murniramli

Kuliah Kerja Nyata

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, Serba-serbi Indonesia on Juli 13, 2011 at 5:15 pm

Meskipun beberapa perguruan tinggi tidak lagi mau mewajibkan KKN, saya tetap pendukung KKN agar diwajibkan oleh DIKTI. Yang kontra KKN tentunya menganggap kegiatan ini sebagai buang-buang waktu dan dana saja. Mahasiswa seharusnya magang di tempat yang sesuai dengan bidang keahliannya. Yang ahli mesin magang di pabrik/industri, yang ahli pertanian magang di perusahaan agrikultur, yang ahli komputer magang di perusahaan IT.

Di IPB semasa mahasiswa S1 dulu saya menjalani KKN dan juga PL. KKN saya berlangsung di pelosok Sukabumi (saya lupa nama desanya), dan PL berlangsung di PT East West Seed di Jember. Keduanya menurut saya adalah pengalaman yang sangat berharga yang tidak saja memberikan wawasan dan pengalaman baru, tetapi juga sebuah praktek pengasahan kemampuan memecahkan masalah yang tidak dapat ditemukan di bangku kuliah.

KKN pada prinsipnya adalah latihan memecahkan aneka masalah yang dihadapi penduduk desa/kota. KKN bukan sekedar mengirim mahasiswa ke desa untuk memperkenalkan budaya kota kepada penduduk desa. Tetapi, KKN adalah kegiatan mencoba memahami karakter dan permasalahan orang dewasa.

Hari ini, saya berbahagia sekali, di tengah kesibukan memasukkan entri kuesioner ke dalam kolom-kolom Excell, seorang dosen sejarah yang sebentar lagi pensiun tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan mulailah beliau mengobrolkan tentang bisnis kecilnya menjelang pensiun. Kami berbicara ngalor ngidul mulai dari membahas penelitian beliau, omongan sejarah, minat pemuda terhadap pertanian yang semakin menurun, hingga pengalaman beliau membimbing mahasiswa KKN UNDIP.

Suatu kali beliau membimbing KKN sekelompok mahasiswa ke sebuah desa, dan salah satu program yang diusulkan mahasiswa adalah penghijauan. Mahasiswa merencanakan membeli bibit-bibit pohon yang nantinya akan ditanam oleh mahasiswa bersama warga. Sebagai dosen pembimbing, Bapak dosen memberikan masukan agar mahasiswa jangan membawa pikiran orang kota ke desa. Artinya, membeli bibit tanaman itu adalah gambaran orang yang tidak kenal bumi tempat dia memijak. Orang kota dengan uang yang mereka miliki cenderung memilih pemecahan masalah dengan jalan pintas : Membeli. Mereka tidak mau berenang-renang dahulu,bersenang-senang kemudian.

Cara pikir orang desa yang dimaksudkan Pak Dosen adalah berupaya tanpa mengeluarkan uang, tetapi mengeluarkan tenaga dan waktu. Orang desa karena keterbatasan dari segi ekonomi akan memanfaatkan apa saja yang ada di lingkungannya untuk membantu kehidupannya. Berdasarkan pemikiran ini, Pak Dosen mengusulkan agar desa bekerjasama dengan SD dan mahasiswa menjadi fasilitator kerjasama tersebut. Maksudnya, siswa-siswa SD akan diminta untuk membawa bibit apa saja yang tumbuh di rumahnya, kemudian guru akan dilatih cara penanaman yang benar mulai dari pembuatan lobang tanam, pemupukan dan perawatan. Masing-masing siswa akan diberi tanggung jawab memelihara pohon tersebut karena itu adalah pohon milik mereka, yang kalau misalnya berbuah, buahnya adalah milik si siswa. Adapun pihak desa menyediakan lahan dan alat tanam serta saprodi yang dibutuhkan jika diperlukan.

Lain lagi cerita KKN mahasiswa teknik yang pernah dibimbingnya. Ketika dengan rombongan mahasiswa mereka berjalan-jalan ke desa, Pak Dosen menemukan sebuah palang penyangga atap rumah yang tidak dipasang dengan benar. Lalu, dengan bergurau, beliau memancing mahasiswanya, “Sebagai mahasiswa teknik, menurut Anda bagaimana seharusnya pemasangan palang yang benar?” Dari pertanyaan sentilan tersebut, mahasiswa-mahasiswa kemudian bersepakat membuat program pelatihan tukang sedesa. Ternyata setelah diumumkan, penduduk desa lain ingin mengikuti, maka dibukalah pelatihan bertahap. Para tukang bangunan di desa yang pada dasarnya adalah petani akhirnya belajar pertukangan yang benar, dan hingga mereka dapat membaca gambar teknik dengan baik. Sebagai bentuk praktek pelatihan tersebut, dimintakanlah rumah seorang warga yang sedang dibangun untuk dijadikan sebagai bahan praktek. Tentu saja, si warga senang, dan para tukang pun senang karena mereka dapat praktek langsung di bawah pengawasan ahlinya (para mahasiswa).

Saya tak putus-putus memuji-muji Pak Dosen yang bijaksana dan penampilannya sangat sederhana tersebut. Saya iri sekali, sebab semasa KKN dulu, dosen pembimbing kami tak sekalipun datang ke desa. Karena sibuknya barangkali, pembimbingan dilakukan melalui telepon. Ohh..! Seandainya ada banyak dosen pembimbing seperti Pak Dosen yang bersahaja, maka alangkah banyak mahasiswa yang akan terlatih kepekaannya terhadap permasalahan dan terasah kemampuannya untuk berpikir jernih dan jitu.

Saya kemudian mengoceh tentang cita-cita “gila” saya. Bahwa setiap kali datang ke kampus dengan naik angkot, saya sengaja selalu berjalan-jalan mengitari fakultas-fakultas. Ada banyak lahan hijau, bekas persawahan yang masih produktif tanahnya tetapi tidak dimanfaatkan karena menunggu pembangunan gedung-gedung baru. Sekitar sebulan yang lalu, saya masih menemukan kebun singkong di samping Jurusan Sejarah, dan ketika berjalan dengan mahasiswa Jepang saya katakan bahwa tanah kami sangat subur, pohon-pohon singkong itu ditancapkan saja, tidak usah dirawat, dalam beberapa masa akan membengkak umbi-umbinya, siap untuk dipanen. Ternyata sekitar dua hari yang lalu, singkong sudah hilang dan berganti dengan gundukan tinggi tanah merah. Apa lagi yang akan dibangun di sana?

Di fakultas, di jurusan, setiap hari para mahasiswa bergerombol duduk di lantai dekat tangga atau mendekati tempat-tempat yang ada colokan listriknya, kemudian semuanya membuka laptop. Saya yakin tidak ada yang benar-benar mencari ilmu melalui internet, tetapi pastilah mereka asyik berfesbuk, bertwitter, atau mengunduh musik dan film. Sayang sekali waktumu, Anak muda ! (Ada teman dosen yang selalu menuduh para mahasiswa itu tidak berkarakter karena duduk sembarangan. Saya bosan mendengar tuduhan tersebut, sebab mahasiswa sebenarnya tidak terlalu bersalah, karena memang tidak ada space untuk mereka duduk. Perpustakaan kecil, taman belajar tidak ada, bangku-bangku tidak ada, ruang kelas tidak boleh dipakai, lalu…di mana mereka mau duduk??).

Kalau saya memandang lahan luas bekas persawahan di samping fakultas kami, saya membayangkan banyak mahasiswa berpeluh-peluh di sana, mencangkul, menanam pisang, jagung, buah-buahan atau jika tiba masanya panen, mereka tersenyum bahagia menikmati buah pisang, pepaya, rambutan dengan senikmat-nikmatnya.

Ah, Pak Dosen tersenyum-senyum mendengarkan cita-cita saya. Barangkali beliau menganggap saya pemimpi kesiangan. Ya, boleh jadi memang saya sedang bermimpi. Tapi bukankah semua yang sukses mengawali sesuatunya dengan memiliki mimpi-mimpi? Bertani dan berkebun bukanlah milik orang yang belajar pertanian saja, tetapi adalah milik semua orang, apalagi yang memang senang melakukannya.

Barangkali kita perlu dosen-dosen yang memiliki pandangan untuk mendidik mahasiswa tidak saja agar sekedar memperoleh gelar sarjananya, tetapi pun untuk berpikir kepada kemajuan, selalu peka terhadap error yang terjadi di sekelilingnya, selalu menyayangi waktu dan umurnya yang lewat sia-sia, barangkali tak perlu lama-lama bangsa ini akan mampu mensejajarkan diri dengan negara maju. Sayangnya dosen-dosen tidak digaji cukup katanya. Dan lebih sayang lagi, yang sudah digaji cukup pun ternyata masih semakin merasa kurang, sehingga rela membengkalaikan mahasiswanya. Oh, manusia…..!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: