murniramli

Dari Perpustakaan ke Perpustakaan

In Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan, Sejarah, Serba-serbi Indonesia on Juli 3, 2011 at 5:01 am

Selama kurang lebih tiga hari saya menyempatkan diri mengelilingi perpustakaan di Kota Yogyakarta. Bersama dengan seorang mahasiswa yang mendapat tugas dari dosennya untuk mencarikan literatur tentang Yogya, kami naik motor dari satu perpus ke perpus yang lain.

Kunjungan ke perpustakaan saya lakukan terkait dengan penelitian tentang sejarah pendidikan jaman Jepang yang sedang saya lakukan. Untuk keperluan ini, setiap kali ke luar kota, saya menyempatkan mencari informasi tentang sekolah-sekolah jaman Jepang yang masih bertahan, dan juga berusaha memahami kehidupan masa itu melalui perpustakaan-perpustakaan kota.

Perpustakaan pertama yang saya datangi adalah Yogya Library Center yang ada di Malioboro. Sangat unik letak perpustakaan yang di depannya dipenuhi jajaran penjual batik, dan kanan kirinya adalah pertokoan. Suasana di dalam perpustakaan cukup tenang, dan terdapat ruang baca besar yang penerangannya agak terbatas menurut saya, sehingga melelahkan mata saat membaca di sana. Saya tidak mendapati literatur lama (tahun 42-45), tetapi ada koran Kedaulatan Rakyat (fotocopyan) tahun 46 yang cukup memberi informasi tentang peralihan sekolah-sekolah jaman Jepang ke jaman kemerdekaan. Memang informasinya tidak banyak, dan saya perlu membaca lembaran-lembaran KR tahun 46 dari awal hingga selesai. Sebenarnya ada fasilitas microfilm untuk lembaran surat kabar tua, tetapi saya lebih suka membaca bahan aslinya.

Materi-materi, naskah-naskah kuno, buku-buku lama cukup sulit untuk difotocopy, oleh karena itu setiap kali ke perpustakaan perlu ditanyakan, apakah bahan bisa difotocopy, difoto, atau dipinjam. Sebab untuk membaca lama cukup sulit jika kita hanya berkunjung dalam waktu yang pendek. Di Yogya Library Center, semuanya boleh kecuali tidak boleh dipinjam pulang. Karenanya saya memilih untuk memotret artikel-artikel yang terkait dengan penelitian. Kira-kira 2 jam saya berada di perpustakaan ini.

Perpustakaan kedua yang ingin kami datangi sebenarnya perpustakaan yang ada di kraton Yogya. Sayangnya perlu surat pengantar yang harus diajukan ke Gusti Prabu, dan perlu ditandatangani, lalu kami akan mendapatkan kartu yang menjadi bukti kami boleh masuk ke dalam perpus kraton. Saya berusaha menanyakan apakah surat ijin tersebut boleh kami kirimkan sebelumnya, namun petugas ibu-ibu berbatik yang menjadi penanggung jawab hari itu menjawab dengan agak ketus, bahwa harus diantar sendiri sambil menambahkan tidak gampang memasuki perpustakaan kraton. Saya terdiam, dan merasa kecewa. Saya tahu memasuki istana/kraton memang cukup sulit bagi orang biasa, sekalipun di hari-hari tertentu diperbolehkan mengunjungi beberapa lokasi dengan membeli karcis terlebih dahulu. Namun, perpustakaan, menurut saya adalah sumber ilmu yang semestinya terbuka agar bisa diakses para peneliti, dosen, guru, mahasiswa yang membutuhkannya. Jikalau alasannya, kraton adalah tempat keramat bagi orang biasa, maka mengapa tidak diletakkan saja isi perpustakaan tersebut di perpustakaan luar kraton? Atau paling tidak copy-annya disiapkan di perpustakaan yang bisa didatangi masyarakat awam, misalnya di Yogya Library Center. Karena kesal, saya tarik lengan mahasiswa saya dan kami segera meninggalkan kraton. Saya pernah mengunjungi kraton ketika masih SMP, dan baru kali ini lagi mendatanginya. Sebenarnya ingin masuk dan melihat-lihat di dalamnya, tetapi sudah kadung tidak merasa nyaman dengan penyambutan di loket tiket.

Akhirnya kami memutuskan ke Perpustakaan Sasono Budoyo yang ada di seberang alun-alun berhadapan dengan pintu masuk kraton. Waktu buka perpustakaan tertulis dari jam 08.00 hingga 15.00. Masih ada waktu satu jam untuk melihat-lihat. Di lantai 2 yang menyimpan naskah-naskah kuno, tidak ada petugas yang berjaga, dan hanya ada seorang perempuan bule yang sedang menyalin naskah kuno di laptopnya. Kami ketuk pintu sebuah kamar dan keluar petugas yang mengatakan tidak ada naskah jaman Jepang di ruangan itu. Lalu kami dipersilahkan ke lantai 3. Di lantai 3, seorang bapak petugas dengan ramah menemui kami dan saya segera mengutarakan apa yang saya cari. Jawaban bapak petugas, “tidak ada pustaka tersebut, yang ada hanya jaman Belanda”. Saya kemudian meminta diperbolehkan melihat-lihat katalog dan buku peminjaman. Di buku peminjaman tertulis ada koran Soeara Asia tahun 1944. Saya memohon dicarikan koran tersebut, tetapi si bapak mengatakan ini bukan jaman Jepang, dan angka 1944 yang tertulis di buku adalah nomor pustaka. Saya dengan sabar menjelaskan bahwa ini adalah koran jaman Jepang, dan memintanya untuk mencarikan. Lalu dalam katalog literatur bahasa Belanda, saya temukan buku Almanak Goeroe tahun 1939. Saya mohon juga untuk dicarikan buku penting ini. Bagi para peneliti pendidikan jaman Belanda, buku Almanak Goeroe adalah salah satu sumber utama dan komplit mengenai pendidikan pada masa itu.

Koran Soeara Asia tak berhasil ditemukan si bapak, tetapi Almanak Goeroe ada. Bukunya sudah tua, tidak bisa difotocopy, tetapi boleh dipotret. Saya minta ijin untuk memotretnya. Sembari menyelesaikan potretan, seorang petugas lain masuk dan beliaulah yang mengambilkan bundel koran Soeara Asia, yang kemudian saya potret artikel berita tentang pendidikan. Saat jam menunjukkan pukul 15.00, saya baru menyelesaikan separuh dari koran SA. Mahasiswa saya kemudian mengcopy beberapa literatur yang bisa dicopy dengan harga per lembar 400 rupiah. Sebelum pulang, saya berpesan agar koran disimpankan dan besok saya akan datang untuk melanjutkan bacaan.

Keesokan harinya kami datang lagi ke Sasono Budoyo, dan saya melanjutkan bacaan sambil memotret. Ada petugas baru, ibu-ibu yang melayani kami. Dan saya dengar dia berbisik-bisik kepada ibu petugas yang melayani kami di hari sebelumnya. Tiba-tiba si ibu berjilbab yang melayani kami kemarin, mendatangi saya sambil mengatakan bahwa saya harus memasukkan uang kas sukarela karena telah memotret. Saya cukup kaget, tetapi berpikir tidak ada waktu untuk protes, karena masih banyak yang harus saya baca. Maka saya iyakan saja. Setelah selesai, dan mahasiswa kembali meminta sebuah buku untuk dicopy, saya kemudian meminta mahasiswa menggenapkan biaya copy-an, sehingga hanya 3000 rupiah yang saya masukkan sebagai uang kas. Mahasiswa berbisik, seribu saja, Bu. Ternyata si ibu petugas meringis dan berkata dengan nada sinis hanya 3000 ? Saya mulai agak emosi. Dengan berdiri, saya mengatakan bahwa tidak ada aturan resmi tentang pungutan seperti ini. Jika ada tolong tunjukkan surat perintahnya. Lalu saya tanya, mengapa aturan bisa berubah dalam sehari? Kemarin saya bebas memotret dan sekarang harus membayar untuk memotret. Si ibu petugas agak kaget mendengar saya marah, dan mengatakan bahwa itu hanya sukarela, dan ada aturan mengenai cahaya lampu yang tidak boleh mengenai naskah. Saya memintanya mengeluarkan aturan itu, dan kemudian membacanya dengan seksama. Sama sekali tidak ada larangan memotret. Adapun aturan mengenai lampu adalah aturan pencahayaan ruangan. Saya katakan tidak ada larangan memotret di sini. Si ibu berkelit dengan mengatakan bahwa kamera juga menyinarkan lampu dari blitz. Saya tidak menggunakan blitz karena kualitas foto menjadi jelek dengan pencahayaan. Si ibu akhirnya tidak bisa membantah lagi dan sambil malu-malu mengatakan ini hanya keikhlasan. Saya malas meneruskan pembicaraan dan berpesan kalau memang ingin merawat literatur yang ada di perpustakaan dengan mengumpulkan donasi dari pengunjung tidak begini caranya. Harus ada surat resmi. Ini sudah jaman reformasi, dan tidak boleh ada pungli seperti ini.

Saya agak kesal juga karena selama kami membaca, kedua ibu tidak melakukan apa-apa dan cukup mengganggu konsentrasi dengan mengobrol ala ibu-ibu, lalu bapak petugas bermain internet sambil memutar musik keras-keras. Semestinya, jika mereka benar-benar mencintai buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut dan adalah librarian sejati, mereka seharusnya belajar, mengetahui banyak tentang buku-buku yang ada dalam wilayah kerjanya, membantu pengunjung yang mencari literatur tertentu. Saya sering mengunjungi library di Jepang, dan sangat terkesan dengan etos kerja, suasana membaca yang benar-benar tenang, dan bantuan yang diberikan kepada pencari pustaka.

Si Ibu barangkali mewakili generasi PNS gaya lama (atau gaya baru?) yang sama sekali tidak menginginkan pembaharuan, hanya bekerja untuk menghabiskan waktu kerja, dan tak ada langkah-langkah untuk menjadi lebih berilmu. Hanya semangat bekerja ketika ada pengunjung, sebab dari pengunjung mereka bisa mengambil keuntungan. Fotocopy peta besar dicharge 25 ribu rupiah, sementara di luaran hanya 8~10 ribu rupiah. Sebenarnya perpustakaan sudah mendapatkan keuntungan lipat ganda dari pengunjung, tetapi entah digunakan dengan sebenarnya atau tidak. Sayang sekali jika etos kerja seperti ini masih dipertahankan di berbagai sumber-sumber ilmu di tanah air. Dan lebih sedih lagi jika pemerintah berhenti memberikan subsidi perawatan sumber-sumber ilmu tersebut.

Pemandangan petugas yang leha-leha menonton TV, mendengarkan musik, mengobrol dengan temannya adalah hal yang sangat biasa di beberapa perpustakaan yang kami kunjungi. Ada pula yang sibuk mengecek status facebook. Oohh !

Hari terakhir di Yogya, kami sempatkan mengunjungi Badan Arsip. Sebenarnya tidak boleh memanfaatkan sumber arsip tanpa surat pengantar, tetapi setelah kami katakan bahwa kami dari Semarang, petugas berbaik hati. Sayangnya tidak ada meja khusus untuk kami memeriksa data-data arsip, dan hanya ada dua kursi yang mungkin berfungsi untuk menerima tamu. Saya dan mahasiswa memeriksa dan mencatat nomor arsip yang kami butuhkan. Peraturan yang ada di sini adalah, sekali pencarian arsip hanya boleh mengajukan lima buah arsip. Tidak boleh difotocopy dan dipotret. Jadi hanya boleh dibaca di tempat. Lima arsip tahun 1949 ~1955 yang kami minta untuk pencarian pertama, kondisinya sudah agak rusak dan beberapa sulit dibaca. Saya membukanya pelan-pelan sekali dan memperlakukan benda-benda ini sebagai barang yang sangat berharga. Mahasiswa saya minta mencatat beberapa hal penting yang saya baca. Tetapi posisi duduk tanpa meja menyulitkan kami untuk mencatat. Setelah mencatat isi kelima arsip, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pencarian dan meluncur ke perpustakaan Pakualaman yang katanya beberapa arsip di Badan Arsip juga tersimpan di sana.

Sayang sekali hari itu perpustakaan tutup karena petugasnya sedang keluar😦  Dan pusat arsipnya juga sedang tutup. Satu-satunya petugas, mbak-mbak cantik (bukan petugas perpus dan arsip) yang kami temui menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan ramah. Perpustakaan buka setiap hari dari pukul 10.00-12.00 (saat itu pukul 11.00), dan pusat arsip tidak buka setiap hari, petugasnya dari Badan Arsip.

Karena harus naik kereta jam 16.00, dan belum beli oleh-oleh, kami memutuskan setelah mengunjungi perpus Sasono Budoyo, dan Yogya Library Center untuk mengambil hasil fotocopy-an, kunjungan ke perpus berakhir sampai di situ. Di waktu mendatang, kami merencanakan mengunjungi perpus-perpus universitas dan beberapa perpus kota dan daerah.

Ada ketidakseragaman pelayanan di perpus-perpus yang kami kunjungi, dan cukup mengecewakan karena beberapa naskah/dokumen/arsip tidak bisa diakses, bahkan beberapa koran kuno setelah dimicrofilmkan, kemudian dimusnahkan. Padahal, dalam bentuk microfilm, ada beberapa bagian yang tidak bisa terbaca. Naskah dan sumber arsip yang sulit didapat barangkali ada baiknya diperbanyak dan disebar copy-annya ke beberapa perpus. Banyak buku-buku tua yang kalau dipegang kertasnya sudah hampir rapuh, ada baiknya diperbanyak dan perpus memiliki beberapa copy-annya. Saya sempat melihat buku tamu dan mencatat kunjungan tidak begitu banyak. Ini menandakan, kita masih kurang menyatu dengan budaya mencari sumber literasi dan membaca di perpustakaan.

Di beberapa perpustakaan yang saya temui di Jepang, fungsinya bukan hanya menjadi tempat mencari informasi bagi para peneliti atau mahasiswa yang akan menulis skripsi, tetapi juga menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Beberapa anak kecil saya temui di Yogya Library Center, mereka mencari koran berbahasa Inggris, tetapi sayangnya petugas menganggap mereka hanya sekedar main ke perpus, dan tidak melayani mereka dengan baik. Cukup unik memang bahwa YLC yang ada di tengah-tengah keramaian Malioboro diminati oleh beberapa gelintir anak. Sudah masanya menyediakan bahan bacaan dan tempat membaca yang menarik bagi mereka.

 

  1. wiiih saya paling seneng keliling ke tempat2 edukatif. bisa berlama2 kalo udah baca di perpustakaan. saya sempet ke YK dua kali, tapi gak sempet ke perpus di sana. cuman keliling nyari2 buku di toko buku, gramed, sosial agency, dll. baca ini jadi pengen ke YK lagi. mudahan ada kabar baek dari panitia pusbuk tahun ini. mohon doanya bu guru murni….

  2. ayo mbakyu murni terus kasih ulasan+masukan antara perpustakaan dengan koleksi dan makhluk- makhluk penghuni dan penziarahnya . . . . . sekalian bandingkan antara di jepang dan di tanah air.
    dimana letak perbedaan dan persamaannya. + seberapa besar kontribusi koleksi perpustakaan dengan sikap sang penunggu dan respond penziarah terhadap edukasi+ekonomi+sosial+budaya+ teknologi suatu bangsa?

    tentu asyik ada inspirasi dahsyat terungkap dalam kalimat terasa lembut . . . . boleh dilirik, kali saja mendukung kekesalan mbak murni “Kala ikan dipisahkan dari air [esensi pembelajaran]” weis tak dukung temenan sampeyan kie . . . tak tunggu lho kelanjutan cerita kedongkolannya lho ya . . .

    semoga menjadi katja benggala bagi diriqu ini . . .

  3. ayo mbakyu murni terus kasih ulasan+masukan antara perpustakaan dengan koleksi dan makhluk- makhluk penghuni dan penziarahnya . . . . . sekalian bandingkan antara di jepang dan di tanah air.
    dimana letak perbedaan dan persamaannya. + seberapa besar kontribusi koleksi perpustakaan dengan sikap sang penunggu dan respond penziarah terhadap edukasi+ekonomi+sosial+budaya+ teknologi suatu bangsa?

    tentu asyik ada inspirasi dahsyat terungkap dalam kalimat terasa lembut . . . . boleh dilirik, kali saja mendukung kekesalan mbak murni “Kala ikan dipisahkan dari air [esensi pembelajaran]” weis tak dukung temenan sampeyan kie . . . tak tunggu lho kelanjutan cerita bambu kedongkolannya lho ya . . . whe he he…

    semoga menjadi katja benggala bagi diriqu ini . . .

  4. waktu baca paragraf tentang PNS, saya tertawa kecil, antara menertawakan realita atau memang benar-benar lucu ya? hm…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: