan plastik, tissue, botol minuman begitu saja. Tanah terbuka, rerumputan, space kecil di bawah pohon, meja, bahkan halaman rumah sendiri adalah tempat sampah raksasa.

Kemarin baru saja saya sekendaraan dengan seseorang yang disegani oleh banyak teman dosen karena statusnya (bukan karena ilmunya menurut saya). Tiba-tiba saja beliau meminta supir untuk mengurangi laju kendaraan di samping sebuah tanah kosong, dan saat jendela mobil terbuka, terlemparlah tissue ke tanah tersebut. Demikian pula ketika beliau menawari saya sebotol minuman kecil. Ketika beliau meminta botol kosong saya untuk dibuang ke luar jendela mobil, dengan alasan isinya belum habis, saya menolaknya dan memasukkan botol tersebut ke dalam tas.

Jika Anda adalah dosen tersebut apa yang akan Anda lakukan dengan botol kosong tersebut? Dan jika Anda adalah saya,bagaimana menyikapi kondisi di atas?

Saya tidak tahu mengapa dosen terhormat tersebut memiliki mental yang demikian. Secara personal, ingin sekali saya teliti bagaimana keluarga besarnya menyikapi dan berperilaku tentang masalah sampah. Apakah anak-anaknya juga berlaku sama, atau ada pengaruh pengajaran di sekolah sehingga anak lebih peka terhadap alam dan lingkungan.

Saya tidak ingin mengulang-ulang bahwa di dalam keluarga kami, bapak dan mamak adalah orang yang sangat resik. Dan dari merekalah saya belajar sejak dulu bahwa bungkus permen, tissue, dan bungkusan plastik makanan harus dimasukkan dalam kresek kecil di dalam tas. Sisa-sisa makanan jika masih dapat dimakan oleh hewan, maka harus diberikan kepada ayam di rumah. Kami sering memelihara kucing di rumah, dan ada seekor yang sekarang ini akrab sekali dengan keluarga. Mamak tidak pernah memberinya sisa makanan. Sekalipun kami makan sangat sederhana, kucing tetap diberi jatah layak dan diperlakukan sebagaimana makhluk hidup lainnya. Alhasil,  si Najib, kucing kami, juga tertib, tidak buang kotoran sembarangan, dan selalu bersih tempat makannya🙂

Saya pikir memang benar adanya bahwa perubahan Indonesia menjadi lebih baik akan terjadi dengan diawali perubahan sikap dan mental orang Indonesia. Dan bukan anak-anak yang mesti dipaksa bermental dan berkarakter yang baik, tetapi orang dewasalah yang harus diperbaiki (sekalipun sulit). Bayangkan, seandainya banyak dosen yang mentalitinya seperti dosen terhormat di atas, maka apa yang akan terjadi dengan mahasiswa-mahasiswanya, dengan keluarganya, anak-anaknya?

Saya tidak yakin 100% bahwa mental orang Indonesia tidak bisa diubah. Ada teman dosen yang lain yang mengatakan bahwa membuang sampah sembarangan adalah kampungan. Saya tidak sependapat. Kenapa selalunya perilaku yang kurang apik dilinearkan dengan perilakunya orang kampung/orang desa?Berbicara keras dalam kendaraan, kampungan. Meludah sembarangan, kampungan.Berbaju dengan warna menyolok, kampungan. Berdandan menor….juga kampungan.Padahal tak sedikit orang kota yang berpendidikan dan tidak berasal dari kampung yang melakukan tindakan serupa. Setiap kampung, apalagi jika dilihat dari etniknya, dihuni oleh orang-orang yang santun dan tidak santun. Perilaku tersebut bukan karena sekolah yang mereka masuki sebab banyak yang tidak bisa bersekolah, tetapi didikan dalam keluarga. Berbicara keras menjadi karakter beberapa suku bangsa di Indonesia, berbaju menyolok pun menjadi ciri khas beberapa etnik.

Semestinya pengkategorian yang tepat untuk memisahkan orang yang tertib dengan tidak tertib adalah kelompok terdidik dan tidak terdidik. Namun kategori ini tidak relevan di tanah air. Sebab banyak orang terdidik yang tidak santun, dan banyak orang yang tidak terdidik justru lebih santun. Dengan demikian, pendidikan di tanah air barangkali telah jauh dari misinya untuk mencetak orang berperilaku santun, beradab dan berkarakter, tetapi pendidikan di Indonesia tampaknya sudah berhasil mencetak orang berotak penuh (bukan orang berilmu).

Kembali kepada masalah sampah. Bagaimana mengubah mental yang “biasa” saja terhadap kekotoran menjadi mental yang mencintai kebersihan? Ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh orang dewasa yang berpikiran normal🙂

1. Sediakan selalu plastik sampah kecil di dalam tas, ransel, atau di dalam mobil.
2. Siapkan dua kotak sampah (boleh lebih) di rumah,  satu untuk sampah basah, sebuah lagi sampah kering (plastik dan kertas).
3. Jangan bosan mengingatkan anak dan orang lain untuk membuang sampah di tempatnya.
4. Perbanyak tempat sampah di tempat-tempat umum.
5. Jangan meludah kecuali di kamar kecil atau selokan. Jangan pipis kecuali di toilet.
6. Pasang tulisan-tulisan peringatan, misalnya :”dilarang membuang sampah sembarangan”, atau “buang sampah di tempatnya”, “bawalah sampah Anda pulang”, “Kalau Anda beradab, buanglah sampah di tempatnya”, dll. di rumah, di mobil, di tempat-tempat yang memungkinkan orang buang sampah sembarangan.
7. Kenakan denda bagi yang membuang sampah sembarangan, di lingkungan manapun. Orang tua bisa menerapkannya di rumah, kepsek bisa menerapkannya di sekolah, pimpinan kantor melaksanakannya di kantor, dan pemda menerapkannya di lingkungan kerjanya.

Selanjutnya, pemda setempat harus menyediakan segala fasilitas agar rakyat dapat berperilaku baik. Tempat pembuangan sampah harus disiapkan. Hari pembuangan harus dijadwalkan, dan aturan pembuangan sampah mesti dirumuskan.

Sekarang, setelah membaca tulisan ini, mudah-mudahan Anda mau bergabung dengan saya menjadi orang yang ingin menuju kebaikan bersama, dengan membuang sampah di tempat sampah, membawa sampah pulang ke rumah, dan tidak lagi sembarangan melempar sampah-sampah.

Mengapa harus demikian? Karena hidup di dunia hanya sekali, dan manusia belum sukses menemukan time machine untuk menghapus jejak keburukan untuk digantikan dengan amalan baik🙂

 

 

  1. Memang susah mengubah perilaku orang Indonesia mengenai sampah. Contohnya saya sendiri.
    Kemarin minggu saya dan mbak saya jalan2 di Sunmor UGM (pasar kaget). Kami jajan es, esnya sudah habis tapi sampahnya masih saya bawa karena saya belum menemukan tempat sampah untuk membuangnya. Melihat perilakunya, mbak saya bilang, “mbok dibuang tho!”. Awalnya saya tetap bawa sampah itu, tapi mbak saya terus saja menyuruh saya membuangnya, akhirnya saya buang juga (sembarang tempat).
    Susahnya mengubah diri sendiri jika tidak didukung orang sekitar.

  2. gak pantes ditiru tuh dosen. saya beberapa kali mengajarkan anak saya untuk menyimpan sampah, bila dalam perjalanan, yang dia pegang sebelum membuangnya ke tempat sampah. semoga dosen itu baca tulisan bu murni

  3. ibda binafsi aja bu

  4. betapa celakanya status peraga [guru senior = dosen] yang di contoh kan diatas! beliau itu tak ubahnya ibarat kan “nyala lilin menerangi sekeliling dan nyala itu membakar habis dirinya sendiri” sungguh orang yang merugi, mengingatkan+menyeru orang lain berbuat baik {karena sikap professional} sebatas dinas
    dan tuntutan tugas, tak merasuk berimbas kedalam qolbu mewarnai pola pikir+tindak tanduk jiwa seorang pendidik. buah karya didikan paham sekularisme, otomatis serba pragmatis.
    di kenali+dipahami+di

    bermula dari ketiadaan ilmunya! baru mengenal sedikit telah berani menjalani, ala maunya sendiri atau ketidak hadiran sang guru ahli, karena dalam semua ilmu itu ada gurunya, begini bahayanya mempelajari sesuatu mandiri/tanpa guru, akeh/samar/gak terlihat melengsene, tanpa ada yang menegurnya, strata tahapan ilmu “ngawur”: tidak tahu dan gak mau tanya pragmatis [diambil enak/ menguntungkannya, dibuang konsekuensinya] kayake disini perlu dikenalkan fisolofi adab/pola berfikir, seringkali diabai/remehkan, karena jauh dari nilai ekonomis, bisa bikin kurus mati berdiri menghiraukan asal-usul duit, bukan rizki … setara ndak ya sama pendidikan/pangajaran?

    pendidikan menanamkan nilai ajaran musti didengar-diterima/pahami-dilakoni
    pengajaran menawarkan nilai ajaran cukup didengar-diterima/pahami-dilakoni/dijalani etika atau tidak sumonggo diserahkan sama audiens.
    pendidikan membuahkan hasil unggul dalam mutu santun dalam perilaku
    pengajaran membawakan buah unggul dalam mutu sumonggo berperilaku
    letak perbedaannya, pada ajaran berwatak dan tanpa karakter.

    dengan kata lain pendidikan itu berproses, sedangkan pengajaran itu instant.
    bisa dianalogkan apa tidak, sama dengan membeli surga?
    atau senilai pragmatisme?
    sekarang tugas siapa sebenarnya … dan?
    apa audiens diberi hak pilih”membangun pembelajaran berkarakter ato tanpa karakter”?
    atau terserah kepada situasi…?
    hasilnya bisa dinikmati 3, 5, 7 tahun kemudian. …Dan berhubung kita ini tergolong kaum pelupa, masih juga suka bertanya …. malah keheranan lagi, mengapa ya…. khoq bisa jadi begini…. [melupakan akar kejadian saat itu dan kini menjadi skadar catatan masa lalu, dikenal sebagai sejarah…., sejarah apa saja…] ; gemar menghindari proses, suka style berfikir instant/jalan pintas/potong kompas … . padahal … kerusakan lingkungan itu berproses hukum sebab-akibat [paradoks, obyek kerja berproses, ditangani subyek kerja serba instant dan terkotak-kotak, bukan melingkar….[holistic] kira-kira bagaimana ya hasilnya nanti?]

    semoga kita semua terhindar+di jauhkan dan di Lindungi-NYA dari sifat yang demikian.

    satu teka teki silang akhir romadhlon 1429 H
    wassalam

    kucinge perpus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: