murniramli

Berhenti Menggantungkan Nasib pada Pihak Asing

In Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on Oktober 23, 2011 at 12:44 am

Sabtu, 22 Oktober diselenggarakan Seminar Internasional yang mengangkat tema perbandingan pengalaman berdemokrasi, membangun national identity, dan menghadapi globalisasi antara Korea dan Indonesia di kampus Pascasarjana UNDIP. Seminar semula diadakan di Kampus Tembalang, tetapi mendadak PLN mengumumkan akan melakukan pemadaman pada hari Sabtu, dan edaran baru sampai kepada kami hari Kamis. Entah kenapa PLN tidak mengumumkan jauh hari sebelumnya (mis. seminggu atau dua minggu sebelumnya), sehingga tidak terlalu merepotkan kami sebagai panitia. Beruntung sekali bahwa dari 150 orang peserta yang mendaftar, ada no hp yang tercatat, maka tim pendafataran terpaksa harus mengirimkan sms singkat tentang perpindahan tempat tersebut. Kami juga harus mengabari para undangan tentang perpindahan yang mendadak, padahal salah satunya adalah Dubes Korea untuk Indonesia yang bersedia hadir dan membuka acara kemarin. Adalah sebuah ketidaknyamanan bagi para tamu-tamu kami dari Korea mengetahui hal yang barangkali belum pernah terjadi di negara mereka.

Pengumuman PLN tersebut saya baca dari edaran di jurusan, padahal sehari sebelumnya saya membaca tulisan Pak DIS (Dahlan Iskan) tentang pengangkatan beliau menjadi Menteri BUMN, dan menggeliatnya PLN di bawah pimpinannya. Dari tulisan Pak DIS, saya merasa gembira karena ada pejabat negara yang masih patut diteladani sikap dan perilakunya. Dan ada setumpuk harapan kepada beliau agar PLN menjadi lebih baik, dan juga BUMN yang akan beliau tangani. Penjelasan tentang “kemendadakan” dari PLN wilayah kampus Tembalang memang belum ada, tetapi saya duga barangkali ada kaitannya dengan hujan lebat yang terjadi pada hari Rabu yang menumbangkan salah satu pohon di wilayah padat pertokoan di Tembalang.

Jumat malam, kami mengundang para tamu Korea dan UGM yang menjadi partner kerjasama dalam penyelenggaraan seminar ini untuk menjamu mereka menyantap makam malam ala Korea di Restoran Dae Jang Geum yang terletak di Sisingamagaraja Semarang. Pertemuan ini sekaligus sebagai silaturahmi dengan teman-teman UGM yang menjadi anggota INAKOS (International Association of Korean Studies) yang kalau tidak karena seminar ini, barangkali kami tidak akan kenal mereka.Dubes Korea pun datang, tetapi di ruang yang terpisah, sebab beliau tampaknya memiliki pertemuan lain dan agenda lain. Beberapa orang Korea yang semeja dengan kami, kemudian dipanggil meghadap Pak Dubes. Dalam kesempatan tersebut, pihak UNDIP menyampaikan rencana pendirian Program Studi Korea, dan memohon bantuan dan dukungan dari teman-teman Korea dan INAKOS.

Salah seorang tamu kami pada malam itu adalah Prof. Yang dari Hankuk University. Beliau adalah sesepuh peneliti Korea di Indonesia, dan sekaligus penasehat INAKOS. Beliau telah terjun dan belajar tentang Indonesia sejak tahun 1964. Karenanya, beliau juga menjadi orang kunci bagi pejabat Korea untuk menjelaskan tentang Indonesia, dan sekaligus pemberi jalan para peneliti Indonesia menempuh pendidikan lanjutan di berbagai universitas di Korea. Dari penuturannya, saya bisa menangkap panjang dan lika-liku pengabdiannya dalam membangun hubungan baik Korea-Indonesia, dan menyebarluaskan gairah meneliti tentang Korea di Indonesia.

Ada satu pernyataan atau lebih tepatnya nasehat Prof Yang malam itu yang sangat membekas bagi saya. Beliau menjelaskan dalam bahasa Indonesia yang fasih, bahwa beliau sangat mendambakan berkembangnya studi Korea di Indonesia yang dikembangkan langsung oleh para lulusan Korea dari Indonesia. Orang-orang Korea yang sekarang sedang mengabdikan diri di beberapa universitas hanyalah mampir saja. Kunci kemajuan tetap ada di tangan bangsa Indonesia sendiri. Beliau juga mengatakan bahwa beliau akan berusaha membantu UNDIP untuk membuka Program Studi Korea, tetapi tidak berani menjanjikan apa-apa. “Berjanji itu gampang, tetapi memenuhinya sangat sulit. Oleh karena itu saya tidak berani berjanji”, demikian yang beliau sampaikan. Tampaknya beliau sangat berhati-hati dan tidak ingin memberikan harapan kosong kepada kami.

Saya merenungi perkataan Prof. Yang sepanjang jalan pulang dan sebelum kemudian terlelap tadi malam. Ya, memang ada sebuah cara berpikir yang tampaknya mengakar di benak kita, bahwa kita selalunya menggantungkan nasib dan kemajuan kita pada uluran tangan bangsa lain. Terutama dalam hal studi. Harapan untuk bersekolah ke luar, mencicipi pendidikan di luar negeri adalah identik dengan berjuang mendapatkan beasiswa. Kesempatan untuk bersekolah di luar negeri dengan biaya sendiri hampir tidak terpikirkan oleh mahasiswa yang berasal dari keluarga menengah ke bawah. Bahkan tak jarang dari kalangan atas pun mengharapkan beasiswa tersebut.

Demikian pula, pengembangan jurusan studi asing di tanah air senantiasa mengharapkan dukungan dari pemerintah asing yang bersangkutan. Bahkan adakalanya perguruan tinggi bersikap menunggu, dan enggan memulai karena belum sempurnanya persiapan. Sebaliknya, saya sering mendengar pula pihak asing menjanjikan sesuatu yang menggiurkan, namun pada kenyataannya tidak seheboh yang dijanjikan. Seperti halnya yang sering saya dengar dulu di Jepang, mahasiswa asing tidak perlu khawatir, karena banyak tawaran beasiswa. Nyatanya, banyak mahasiswa asing yang memperebutkannya, sehingga kesempatan untuk mendapatkannya sangat sulit. Alhasil, saya dan teman-teman memutuskan untuk berjuang membiayai sekolah sendiri dengan bekerja keras.

Sayang sekali masih banyak lembaga yang mengiming-imingi calon peserta dengan banyaknya tawaran beasiswa asing, tanpa memberikan penjelasan lengkap bahwa beasiswa tersebut sangat sulit untuk didapatkan.

Terkait dengan hal tersebut, daripada menunggu bantuan asing, saya kira sudah eranya perguruan tinggi tidak lagi terlalu mengharapkan bantuan pemerintah asing untuk menyelenggarakan sebuah studi asing. Apabila potensi SDM sudah memenuhi dari perguruan tinggi itu sendiri, maka ada baiknya segera memulainya sekalipun akan tertatih di awalnya.

Demikian pula jika seorang mahasiswa mempunyai angan untuk mempelajari sebuah negara di negara bersangkutan, maka sepatutnyalah kita meniru para peneliti asing yang datang ke tanah air. Mereka menabung untuk keperluan itu, rela hidup sederhana di negeri orang, dan selalu menanamkan dalam jiwanya tekad untuk belajar keras sehingga apa yang ingin diketahuinya dapat diperolehnya.

Banyak orang muda yang ingin pergi ke luar negeri, tetapi tidak mempunyai tujuan yang jelas. Bahkan beberapa mahasiswa pernah mengontak saya, ingin belajar di Jepang, tetapi tidak tahu apa yang akan ditelitinya. Hanya ingin pergi ke sebuah negara itu, sama saja dengan ingin berlibur ke sana. Jika demikian tujuannya, maka persiapannya tidak serumit dengan persiapan untuk kuliah di sana. Jika sudah ada tekad kuliah di negeri orang, maka bekal utama berupa pelajaran bahasa negeri tersebut, bekal ilmu terkait penelitian perlu diperdalam, juga motivasi belajar pelu dipupuk karena tantangan dan halangan yang akan dihadapi besar sekali.

Saya pikir sudah masanya, kita menghilangkan cap sebagai pihak yang menunggu belas kasihan beasiswa dan bantuan asing.  Jika perguruan tinggi bermaksud mendapatkan SDM yang handal dengan cara mengirimkan peneliti dan dosennya untuk memperdalam ilmunya di luar, maka sudah sepatutnya perguruan tinggi menyisihkan dana untuk hal ini. Dengan sistem kelonggaran pengelolaan keuangan dan manajemen yang diberikan pada perguruan tinggi, baik melalui sistem BHMN maupun BLU, semestinya lebih mudah mengalokasi anggaran untuk mendidik dosen dan menunjukkan kemampuan bersaing ke depan.

Namun alangkah baiknya, jika siapapun peneliti dan dosen yang memang bercita-cita ingin mengembangkan potensi dirinya, berupaya menabung dan menyisihkan pendapatannya untuk melakukan penelitian, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sekalipun itu akan berat sekali, tetapi bukankah menengadahkan tangan itu kurang elok dibandingkan tangan memberi? dan bukankah meneliti dengan biaya sendiri lebih menyenangkan dan tidak terikat apapun?

 

 

  1. Umat Islam terlalu bergantung kepada bangsa asing sehingga ke lubang biawak juga kita ikut. Betul apa yang dikata oleh Rasullah.

    Kita harus meniru perbuatan ulama ulama lama, belajar di luar Mekah dan Madinah. Disamping itu berdakwah kepada mereka dengan menunjukan etika dan peribadi yang baik. Itulah cara ulama lama berdakwah kepada tanah Asia Tengggara dengan cara berkahwin dengan penduduk tempatan dan mengajar.

  2. Barangkali memang demikian adanya, ketergantungan kepada asing sudah dicontohkan dengan sangat bagus oleh pemerintah. Mau bikin undang-undang untuk mengatur negaranya sendiri saja mesti menghabiskan dana milyaran rupiah untuk studi banding, mau membangun negeri sendiri juga cari hutang dulu.
    Padahal nyatanya negeri kita penuh dengan sumber daya alam. Mengapa tidak dioptimalkan dahulu? Negara kita juga banyak orang pintar, yang muda saja sering juara olimpiade, tapi dasar mental inlander, mereka lebih percaya pada nasehat asing yang sebenarnya “ada udang di balik batu” dengan nasehatnya.
    Maka jadilah orang yang bangkit sejati. Sadar diri dari mana asal usulnya, tahu apa yang harus dilakukan di dunia dan menjadikan visi akhirat yang sepenuhnya mengendalikan arah hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: