murniramli

Anak yang tidak mudah stress

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah on Oktober 23, 2011 at 6:01 pm

Teman saya mempunyai dua orang anak yang sangat berbeda tabiatnya. Satu orangnya (laki-laki) sangat tekun belajar, sementara yang satu lagi (perempuan) sangat bertolak belakang, malas belajar. Saya sering membandingkan keduanya, dan sebenarnya saya lebih suka si pemalas. Entah kenapa, tetapi si pemalas memiliki salah satu kelebihan, yaitu nyantai dan percaya diri yang tinggi.Atau boleh jadi karena sejak kecil saya adalah anak yang rajin dan belajar sangat tekun, dan setelah dewasa menyadari bahwa saya tidak pernah merasakan kesantaian🙂

Si rajin pulang sekolah sore kadang-kadang malam. Di sekolahnya (SMA) ada banyak kegiatan untuk siswa, sehingga tak pernah dia pulang sekolah siang hari. Selain kegiatan di sekolah, ibunya pun mengikutkannya bimbel, sehingga alhasil kadang-kadang si rajin harus pulang malam. Sesampainya di rumah, bukannya beristirahat, dia segera menggarap PR-PR, dan kemudian membaca materi yang akan diajarkan atau telah diajarkan. Dia benar-benar pembelajar yang baik. Kata ibunya, setiap hari dia bangun jam 3 dan segera mengerjakan PR lagi kalau belum selesai. Karena sekolahnya jauh dari rumah, maka setelah subuhan, segera si rajin mandi, sarapan dan naik bis ke sekolah. Rutinitasnya sehari-hari hanya belajar dan belajar. Saya belum pernah melihatnya pergi bermain dengan teman-temannya.

Si malas lain lagi.Sepulang sekolah (SD) di siang hari, dia biasanya akan menonton TV hingga kemudian tertidur, ditonton TV. Pada saat musim ujian sekalipun, si malas hanya belajar ala kadarnya. Tetapi saya mengagumi kecepatan belajarnya. Hanya belajar dengan sebentar saja, dia sudah mampu menghafal materi. Saya tidak begitu setuju dengan cara belajarnya yaitu menghafal pertanyaan dan jawaban soal-soal yang ada di belakang setiap bab, tetapi tampaknya soal-soal ujian yang akan keluar persis sama dengan soal-soal tersebut.Sebab, setiap selesai ujian, dua hari kemudian dia akan bercerita kalau salahnya cuma satu atau dua.

Yang menarik adalah sikap yang dimiliki kedua anak tersebut. Si rajin amat perfeksionis. Bahkan cenderung menjadi stress dan uring-uringan jika nilai ujian tidak sempurna seratus. Sementara si malas, sambil ketawa (menertawakan diri sendiri), bercerita kalau dia salah menjawab, misalnya ketika dia menulis ibukota Myanmar dengan Yanko (bukan Yangon).Baginya, wajar-wajar saja jika salah menjawab, dan apalagi kalau yang salah cuma 1-2 soal.

Ibunya sering menegur si malas, dan memintanya agar belajar segiat kakaknya yang rajin. Tetapi dengan santainya dia akan menjawab bahwa dia tidak bisa meniru cara belajar seperti itu. Belajar sambil njengking-njengking (bahasa Jawa= belajar keras) dan mendapatkan nilai sempurna itu mustahil dilakukannya. Dia lebih memilih belajar yang biasa saja, dan nilai yang sedikit tidak sempurna.

Satu lagi kelebihan si malas adalah kemampuan bersosialisasinya yang sangat baik. Dia terbiasa menyapa tamu dan orang-orang sekitarnya. Bahkan, menurut ibunya, dia pernah diintimidasi oleh teman sekelasnya pada saat duduk di kelas 4 SD. Namun, tanpa bercerita kepada ibunya, dia mampu melewati masa tersebut sambil terus bersekolah, sementara temannya yang sama-sama ditindas, tidak mau masuk sekolah selama sebulan.Suatu kali si malas pernah bercerita bahwa dia pernah seorang diri di rumah (dia memang sering sendirian kalau pulang sekolah sementara ayah dan ibunya di kantor), dan tiba-tiba telepon berdering. Si penelepon menanyakan apakah ayah dan ibunya ada, dan si anak menjawab, “ini siapa?”, lalu saat si penelepon menjelaskan bahwa dia ingin tanya-tanya soal mobil (yang rencananya akan dijual), si anak dengan sigap menjawab, “Oh, salah sambung” sambil menutup telepon. Saya tanya dia, apakah dia takut sesudah menerima telepon itu? Dia jawab, “Nggak. Setelah itu saya langsung tidur”🙂

Selain percaya dirinya yang tinggi, si malas juga sangat cepat meledak. Dia akan berani melawan kakaknya, kalau merasa haknya ditindas. Kalau sudah mengamuk, dia mengalahkan anak laki-laki. Tetapi, dia hanya membuat onar di rumah, bertengkar ala kakak adik. Di luaran, belum pernah ada kejadian dia mengamuk di sekolah atau bertengkar dengan teman-temannya. Tetapi, dia juga sangat santun. Kalau saya bertemu dengannya di pagi hari, dia akan mencium tangan saya sebelum berangkat sekolah. Bahkan jika hendak mengambil sesuatu barang yang ada dekat dengan orang lain, dengan santun dia akan mengatakan, “Permisi, Mbak”. Ini sangat berbeda dengan kakaknya, yang jarang bicara, bahkan sapaan pagi, siang, malam darinya, belum pernah saya dengar.

Saya membayangkan anak-anak itu kelak jika sudah dewasa. Saya sering bercerita kepada ibunya, bahwa si kecil yang walaupun tampaknya santai dalam belajar, kelak akan menjadi orang yang tidak mudah stress. Dia akan bekerja tidak bertumpu pada hasil. Sekalipun hasilnya tidak sempurna, dia akan merasa puas, sebab sudah bekerja. Yang terpenting dalam hidupnya adalah bekerja dan banyak teman. Sementara si kakak yang rajin akan menjadi perfeksionis dan sangat gampang terkena stress. Memang dia akan menjadi orang yang unggul, tetapi teman-temannya tidak banyak. Dia cenderung bekerja dan menyempurnakan pekerjaan sendirian, dan tidak mudah mempercayakan sesuatu kepada orang lain.

Sifat-sifat kedua anak bukan sifat bawaan yang tidak bisa diubah. Mumpung mereka belum beranjak dewasa, orang tua perlu mengarahkan mereka agar menyadari karakter negatifnya, dan berusaha menjadi lebih positif. Yang sangat penting adalah orang tua menyadari karakter yang berbeda tersebut dan mendidik mereka tanpa membedakan kasih sayang di antara keduanya.

  1. Info yang menarik. Numpang info juga ya model baju muslim anak

  2. Benar sekali Bu …,
    Kalau saya mungkin pernah menjadi si kakak yang rajin itu ….

  3. kalu si adik nampakny “gw banget githu loh”,,,,,,
    asal jangan lupa kontrolling jg,kr kadang kebablasan agk moody,trburu2 dan temperamen,intinya tetp harus diarahkan,,,,,

  4. Artikel yg sght bagus utk contoh ortu dlm memahami anak, klo ada lg mhn ikut sharing……. Terimakasih

  5. karakter anak perempuan itu persis dengan saya

  6. hehehe… like this mbak! saya mungkin lbh mirip yg rajin dan skrg suka heran2 sendiri sama alnair, yg nyantai… waktu UAS bahkan sempat salah belajar utk ulangan besoknya krn jadwalnya hilang, tapi nilai2nya alhamdulillah bagus aja, hehehe….

  7. bu,saya kayaknya yang kakaknya deh… Hehe.
    Oh,ya.salam kenal.saya siswi kls 2 smp yang ingin belajar ke jepang.saya selalu membaca artikel ibu.supaya tahu jepang lebih jauh:-D.terima kasih atas infonya bu..

  8. @Arma : Salam kenal juga. Wah bagus, sedari kecil sudah punya keinginan dan cita-cita.
    Itu yg membuat kita menjadi termotivasi belajar. Semoga tercapai keinginannya. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: