murniramli

Karena Langit Sedang Malu

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, Renungan on Oktober 20, 2011 at 2:49 pm

Setiap kali selesai mengajar di kampus, saya selalu diantar pulang oleh seorang mahasiswa, naik motor. Sering kali berpapasan dengan para tentara yang naik motor berboncengan dan tidak memakai helm. Mahasiswa saya pasti akan bercerita bahwa tentara sengaja tidak pakai helm karena sentimen dengan polisi. Atau kadang-kadang dia bilang, polisi ndak ada yang berani nyemprit tentara. Lalu, mahasiswa akan bertanya, “Menurut Ibu bagaimana? Mengapa tentara tidak memakai helm?” Saya dengan santainya menjawab, “Karena dia takut sisiran rambutnya rusak”. Mahasiswa saya pasti tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban tersebut.

Sewaktu saya mengajar di Sekolah Bhinneka di Nagoya, murid-murid saya sering menggunakan kata, “nande?” (=mengapa), setiap kali saya membuat sebuah pernyataan. Misalnya, saya katakan pada musim panas di Jepang, kita sering mendengar bunyi berisik di pohon. Itu adalah serangga cicadas atau dalam bahasa Jepang disebut, semi. Murid saya akan bertanya, “Mengapa mereka berisik?” Kalau sedang serius, saya akan menjawab, “Karena mereka menggesekkan sayapnya”. Kalau sedang tidak serius, saya akan menjawab, “Karena mereka kepanasan”. Dan murid akan bertanya lagi, “Mengapa mereka kepanasan?”. Lalu, saya menjawab, “Karena matahari sedang marah, sehingga memancarkan sinar yang panas sekali”. Lalu kalau diteruskan mereka akan bertanya lagi, “Mengapa matahari marah?” Dan jawaban saya selanjutnya dijamin ngawur, yang akan membuat para orang tua siswa yang mendengarkannya akan terbahak, lalu murid-murid kecil saya tidak pernah merasa puas, terus saja bertanya. Tetapi karena kebisaan menjawab yang aneh-aneh, banyak anak yang senang berkerumun kalau saya sedang bercerita🙂

Jika Anda ditanya oleh anak atau siswa Anda, “Mengapa senja itu berwarna merah?” Apa jawaban Anda?

Di kelas Project Work Jurusan Sastra Jepang, seminggu yang lalu, kami membahas tentang tulisan di koran Jepang. Salah satu tulisan yang kami baca adalah tentang seorang penulis ternama yang berhenti dari sekolah formal SD dan selanjutnya dididik ala home schooling oleh ayahnya. Dia menyebut pendidikan ala terakoya (cikal bakal sekolah di Jepang, biasanya adalah sebuah kamar yang ada di samping otera/temple untuk belajar mengajar). Saat SD si anak mendapat PR dari gurunya, pertanyaan di atas. Ketika dia bertanya kepada ayahnya, sang ayah menjawab, “Karena Langit Sedang Malu”. Jawaban itu ditulisnya dan ditunjukkannya kepada gurunya. Oleh gurunya, ditulislah tanda silang besar di atas jawaban tersebut. Si anak kecewa kepada ayahnya, dan kembali ke rumah sambil mengomel, “Mengapa ayah berbohong?” Ayahnya dengan muka yang kurang senang karena dituduh berbohong berkata, “Kalau jawaban untuk pertanyaan itu hanya satu yang dianggap benar, itu namanya kamu bukan manusia”.

Ya, barangkali sama dengan jawaban-jawaban yang saya sampaikan kepada murid-murid kecil saya, atau mahasiswa saya di atas. Saya sama dengan si ayah, menganggap jawaban sebuah pertanyaan tidak mutlak satu. Jawaban yang diharapkan oleh sang guru tentunya jawaban ilmiah, yaitu penjelasan tentang sinar matahari yang tenggelam. Tetapi, ayah adalah orang yang berpandangan luas. Dia mengajari anaknya tentang sebuah kemungkinan situasi dari sudut pandang sastrawi. Bahwa warna merah tersebut adalah gambaran langit yang sedang malu, sebab bukankah jika manusia malu, pipinya pun akan kemerahan?

Si ayah juga telah mengajarkan anaknya tentang konsep berpikir di luar kotak. Ketika semua siswa akan menjawab bahwa warna merah muncul karena pantulan sinar matahari, si ayah mengajak anaknya untuk berpikir di luar dari pandangan dan kesepakatan umum. Lalu, apa gunanya anak diajari berpikir di luar kotak? Apa maksud didikan ayah di atas?

Kelak di masa dewasanya, anak yang menuliskan didikan ayahnya dalam sebuah artikel ringan di Koran Asahi yang kami baca tersebut, menjadi seorang penulis dan tokoh terkenal di Jepang.Dalam akhir tulisannya dia menyimpulkan bahwa didikan ayahnya telah mengajarinya sesuatu yang berharga, yaitu tentang kehidupan manusia yang dinamik. Bahwa segala sesuatunya tidak dapat dianggap saklek. Bahwa seseorang tidak boleh buta terhadap pandangan yang berbeda. Bahwa hidup manusia akan bahagia, jika dia memiliki kekreatifan cara dalam menghadapi masalah-masalahnya dengan berpikir di luar kotak.

Anak-anak yang bisa menjawab dengan jawaban di luar kotak, adalah anak-anak yang sangat dalam pengamatan, perasaan dan kepekaannya. Ketika semua orang berada dalam keputusasaan berpikir karena tidak ada jalan keluar terhadap masalah yang muncul, pikiran si anak telah melesat keluar dari kotak, dan mulai memikirkan alternatif-alternatif baru.

Tak mudah mengajari anak demikian itu. Tetapi yang pasti, kita perlu berlatih mengucapkan kata, “bagus”, ide bagus, hebat”, dan aneka pujian baik ketika dia berani menjawab sesuatu yang melewati kelaziman, tetapi masih masuk akal.

 

 

  1. pertanyaan anak kecil = rasa ke ingin tahu an yang amat besar, mengenali di luar dirinya.
    masa tumbuh era ke emasan akan kaya pendapatnya (otak kanan), sering membikin kesal + jengkel orang dewasa yang ditanya. knapa? karena semakin fakir akan idea miskin inspirasi, namun kaya akan realitas (otak kiri).

    di era masa sekolah, pola pikir guru dewasa (karna usia), bukannya berubah sifat ke kanak2 an melainkan (seyogyanya) berani berkorban diri berusaha menyelami+meladeni+ menyamakan+empathi dengan dunia daya nalar anak.

    cilakanya, acapkali guru memperlakukan pola pikir dewasa kepada anak, dengan membata -si tanggapan dengan membatasi jawaban mutlak benar plus penyikapan cenderung menjatuhkan mental si anak sehingga seolah berebut penguasa tunggal menegaskan siapa pengendali di depan kelas = merenggut masa ke emasan mereka, bekal seharusnya bakal kaya berubah jatuh miskin akan idea kreatifitas+inovasi+ inspirasi di masa dewasa nantinya, yang tinggal tersisa adalah ideologi kaku+keras harga mati.

    ulasan yang menggugah, semoga mampu mengubah+menyadarkan kembali sikap
    seorang pendidik, utamanya bukan lahir dari kalangan keguruan (-)pedagogi, namun bergerak di bidang pendidikan sipil (lebih menyerupai seorang instruktur militer). terima kasih inspirasinya mbak murni.

  2. banyak juga keinginan, tempat dan ruang yang ingin kugapai ku jalani mungkin jalan bertahap harus memang dijalani dengan inspirasi dan keberanian dari kondisi jiwa yang baik dan sehat,
    pa wandi bandung provinsi jawa barat
    hp.62285624931935 wass

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: