murniramli

Dari Seminar Menggali Nilai-Nilai Perjuangan Diponegoro

In Serba-serbi Indonesia on Oktober 9, 2011 at 12:05 am

Kemarin, Fakultas Ilmu Budaya dalam rangka Dies Natalis UNDIP ke-54 menyelenggarakan Seminar Menggali Nilai-Nilai Perjuangan Diponegoro sebagai Materi Pendidikan Karakter Bangsa. Saya diminta menjadi pembicara untuk mewakili  Tim Internalisasi Nilai-Nilai Perjuangan Diponegoro di UNDIP, menyampaikan apa yang sudah kami kerjakan sejak Juli 2011 hingga September 2011.

Program Uji coba internalisasi di UNDIP sebenarnya merupakan program “sangat mendadak”, sebab kami hanya diberi waktu kurang dari sebulan untuk menyiapkan segala sesuatunya. Saya dan seorang mahasiswa yang membantu harus rela lembur berhari-hari di kampus, tidak pulang ke rumah hingga kami sudah menghasilkan sebuah produk yang akan disampaikan sebagai bahan internalisasi. Hasil kerja tersebut berupa DVD pembelajaran yang sekarang menjadi bahan internalisasi nilai-nilai perjuangan Diponegoro di UNDIP.

Karena kami adalah amatir di bidang pembuatan DVD pembelajaran, maka saya siap menerima kritikan terhadap hasil karya tersebut. Saat TOT berlangsung pertama kali, ada sedikit kekecewaan karena DVD tidak bisa diputar dengan suara yang terdengar jelas. Hanya gambar yang keluar. Permasalahannya ada pada laptop yang kami pakai, tetapi hingga akhir TOT, laptop tidak mau kompromi. Akhirnya saya hanya berlapang dada menerima kecaman dan nada kecewa dari “bos”. Saat usai kegiatan saya hampir menangis karena “bos” meminta pembuatan DVD diserahkan kepada ahlinya, dan sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan saya, bahwa DVD benar-benar sudah kami tuntaskan, dan ini hanya kendala teknis. Selama TOT, saya catat semua koreksi, kritik, dan saran dari dosen-dosen yang akan menjadi tutor. Hari itu saya sebenarnya tidak punya energi lagi untuk berdebat, sebab semalam saya sudah bela-belain tidur di kampus, dan tidak pulang hingga diminta menjadi pembicara dalam TOT. Jadi, saya diam saja dan bertekad akan membereskan masalah ini, dan kembali lembur. Entahlah, hari itu saya dan mahasiswa sepertinya adalah orang yang paling kucel dalam ruang rapat rektorat yang megah itu. Saya yakin mahasiswa pun sangat kecewa dengan apa yang terjadi hari itu.

Keesokan harinya, saya sebenarnya tidak bisa ke kampus untuk mengerjakan DVD tsb, karena dosen pembimbing saya di Jepang dulu datang ke Solo, dan saya sudah berjanji akan menemani beliau mengunjungi pabrik-pabrik gula di Madiun. Saya sudah minta ijin dua hari untuk keperluan ini. Tetapi karena DVD belum tuntas, akhirnya hari Sabtu saya putuskan lembur dan mengabari sensei bahwa saya akan datang menjelang buka puasa. Proses editing gambar dan pengisian suara ternyata berlangsung hingga jam 5 sore. Saya menyerah. Saya harus pergi ke Solo untuk memenuhi janji. Lalu, apa akal? Akhirnya dengan pertimbangan yang cepat, saya putuskan mengajak mahasiswa ke Solo. Kami akhirnya berangkat menjelang maghrib, dan tiba di Solo pukul 9 malam. Sesampainya di rumah teman tempat saya menginap, saya langsung meminta maaf bahwa kami harus bekerja malam ini. Dan mulailah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran tersebut berlangsung hingga pagi. Saya hanya tidur sesaat, dan mahasiswa juga saya biarkan terlelap pagi harinya, sambil saya mengecek kembali DVD yang sudah kami buat. Hari itu, saya akan bergerak ke Madiun, sementara mahasiswa harus kembali ke Semarang menyampaikan hasil DVD kepada pimpinan tim. Sebelum mahasiswa tiba di Semarang, saya sudah mengabari pimpinan tim via telpon, bahwa saya nekat “menculik” mahasiswa ke Solo, dan apa yang kami hasilkan sudah maksimal. Tetapi jika masih ada kesalahan dan tambahan silakan diperbaiki. Saya sudah berpesan kepada mahasiswa untuk membantu sepenuhnya. Sebelum TOT kedua berlangsung, saya sudah akan ada di Semarang lagi.

Maka demikianlah, alih-alih menjelaskan kepada sensei tentang pabrik gula yang akan dikunjungi, sepanjang jalan saya malahan pulas tertidur di mobil.

TOT yang kedua berjalan lancar. Pada hari itu, kami sudah menyiapkan buku panduan, DVD, dan CD slide presentation untuk tutor yang akan dipergunakan dalam kegiatan. Saya bertugas menguraikan dari awal strategi pembelajaran, dan sekaligus membagikan kuesioner untuk para mahasiswa dan tutor. Kuesioner tersebut saya sempatkan susun dalam jeda perjalanan mengantarkan sensei.

Alhamdulillah, kegiatan internalisasi keesokan harinya (24 Agustus 2011) berjalan lancar. Pagi-pagi sekali saya ke kampus karena kegiatan akan dimulai pukul 09.00. Saya bermaksud memantau pelaksanaan jika terjadi kemacetan DVD, dll. Namun, hari itu ada seorang tutor yang seharusnya mengisi di FPIK terlambat datang. Saya segera berlari mengambil kuesioner, dan minta diantar ke lokasi untuk menggantikan beliau, dan berpesan agar beliau menggantikan saya pukul 11.00 (saya bertugas pada sesi kedua yang dimulai pukul 11.oo). Untunglah pimpinan tim kami juga sudah siap sejak pagi, sehingga kami bisa bergerak cepat. Alhasil, kegiatan di kelas yang saya bimbing agak terlambat 10 menit. Tetapi saya sungguh terharu mendapatkan respon yang sangat baik dari para mahasiswa. Di akhir kegiatan, para mahasiswa bertepuk meriah, mereka mendatangi saya satu per satu, menyalami dan mencium tangan saya. Mereka bahkan meminta agar diselenggarakan acara dan diskusi mendalam tentang Diponegoro. Mereka mendaulat foto bersama dan meminta kartu nama serta nomor kontak yang bisa dihubungi jika ingin berdiskusi.

Saya begitu terharu dan surprise mendengarkan laporan dari teman-teman tutor bahwa respon mahasiswa sangat baik, sekalipun ada permasalahan mengenai ruang dan perlengkapan yang kurang memadai. Bapak rektor bahkan terlihat ikut menjadi peserta di salah satu kelas uji coba di FIB. Seusai kegiatan, saya segera mengumpulkan kuesioner dari para tutor dan mulai membaca komentar-komentar yang masuk dari para mahasiswa dan tutor. Saya tersenyum-senyum membacanya. Mahasiswa tampaknya sangat antusias dengan kegiatan ini.

Kesuksesan uji coba intenalisasi itulah yang saya sampaikan dalam seminar kemarin. Dalam sesi tanya jawab, ada pertanyaan tentang faktor yang menyebabkan kesuksesan tersebut. Mengapa mahasiswa sangat baik dalam merespon kegiatan? Apakah sudah ada penjajakan sebelumnya? Sayangnya saya hanya diberi waktu selama satu menit untuk menjelaskannya, sehingga jawaban saya semestinya kurang memuaskan. Nanti akan saya tuliskan pendapat dan jawaban lengkapnya di blog ini.

Ada insiden menarik dalam kegiatan seminar kemarin. Sebenarnya panitia sudah merancang kegiatan dalam sesi paralel, yaitu sesi A untuk bidang akademik dan penelitian tentang Diponegoro, dan sesi B tentang pendidikan karakter. Saya termasuk dalam sesi B. Sesi A dan sesi B dalam rencana kegiatan akan diselenggarakan secara paralel dari jam 11.00 hingga jam 13.00. Namun, Pak Wardiman yang menjadi pembicara di sesi A, dengan alasan akan segera pulang ke Jakarta bersama Pak Peter Carey (juga pembicara sesi A) mendadak mengubah setting acara, dan meminta berbicara duluan, lalu meminta sesi A sebagai sesi pleno (artinya tidak dipecah dengan B). Akhirnya, menjadi kacaulah susunan acara. Coffe break yang seharusnya pukul 10.30 hingga pukul 11.00 tidak bisa dilaksanakan karena sesi A sudah mulai. Saya yakin para peserta sudah berbunyi perutnya, sebagaimana saya juga yang hanya sarapan sedikit. Maka, saya keluar menanyakan apa yang sebaiknya dilakukan kepada teman-teman panitia. Saya usulkan untuk membagi-bagikan langsung snack dan minuman kepada para peserta. Siapa yang akan melakukannya? Seharusnya petugas hotel. Tetapi sayang pelayanan di hotel kurang memuaskan, sebab katanya tidak ada petugas yang bisa melakukannya. Saya kemudian mengusulkan panitia yang harus bergerak. Kepada tim konsumsi saya ceritakan cepat apa yang harus dilakukan, dan saya meminta bantuan mahasiswa untuk menjadi pelayan. Saya pun turun tangan mengantarkan snack dan minuman kepada para peserta hingga ke meja para undangan.

Pada saat jam makan siang, rekan pembawa acara mendatangi saya dan berkata, “Saya sangat tersentuh. Bukankah Bu Murni pembicara hari ini? Mengapa harus mengantarkan snack seperti itu?” Saya kaget juga mendengar komentarnya. Saya baru menyadari bahwa tugas saya hari itu adalah sebagai pembicara🙂  Saya jelaskan bahwa sepertinya tadi adalah respon alamiah. Tidak ada bedanya saya dengan yang lainnya, sekalipun status saya hari itu adalah pembicara. Dalam kondisi darurat, barangkali  seperti itu respon otomatis yang muncul. Saya memang sempat mendengar teriakan kecil Pak Prof. Dadang (UPI, yang juga menjadi pembicara) yang melihat saya hilir mudik mengantarkan makanan. “Sudah, Bu Murni. Duduk saja”, begitu komentarnya. Tetapi, saya kira pembagian snack kepada kurang lebih 180 peserta dan undangan yang hadir pada kesempatan tsb, akan berjalan lamban jika hanya mengandalkan mahasiswa dan dua orang dosen panitia. Paling tidak, tenaga saya mempercepat proses. Jadi, saya baru merasa lega setelah semuanya mendapatkan bagian, dan ternyata saya dan mahasiswa, termasuk panitia lain….tidak kebagian snack🙂

Semoga para peserta cukup puas dan dapat belajar banyak hal dari seminar kemarin.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: