murniramli

Pembaharuan Buku Pelajaran Sekolah

In Manajemen Pendidikan, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on Oktober 20, 2011 at 2:03 pm

Pernahkah Anda iseng membaca buku pelajaran anak-anak SD ? Ah, barangkali kita tidak terpikir untuk melakukan hal itu karena sudah disibukkan dengan kehidupan monoton yang harus kita jalani sehari-hari. Ya, saya pun termasuk yang tidak punya waktu luang sebenarnya, tetapi karena anak teman saya meminta dites menjelang ujian mid, maka jadilah saya perlu membaca buku-buku anak SD.

Sebenarnya setiap kali saya mengetes si anak, selalu saja saya geleng-geleng kepala dengan jenis dan model pertanyaan yang diajukan. Pantas saja, kemampuan membaca dan menganalisa siswa-siswa kita sangat kurang. Bayangkan saja, ada pertanyaan di sebuah buku tentang lingkungan hidup yang dipakai salah satu SD di Semarang.

Pertanyaannya : “Pohon pelindung harus …..
Jawabannya : a. disiram,   b. dipupuk,   c. dipangkas,    d. dibiarkan saja.

Kira-kira jika Anda diberi pertanyaan seperti itu, apa yang akan Anda jawab?

Ketika si anak menanyakannya, saya tak tahan tertawa dan berteriak, jawabannya benar semua. Si anak bingung dan bertanya, “la, kok bisa ?” Yang paling benar apa, Mbak ?”  Saya bingung dengan pertanyaannya, tapi kemudian juga tidak mengerti logika berpikir pembuat soal. La, pohon pelindung kalau masih kecil, tentunya harus dipupuk dan disiram. Kalau sudah rimbun dan melewati kabel listrik, mesti dipangkas. Kalau dahannya baru bermunculan, ya….dibiarkan saja. Jadi, menurut saya jawabannya benar semua !!

Ayah si anak yang tiba-tiba menyahut, menyuruh si anak untuk membaca kembali bukunya. Maksudnya, jangan mendengarkan saya yang ngawur🙂
Sambil tersenyum-senyum, saya ambil buku si anak, dan mulai membaca paparan di buku itu. Setelah membaca sekilas, saya langsung mengerti mengapa si anak sehari-harinya tidak peduli dengan lingkungan, terbiasa membiarkan sampah berserakan, bahkan kadang-kadang membuang tisu di pot bunga. Itu, karena buku pelajarannya ditulis dengan ajaran dan logika yang salah. Sama sekali tidak ada ajaran mencintai lingkungan, dan tuntunan menjaga kebersihan.

Salah satu paragraf yang juga membuat saya geleng-geleng kepala adalah tentang pemanfaatan halaman sekolah. Detil kalimatnya saya lupa, tapi intinya masih ingat. “Halaman depan sekolah harus ditanami bunga, halaman belakang ditanami buah-buahan, dan di tengah halaman sekolah perlu ditanami tanaman pelindung”. Lalu, tidak ada penjelasan tentang mengapa harus demikian. Kemudian pertanyaan dalam soal, juga menyesuaikan, “Di halaman belakang sekolah harus ditanami…….”

Saya kira, mengajarkan anak-anak SD tentang lingkungan, tidak tepat dengan penjelasan kalimat-kalimat panjang ala anak SMP atau SMA. Dan kemudian menyuruhnya membaca itu berulang-ulang, termasuk menanyakan pertanyaan yang persis sama dengan kalimat dalam teks, setitik komanya pun sama.

Pembelajaran tentang lingkungan di usia muda akan sangat baik dilakukan dengan praktek. Ketika membahas tentang sampah, tidak ada gunanya meminta mereka menghafal pupuk alami, pupuk kimia, dll yang bisa dibuat dari sampah. Yang terpenting adalah bagaimana memilah sampah, mengapa harus dipilah, gambarkan apa akibatnya sampah tidak dipilah, bagaimana perjalanan sampah yang keluar dari rumah mereka hingga ke TPS. Jika mereka membuang sampah sembarangan, bagaimana/ apa yang terjadi dengan sampah itu selanjutnya?

Anak-anak akan lebih mudah memahami persampahan dengan gambar atau ilustrasi tentang si kertas, si air cucian, si wortel, si baju, dan beberapa penokohan benda lainnya. Saya teringat, baru bisa memahami darimana air yang saya minum sehari-hari, setelah membaca sebuah buku yang menjadikan air sebagai sang tokoh utama dalam cerita. Air diceritakan selayaknya manusia yang menjalani perjalanan jauh dari mata air di pegunungan, melewati sungai di lembah, saluran-saluran air, dan akhirnya sampai di rumah.

Dengan model penokohan benda mati, imajinasi anak-anak akan lebih terbuka. Dia akan tetap ingat kisah-kisah tersebut, bahkan jika ada nama khusus yang diberikan pada “tokoh” dalam cerita akan lebih muda baginya mengingat (terutama untuk anak-anak yang memiliki kemampuan mengingat visual).

Namun apa lacur? Buku-buku pelajaran SD di Indonesia miskin gambar. Kalau toh ada gambar, hanya sekedar copy paste dari internet. Sebagaimana halnya dalam salah satu halaman buku tentang Lingkungan Hidup untuk anak kelas 6 SD yang saya baca di atas. Saat menjelaskan tentang bonsai, tanpa peduli apakah anak-anak sudah jelas apa itu bonsai, penjelasan selanjutnya merembet pada jenis-jenis dan gaya bonsai yang tentu saja menggunakan bahasa Jepang. Untuk apa anak-anak kelas 6 SD diajari hal seperti ini???

Saya yakin, buku pelajaran lainnya sama saja, baik yang dipergunakan di sekolah negeri maupun swasta. Dengan kualitas bacaan seperti itu, wajar saja jika posisi siswa-siswa SD dan SMP kita kedodoran dalam tes PISA dan TIMMS.

Yang menyedihkan lagi, mengapa buku dengan kualitas rendah diloloskan oleh dewan penyeleksi buku pelajaran sekolah? Apakah sudah tidak ada yang memeriksanya dengan benar? Bukankah dana untuk hal ini sudah dialokasikan oleh pemerintah? Saya kurang mengerti bagaimana proses penerbitan dan ijin penggunaan buku pelajaran di sekolah. Tetapi saya kira, pemerintah perlu lebih serius menangani hal ini. Sudah masanya, para pengelola, tim yang menyeleksi berhenti memikirkan uang….uang….dan uang saja.

Jika tidak ada itikad baik memperbaiki buku ajar di sekolah-sekolah di tanah air, jangan harap kita akan lepas dari keterpurukan pendidikan ini. Selamanya kita akan menjadi bangsa yang tak pandai membaca (huruf) apalagi membaca alam dan jaman.

 

 

  1. Anak saya 6.5 thn, kelas 1. Setiap hari di sekolah tugas yang diberikan gurunya hampir tidak pernah selesai. Setiap pulang sekolah harus saya temani di kelas untuk menyelesaikan catatannya. Sebenarnya kalau menulis dia cukup cepat, hanya untuk mau mengerakkan tangannya untuk menulis sulit sekali. Otak-atik pensil, gosok2 buku (bukunya sering bolong disetip),goyang-goyang bangku, melamun. Pokoknya ada saja. Saya merasa sudah sabar selama 2 bulan. Dan akhir2 ini saya sudah sangat sulit menahan emosi saya untuk tidak marah. Apalagi sekarang hampir setiap hari ulangan. Ulangan yang tidak selesai, tentu nilainya jelek. Ini membuat saya kesal, karena merasa harusnya dia bisa, tapi tidak mau menulis. Puncaknya kemarin, belajar pelajaran PKN untuk ulangan hari ini. Guru lesnya sudah mengajari 1.5 jam, lima agama, masing2 dengan tempat ibadah, pemuka agama, dan kitab suci. Tidak ada yang diingat. Saya lalu mengajari sendiri, sudah dengan hati kesal. Tapi, anaknya tidak bisa konsen. Saya jadi kalap, anak saya pukul.

  2. ya, sabar itulah yang perlu kita iliki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: