murniramli

Pendidikan Multietnik

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Pendidikan pra sekolah, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Juni 21, 2011 at 12:32 am

Sejak April hingga pertengahan Juni saya disibukkan dengan  kegiatan seminar berantai yang diselenggarakan kampus bekerjasama dengan beberapa institusi lain. Kegiatan dimulai dari Semarang, lalu berlanjut ke Banjarmasin dan berakhir di Padang. Cukup melelahkan karena banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya, tetapi sangat menyenangkan karena berkesempatan mendatangi wilayah di luar tanah Jawa.

Saya banyak menghabiskan waktu di Bone pada masa kecil, sehingga sedikit banyak mengenal kehidupan orang Bugis. Tetapi semakin banyak saya membaca literatur tentang orang Bugis, semakin malu saya karena banyak yang belum saya ketahui. Ketika keluarga kami pindah ke Jawa, dan saya menghabiskan masa SMP dan SMA di Madiun, rasanya saya agak mengenal karakter orang Jawa, sekalipun tetap tidak benar-benar memahaminya di lain sisi.

Lingkungan saya di Bogor saat menempuh kuliah di IPB, memperkenalkan saya pada budaya Sunda dan tentu saja karakter etniknya. Saya tinggal di Bogor hingga 14 tahun, tetapi saya tidak berhasil menguasai bahasa Sunda dengan baik. Irinya saya karena seorang professor kenalan saya di Jepang berada di Bandung hanya beberapa tahun, dan beliau fasih sekali berbahasa Sunda halus.

Sekarang saya numpang tinggal di Semarang, dan sedang susah payah memahami bahasa orang Jawa yang membuat saya gelagapan kalau mereka sudah menggunakan bahasa priyayi. Tinggal di Madiun semasa SMP dan SMA tidak membuat saya fasih berbahasa Jawa, hanya menyisakan kemampuan tulis dan bahasa pasaran lisan saja selama menjadi siswa, tak lebih.

Mengunjungi Kalimantan untuk pertama kalinya (padahal kakek moyang saya sebagian besar tinggal di Kalimantan Timur) dan berkesempatan berkeliling di sekitar Banjarmasin, Banjarbaru, dan Martapura sedikit banyak mengenalkan saya pada kehidupan dan pola pikir orang Banjar. Kalau melihat keseharian dan mendengar cerita teman yang pernah lama meneliti perairan rakyat di Banjar, maka orang Banjar tampaknya gemar belanja dan lebih berpunya🙂 Restoran tak pernah sepi, apalagi dengan penganan ikan yang dihasilkan dari sungai-sungainya yang membentang panjang. Saya sempat jalan-jalan pagi menyusuri sungai di dekat hotel kami. Sayang sekali airnya agak coklat hitam dan banyak sampah di atasnya.

Yang menarik di Kalimantan, hampir tak ada kemacetan di jalan raya karena sungai telah dimanfaatkan sebagai jalur alternatif bepergian. Tetapi, di beberapa tempat yang berdekatan dengan POM bensin, antrian truk-truk terlihat memadati jalan. BBM kelihatannya menjadi agak langka. Selain itu, banyak motor dan mobil baru di jalan-jalan. Menurut cerita seorang dosen UNLAM yang menemani kami, orang Banjar membeli kendaraan tersebut secara tunai, bukan dengan sistem kredit. Kebanyakan mereka membeli sesuatu dengan cash, dan tampaknya budaya membeli kendaraan secara kredit hanya ada di luar Banjar🙂

Dengan kekayaan alamnya yang melimpah, wajar saja jika pendapatan orang Banjar lebih besar daripada orang Jawa. Salah seorang kawan dosen mengatakan bahwa sangat biasa bagi mahasiswa ketika makan siang sepiring nasi campur harus mengeluarkan 20 ribu rupiah di kantin. Sementara di UNDIP, ketika harga sepiring nasi campur dinaikkan menjadi 10 ribu rupiah saja, banyak mahasiswa yang mengeluh, dan berhenti memesan nasi campur, dan kembali pada makanan rakyat sangat kebanyakan, nasi tempe🙂

Perjalanan ke Padang, Solok, Sawahlunto, Batusangkar, hingga Bukittinggi merupakan perjalanan yang tak membosankan sedikitpun karena indahnya alam Minangkabau. Pantas saja, pesona kampung halaman akan membuat orang Minang yang merantau akan terkenang selalu dan memilih untuk pulang. Orang Minang masyur dengan kepandaiannya berdagang. Hanya harga di restoran Padang yang terasa normal, sementara harga oleh-0leh di pertokoan sepanjang jalan dari Bukittinggi ke Padang dipatok minimal 10 ribu rupiah, tak peduli jenis makanannya.

Suku Minang sudah dikenal dengan sistem matriarchal yang kuat. Perempuan-perempuan Padang yang kami temui adalah mereka yang tegas dalam bicara, kuat dalam pendirian, dan tampaknya demikian mendominasi kaum lelaki. Kelihaian orang Minang berpantun juga tampak dalam tutur kata mereka. Saat menjadi presenter, saya dengar para penanya sangat panjang bicaranya, dan terkadang tidak diakhiri dengan tanda tanya, sehingga cukup sulit menyimpulkan dan menyusun jawabannya🙂  Saya tak mengira bahwa orang Minang sangat mirip dengan orang Jawa dalam gaya bicara. Bahkan mirip pula dengan orang Jepang yang selalu berbicara berbelit-belit. Orang Jepang bicara berbelit karena mereka selalu mencari ungkapan yang tidak akan menyinggung lawan bicara. Ketidakpandaian berterus terang dan menyampaikan perasaannya membuat mereka selalu berputar-putar saat bicara. Saya kira alasan ini barangkali juga dipunyai oleh orang Jawa. Saya tidak tahu apakah ada alasan tertentu orang Minang bicara berbelit-belit.

Hirarki berdasarkan jabatan dan status menjadi salah satu hal yang sangat diperhatikan tampaknya. Menurut kawan, tidak biasa apabila orang “biasa” duduk bersama professor atau guru besar saat makan bersama. Perasaan “tidak biasa” ini entah muncul dari si professor atau si “orang biasa”. Tetapi saya kira diskriminasi “pernghormatan” seperti ini ada pada semua suku bangsa di Indonesia.

Mengunjungi wilayah-wilayah tersebut dan bertemu dengan suku bangsa yang berbeda adalah pelajaran multietnik bagi saya pribadi. Selama menempuh pendidikan dari masa kanak hingga pascasarjana di Indonesia, saya belum pernah mendapatkan pendidikan multietnik yang mengangkat sikap dan pandangan suku-suku di Indonesia. Substansi pelajaran IPS dan Sejarah kebanyakan didominasi oleh suku-suku besar, Jawa dan Melayu.

Setiap siswa menurut saya akan lebih baik mendapatkan pemahaman lengkap tentang sukunya, dan kemudian melangkah pada pelajaran tentang pengenalan aneka suku bangsa di tanah air. Dengan mengenal karakter setiap suku, kita akan sangat berhati-hati saat memasuki komunitas etnik tertentu. Apa yang dilarang di dalam komunitas tersebut patutlah kita hormati karena posisi kita sebagai tamu. Apa yang dianggap baik dalam komunitas tersebut patutlah kita puji, atau menirunya jika tak bertentangan dengan prinsip dan keyakinan kita.

Pendidikan multietnik adalah sebuah pendalaman untuk memahami keragaman suku bangsa dan sebagai modal dasar untuk mencegah munculnya konflik antaretnik. Selama ini pemerintah mengkhawatirkan pendidikan multietnik akan memecah belah kesatuan bangsa, sehingga materi ajar didominasi dengan nilai-nilai moral yang utamanya dikenal dalam suku mayoritas di Indonesia. Memaksakan nilai-nilai tersebut kepada sebuah masyarakat etnik yang berbeda tentunya akan menimbulkan penentangan yang kuat. Kecuali jika ajaran moral yang disampaikan adalah sebuah sikap universal.

Pendidikan yang bernuansakan kebangsaan dan kesatuan seharusnya tidak membuat para siswa melupakan nilai-nilai luhur dalam etniknya.

  1. Selama beberapa tahun mengenal orang padang ada beberapa hal yang menjadi catatan saya mengapa orang padang pandai berdagang ..Berniaga Sudah Menjadi Budaya Keluarga .Mari lihat rumah makan padang hampir semua pekerja kasir pelayan dll. adalah anggota keluarga sang pemilik. Seorang teman saya yang orang minang sudah dari kecil terbiasa membantu orang tuanya berdagang.

  2. wah, ibu.. saya jadi ingin pulang kampuang🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: