murniramli

Kebiasaan Mahasiswa Posmo

In Pendidikan Tinggi, Serba-serbi Indonesia on September 24, 2011 at 11:08 pm

Awal September yang lalu, saya baru memulai pengalaman baru kembali sebagai dosen, setelah lama tidak mengajar di tanah air. Di Jurusan Sastra Jepang FIB UNDIP, saya mendapat jatah mengajar 4 mata kuliah. Masih sedikit memang, tetapi karena kesibukan penelitian dan tugas-tugas lain di Pusat Studi Asia, maka empat mata kuliah bagi saya sudah sangat menyita waktu. Yang paling memberatkan adalah dari keempatnya, dua di antaranya baru pertama kali diajarkan di jurusan kami, dan yang dua lagi sekalipun sudah pernah diajarkan, tahun ini advisor kami dari JICA meminta saya membuat silabus yang baru. Praktis keempat-empatnya adalah baru. Dan itu berarti perlu ekstra membaca, menganalisa untuk menyampaikan yang terbaik bagi mahasiswa. Karena hal inilah saya tidak seaktif dulu lagi menulis di blogšŸ™‚

Selain tugas perkuliahan yang menjadi kewajiban dosen, saya juga terlibat dalam sebuah tim kecil untuk menggodok program internalisasi nilai-nilai kejuangan Pangeran Diponegoro di UNDIP. Karena waktu yang diberikan untuk persiapan materi sangat pendek, alhasil saya dan seorang mahasiswa yang membantu mengerjakan secara teknis, harus rela tidak tidur bermalam-malam untuk menyusun materi ajar berupa slide show foto dan film dalam bentuk DVD. Alhamdulillah, tahap uji coba kepada mahasiswa baru di semua fakultas tengah berlangsung saat ini, dan saya melihat respon yang sangat luar biasa dari para mahasiswa. Hal ini membuat kelegaan dan sekaligus semangat untuk memperbaiki apa yang sudah kami buat untuk menjadi lebih baik.

Sudah tiga kali saya menjadi tutor dalam program tersebut, di fakultas yang berbeda. Saya sebagai orang baru di UNDIP dan juga sekaligus baru di pendidikan tinggi di Indonesia, merasakan suasana kemahasiswaan yang sangat berbeda dengan jaman kami dulu. Pada jaman saya kuliah S1, handphone (HP) belum masuk ke tanah air. Komputer pun masih yang berlayar hitam dan tulisan hijau. Word belum ada, dan seingat saya, kami membuat skripsi dengan program DOS (?). Karena masih sederhananya alat-alat IT, sumber ilmu bagi kami barangkali hanya dua yang utama, yaitu dosen dan buku. Karenanya perhatian terhadap dosen di kelas-kelas perkuliahan menjadi sangat penting. Waktu itu, belum ada dosen yang menyampaikan kuliah dengan power point, tetapi sudah ada yang menggunakan OHP. Hampir tidak ada mahasiswa yang tertidur selama penelitian, apalagi mengobrol, sebab dosen-dosen cukup galakšŸ™‚ Di luar jam kuliah, waktu saya habis untuk membaca buku di perpustakaan, memberikan les privat, dan mengerjakan tugas laporan yang selalu ada setiap pekannya.

Dari beberapa kali perkuliahan yang saya lakukan baru-baru ini, saya menangkap sebuah gejala kebiasaan mahasiswa Indonesia jaman sekarang, yang saya istilahkan saja dengan mahasiswa posmo. Kalau dulu, jika Ibu/Bapak Dosen tampak di pintu masuk ruang kuliah, kelas mendadak senyap. Lain halnya sekarang, sekalipun dosen sudah tampak bahkan berada di tengah ruangan, mahasiswa masih menganggap hal itu biasa saja dan tidak terusik, mereka terus saja bercanda dan mengobrol. Saya kadang-kadang terpikir apakah saya harus meniup sempritan polisi untuk menenangkan merekašŸ™‚

Ketika perkuliahan dimulai, sedikit yang mencatat dan bahkan sebagian besar jari-jarinya bergerak-gerak memainkan HP. Entah mereka sedang menghubungi teman melalui kiriman SMS atau mengecek fesbuk dan berbagai social network lainnya. Bahkan ada yang saya amati sedari saya masuk hingga menjelang akhir perkuliahan, terus-terusan saja bermain dengan HP-nya. Saya sengaja tidak menegurnya, karena saya pun tertarik mempelajari perubahan perilaku mahasiswa.

Kejadian di atas tampak dalam perkuliahan Internalisasi Diponegoro yang memang merupakan kelas besar dengan mahasiswa kurang lebih 120 hingga 200 orang. Dalam perkuliahan kelas kecil di sastra Jepang, saya belum pernah menemukan mahasiswa yang melakukan hal seperti di atas, dan terlihat keseriusan mereka belajar dan keingintahuan yang besar, sehingga saya pun selalu berusaha menampilkan perkuliahan tentang kejepangan yang terbaru.

Karena terjebak dengan kemajuan IT, mahasiswa posmo juga tidak memiliki ketertarikan untuk mencatat di buku. Buku adalah benda kuno, bahkan bolpen tidak lagi diperlukan dalam era posmo. Saya cukup kaget ketika seorang mahasiswa di sebuah fakultas ternama tiba-tiba maju dan menanyakan apakah boleh menulis resumenya di HP-nya (iPad-nya), karena menulis di kertas/buku menyulitkan, lebih mudah jika pakai iPad. Saya katakan silakan saja, tetapi presentasi kelompok pada diskusi kelas adalah presentasi lisan. Saya bukan pertama kali ini melihat iPad, sebab ketika berada di Jepang pun barang itu sudah sangat lazim. Namun, mendengar bahwa mahasiswa merasa budaya tulis-menulis di buku adalah menyulitkan, membuat saya terhenyak. Saya tiba-tiba saja merindukan suasana belajar di masa kuliah dulu, dan juga ketika menempuh kuliah di Jepang selama hampir tujuh tahun. Semodern apapun IT yang diraih negara Jepang, dosen-dosen kami masih menulis dengan kapur tulis di papan tulis yang bisa digerakkan naik turun. Dan kami para mahasiswa, tetap saja menulis semua ucapan dosen di buku tulis kami, sekalipun menulis kanji bukan perkara yang mudah.

Saya tidak tahu dari faktor kesehatannya, namun menurut saya, menulis dengan bolpen lebih sehat daripada menulis/mengetik di komputer atau iPad. Selain karena layar iPad/komputer memancarkan gelombang yang berbahaya, posisi jari-jemari saat mengetik pun kurang baik. Berbeda dengan menulis dengan bolpen yang membuat semua jari bekerja untuk memegang dan menekan alat tulis.

Demikianlah, tidak hanya mahasiswa sebenarnya, tetapi saya pun sebagai dosen belakangan ini merasa sangat terjebak dengan peralatan IT. Hampir semua perkuliahan saya sampaikan dengan slide power point, sebab selalu ada gambar/foto yang harus disajikan. Tetapi saya juga menulis laporan dengan komputer, dan kelabakan jika diminta menulis laporan berbahasa Jepang dalam bentuk tulisan tanganšŸ™‚

Namun, sepesat apapun IT masuk dalam kehidupan kita, manusia yang luhur dan berbudaya tetaplah harus berjalan pada rel yang benar. Akal dan jiwa dikaruniakan kepada kita untuk dapat menjadi orang yang santun dan berbudaya. Pengukuran status dan kekayaan bisa saja berubah sejalan dengan perubahan jaman, tetapi budi, perilaku dan karakter baik adalah sebuah nilai moral yang tidak akan berubah.

Menjadi tugas dosen dan pembimbing untuk tidak pernah berputus asa menasihati mahasiswanya agar tetap pada jalur manusia yang berakhlaq dan berbudaya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: