murniramli

Sekolah untuk Si Kaya, Sekolah untuk Si Miskin

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Penelitian Pendidikan, Serba-serbi Indonesia, SMA on September 5, 2011 at 7:08 pm

Masih berkaitan dengan pendaftaran siswa baru di berbagai SMA di tanah air, saya ingin menuliskan sedikit hasil pengamatan yang saya lakukan di sebuah SMA bertaraf internasional. Karena di tempat saya mengajar dulu (madrasah aliyah di Bogor), praktek pendaftaran siswa baru sangat berbeda dengan apa yang diselenggarakan di sekolah ini, maka saya cukup surprise ketika berkesempatan “nyelonong” mengikuti rapat orang tua.

Saya sebenarnya tidak berhak mengikuti rapat ortu tersebut, namun ada seorang teman yang selalu saja mengajak saya untuk melihat dan menilai sekolah anaknya. Maka saya pun duduk manis sambil memeriksa kerjaan di kampus yang harus beres hari itu, sambil mendengarkan penjelasan kepala sekolah tentang prestasi sekolah dan keuangan serta keperluan dana tahunan. Bagian terakhir yang penting. Dari lembaran anggaran yang dibagikan, kita dapat melihat sub-sub pemakaian anggaran yang menurut saya jika orang tua cerdas dan peduli, semestinya bisa menanyakan detilnya. Istilah yang dipergunakan campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, terlihat sekali tidak ada standar baku yang disusun oleh pemerintah untuk penyusunan anggaran sekolah. Atau mentang-mentang karena statusnya sebagai SBI, maka istilahnya harus beringgris ria? Terlihat dalam rencana anggaran bahwa pembiayaan terbesar memang diandalkan dari pembayaran dan sumbangan orang tua.

Saya tidak begitu tertarik membahas prestasi siswa, sebab notabene yang masuk ke sekolah ini adalah anak-anak ber-IQ di atas rata-rata, dan berkemampuan dan berbakat khusus. Kalau secara kasar, maaf, saya dapat mengatakan guru sebenarnya hanya memoles sedikit anak-anak ini. Mereka sudah menunjukkan potensi berprestasi semenjak mereka mendaftar sekolah ini.

Acara terakhir dari rapat ortu adalah wawancara dengan setiap ortu untuk menyepakati berapa sumbangan orang tua, dan berapa SPP yang akan dibayarkannya. Dari obrolan dengan teman, saya mendapatkan informasi bahwa sumbangan minimal 7 juta dan SPP sebesar 300 ribu. Wah, uang SPP sebesar itu dua kali lipat lebih dari uang SPP yang harus saya bayarkan per semester di IPB dulu. Dan uang sumbangannya membuat kepala saya pening, tiba-tiba saja terbayang orang tua yang harus pinjam sana-sini untuk bisa masuk ke SMA favorit ini.

Saat wawancara, teman saya diminta untuk menyumbang lebih dari standar mengingat pekerjaannya sebagai dosen, dan demikian pula SPP diminta untuk membayar 500 ribu. Pewawancara adalah anggota komite sekolah. Teman saya (barangkali sudah merasa terlalu banyak mengeluarkan uang untuk putranya, karena sebelumnya sudah mengeluarkan puluhan juta untuk keperluan masuk sekolah top lainnya) menolak permintaan tersebut dan minta pembayaran basic/minimumnya saja. Saya tidak tahu seberapa alot tawar-menawar berlangsung, tetapi hasil akhirnya teman saya yang menang.

Dalam perjalanan pulang, kami mengobrolkan masalah sekolah mahal. Dan saya agak terperanjat dengan komentar teman, bahwa sekolah mahal itu biasa, pendidikan memang mahal. Lalu, saya kejar dia bagaimana dengan si miskin, pastilah dia tidak bisa memperoleh pendidikan yang baik, bahkan bermimpi untuk masuk sekolah-sekolah favorit. Jawaban teman saya lebih membuat saya shock berat, “Sekolah ini bukan untuk si miskin. Mereka punya jatah sekolah yang lain” Dia kemudian menjelaskan bahwa saat wawancara tadi, pewawancara memang mengatakan bahwa sumbangan di atas standar dimaksudkan untuk subsidi silang pembiayaan siswa-siswa dari keluarga tak mampu. Dan teman saya dengan santainya menjawab, “Untuk mereka sudah ada pos-nya tersendiri” (maksudnya, untuk si miskin sudah ada sekolahnya sendiri).

Dalam hati saya berdoa, semoga tidak banyak orang tua Indonesia yang berpikiran seperti ini. Yang saya sayangkan, teman saya bukan orang yang tidak terdidik. Lalu, mengapa ketidakpedulian itu muncul? Saya kira, banyak faktor yang menyebabkannya orang tua berpikiran demikian. Salah satunya adalah karena kebijakan privatisasi pendidikan dengan membuat sekolah bertaraf nasional dan internasional. Sekolah kita ibaratnya sama dengan sarana transportasi umum kita, kereta. Yang berani membayar mahal akan merasakan sejuk dan dinginnya gerbong eksekutif. Sementara yang cuma bisa membayar murah, harus menerima gerbong yang tanpa AC, panas dan pengap, serta harus mendahuluakan berlalunya kereta eksekutf. Sebuah ketimpangan yang menyakitkan. Sebuah ironi “sistem kasta dalam penggunaan alat transportasi” yang tidak saja berlaku di Indonesia, tetapi juga di Jepang. Untungnya, di Jepang agak berbeda, karena semua kereta ber-AC dan bersih.

Saya kira pendidikan Indonesia tidak akan bergerak maju, jika pemerintah tidak segera membuat pendidikan itu equal dan egaliter (dalam makna dapat dinikmati oleh semua rakyat tanpa pandang bulu secara ekonomi). Model klasifikasi sekolah yang sedang diterapkan sekarang ini, selain buruk akibatnya kepada masyarakat secara umum, juga merupakan penyakit “hati” atau menyakitkan bagi para siswa. Saat mengobrol dengan teman-temannya dari sekolah si kaya, anak-anak dari sekolah si miskin sudah minder duluan. Mereka sudah mendapatkan penilaian minus semenjak mereka memperkenalkan sekolahnya. Layaknya pemilihan penyanyi idola di TV, para juri biasanya sudah underestimated melihat penampilan seseorang, sebelum memberinya kesempatan bernyanyi.

Ah, manusiawi memang ! Tetapi, manusia berakal seharusnya ngga gitu-gitu amat !

 

  1. ada kala sekolah bagi yang miskin harus trus diperhatikan oleh para penjabat daerah..mudah2an banyak yang perduli..slm kenl gan ditunggu yah kunjungannya

  2. bu murni, teruslah menulis…🙂
    meskipun belum menjadi orang tua, saya merasakan apa yang orang tua saya rasakan. mengenai biaya pendidikan yang semakin tidak terjangkau…

  3. sekarang aja udah mahal banget, apalagi jaman anak saya kelak….*sigh

  4. Saya pribadi sangat prihatin dengan kondisi pendidikan di negeri kita. Sudah mahal, lulusannya tidak menunjukkan perilaku berbudi luhur. Biaya tinggi berbanding terbalik dengan keluhuran budi, pendidikan tinggi dan jabatan tinggi pun demikian pula. Saya sempat berpikir bahwa sekolah itu sebetulnya tidak wajib, yang wajib adalah belajar. Banyak anak disekolahkan ke sekolah mahal tapi tidak mau belajar (dalam segala bentuk). Jika masuk sekolah hanya berdasarkan besarnya uang yang dapat diberikan oleh ortu kepada sekolah maka anak-anak didik yang dihasilkan bisa dipastikan adalah anak-anak yang besar kepala dan menggampangkan segala urusan. Saya melihat jelas fenomena ini pada mahasiswa-mahasiswa saya. Dikiranya uang dapat menyelesaikan segala urusan. Kasus yang saya alami dengan mahasiswa saya adalah mereka tidak perduli pada tugas. Tugas dikerjakan tidak sepenuh hati. Gejala umum adalah mereka tidak mau membaca dan dengan sendirinya lemah dalam menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Jalan pintasnya, copy and paste from the internet! Yang penting tugas selesai! Diberi tugas terjemahan, mereka menerjemahkan memakai software terjemahan dan tidak dibaca ulang sehingga saya pusing membaca hasil terjemahan yang amburadul. Anehnya, mereka protes ketika mendapat nilai buruk yang disebabkan ulah mereka sendiri (saya terbiasa membaca semua tugas mahasiswa, walaupun jumlahnya di atas seratus orang. Jadi bagi saya tidak ada kamus pukul rata untuk nilai mahasiswa).

    Ucapan teman Ibu tentang sekolah bagi si miskin benar-benar menyakitkan hati. Kepandaian adalah hak semua anak. Banyak anak miskin yang cerdas, dan tidak sedikit anak orang kaya yang memble. Islam mengajarkan kita untuk berempati kepada si miskin. Jadi di mana pendidikan moral dan agama selama ini? Pendidikan agama bukan hanya belajar tata cara sholat, tetapi lebih luas daripada itu. Sholat adalah landasannya. Saya bingung dengan pemerintah kita: mau dibawa ke mana sebenarnya arah pendidikan di negeri ini?

  5. Potret pendidikan di negara kita, yang katanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah kita mungkin menafsirkan UUD yang menyatakan bahwa “Fakir Miskin dan Anak-anak Terlantar Dipelihara Oleh Negara” itu berarti memelihara untuk bertambah banyaknya fakir miskin dan anak2 terlantar? semakin dipelihara semakin banyak?🙂

    IRONIS by Darwis Suryantoro @ ManajemenPendidikan.Com.
    Pendidikan harusnya memicu kesejahteraan. Jika Pendidikan tidak diikuti dengan pembentukan moral, tentu akan menjerumuskan pada kesesatan, menjadi budaknya harta, serakah, rakus, dan menginjak2 hak fakir miskin dan anak2 terlantar.

  6. Saya lihat pendidikan formal itu memang mahal, tetapi pendidikan informal tidaklah mahal. Dalam dunia professional, pendidikan informal ini jauh lebih penting daripada pendidikan formal dengan sertifikatnya. Pendidikan informal bisa didapatkan dengan mudah melalui internet, perpustakaan, magang kerja tanpa dibayar, dan lain-lainnya.

    Akan tetapi ada Catch-22 yang terselubung, bahwa sebenarnya pendidikan formal juga diperlukan untuk memungkinkan seseorang menempatkan dirinya pada posisi dimana dia bisa memanfaatkan pendidikan informalnya sepenuhnya (baca: kualifikasi kerja).

    Apabila tidak cukup uang untuk pendidikan formal, maka bekerja, berhemat, dan tabunglah uang anda untuk mendapatkan pendidikan formal. Tidak ada kata terlambat, dan anda tidak perlu pendidikan formal dari sekolah paling top, cukup gelarnya saja sudah cukup.

    Negara kita membutuhkan orang-orang yang mampu berteori dan dapat mengimplementasikan teorinya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada!

    Percuma mental tempe berpendidikan tinggi, pintarnya berteori tapi takut mengambil keputusan!

  7. Sedikit koreksi:
    Yang saya maksud “gelarnya saja sudah cukup”, itu berarti sertifikat level pendidikan formal, seperti diploma / sarjana, bukan merek sekolahnya.

  8. Penyebab ketidakpedulian seperti ini adalah karena jauhnya kebanyakan manusia di zaman ini dari tuntunan Al Qur’an dan Assunnah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: