murniramli

Kitab-Kitab Ajar di Mambaul Ulum

In Penelitian Pendidikan, Renungan, Serba-serbi Indonesia on November 2, 2011 at 10:34 am

Banyak yang tidak mengetahui bahwa madrasah Islam modern pertama yang dibangun di Jawa adalah Mambaul Ulum (MU) yang dibangun oleh Pakubuwono X, terletak di samping Masjid Agung Solo. Madrasah tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi PGA. Saya mengetahui tentang sekolah tersebut dari Professor saya di Nagoya Uni. Beliau suatu kali bercerita tentang kitab-kitab ajar MU yang tergeletak begitu saja di Masjid Agung Solo, padahal kitab-kitab tersebut tak ternilai harganya.

Saya dan seorang mahasiswanya yang sama-sama tertarik dengan penelitian pendidikan Islam di Indonesia akhirnya memutuskan untuk mengunjungi tempat tersebut sebulan yang lalu, dan kami sempat melihat langsung tumpukan kitab di Perpustakaan Masjid Agung. Kami pun sempat masuk ke gedung sekolah MU yang terletak di samping Pasar Klewer. Bangunan tua yang sudah kosong, dan lapuk di sana-sini. Masih sempat kami memotret papan tulis naik turun yang menjadi ciri khas papan tulis sekolah-sekolah pada masa itu. Juga ruang-ruang kelas dengan pintu yang menjulang, ciri khas bangunan Belanda. Kedatangan pertama tersebut adalah kedatangan sebagai turis.

Kemarin, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu selama 4~5 hari untuk melakukan penelitian awal terkait dengan materi ajar MU dan sistem pengajaran pada saat itu. Dari Semarang, saya naik bis patas pukul 08.00 dan turun di Kerten Solo, lalu naik becak. Sebenarnya bisa naik bis atau angkot supaya lebih cepat sampai. Tetapi, saya lebih suka naik becak, karena bisa sambil memotret. Perjalanan dengan becak ternyata cukup lama, dan saya baru tiba di Masjid Agung pukul 10.30. Untungnya perpustakaan buka. Saya segera bertemu dengan petugas Kantor TU Yayasan Masjid Agung, dan diterima dengan sangat baik dan terbuka. Setelah menyebutkan maksud dan tujuan saya, kemudian memberikan surat pengantar dari kampus, beliau selanjutnya mengantar saya ke perpustakaan.

Perpustakaan telah berupaya mendata kitab-kitab tersebut, dan terdapat ada 67 buah kitab dalam catatan yang diberikan kepada saya. Kondisi penyimpanannya masih saja sama dengan ketika saya datang pertama kali. Sebenarnya hari itu, saya bermaksud mendata ulang kitab-kitab tersebut sebagai catatan awal penelitian, namun belum sempat terlaksana karena suara adzan berkumandang, dan perpustakaan akan tutup. Petugas perpustakaan sangat terbuka dan sempat meminta bantuan untuk diajari cara perawatan naskah kuno tersebut. Sebelum berkunjung, saya sempat mencari informasi di internet tentang perawatan naskah kuno, sehingga ada sedikit yang bisa saya sampaikan. Tetapi, dalam hati saya bertekad untuk mencarikan manual perawatan yang sederhana untuk menjaga kitab-kitab tersebut dari kerusakan.

Sore harinya, perpustakaan buka pukul 15.30-17.30, dan saya bermaksud ke sana lagi. Tetapi, rencana berubah total karena dua orang professor saya di Nagoya tengah berkunjung ke Solo, dan karena mereka akan mengadakan penelitian di SMA dan SMK Semarang hari ini, saya diajak pulang ke Semarang hari itu juga. Sebenarnya saya sudah mengirimkan email sehari sebelumnya, tentang kegiatan saya di Solo, dan perlu tidaknya saya ikut mereka meneliti di Semarang. Karena tampaknya beliau tidak bisa koneksi internet, maka email saya tidak dijawab. Seandainya dari awal sudah ada kabar tentang hari kedatangan mereka, tentu saya tidak akan nekat berangkat ke Solo, dan memilih menunggu mereka di Semarang. Tetapi karena tidak ada kabar, saya tetap pada rencana penelitian di Solo. Akhirnya, saya harus mengubah jadwal penelitian.

Kembali pada kitab-kitab ajar MU yang teronggok begitu saja di atas lemari, dan petugas perpustakaan yang tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak memahami tata cara perawatan naskah kuno. Saya pikir selama belum ada pihak yang memang benar-benar komitmen bersedia melakukan perawatan dan pemeliharaan naskah/dokumen tersebut, petugas perpustakaan perlu diberi ilmu perawatan naskah yang sederhana dan tidak berbiaya mahal.

Hal lain yang menjadi keprihatinan adalah sedikitnya minat untuk meneliti ini. Bukan hanya perawatan kitab-kitab tersebut yang urgen, tetapi mengkaji apa yang ada di dalamnya dan menerjemahkannya dalam bentuk materi ajar adalah lebih penting untuk pengembangan pendidikan di tanah air. Banyak naskah dan sumber sejarah yang tersimpan di lembaga arsip dan perpustakaan yang belum tersentuh tangan para peneliti untuk mengkaji isinya. Untuk mendorong tumbuhnya penelitian ke arah ini, tentu saja perlu mempelajari alat penelitian, termasuk menguasai bahasa yang dipergunakan dalam kitab-kitab tersebut. Karena hampir semua kitab ajar MU menggunakan bahasa Arab, maka sudah selayaknya perlu didorong semangat untuk mempelajari bahasa Arab tulisan. Jangan sampai yang serius mempelajari bahasa naskah adalah peneliti asing sehingga sumber ilmu hanya bersileweran di sekitar mereka saja, sementara kita hanya kebagian hasil akhirnya saja.

Kalau seperti itu budaya yang berkembang, maka bangsa ini tidak akan pernah berhenti menjadi bangsa pengkonsumsi, dan bukan bangsa yang memahami sebuah proses.

  1. mau tanya bu,kok tau kalau itu madrasah modern yg pertama?tolok ukurnya buku ajarnya ya? Buku ajarnya itu beda ga sama kitab2 kuning yg d pesantren? Maaf dan terima kasih sebelumnya…

    • Tolok ukurnya tdk hanya buku ajar, tp juga sistem klasikalnya.
      Dan krn dibuat u menyaingi sekolah Belanda pd masa itu, selain ilmu Al-Quran, Hadits, Fiqih, mereka jg belajar astronomi, bahasa Belanda, math, dll.

  2. Madrasah Islam Modern,, bisa 2 hal, : Madrasah modern, atau Islam Modern. Tentu masing-masing ada batasan kriterianya. Apa yang istimewa di Mambaul Ulum ?
    Ya, setuju. Sepertinya kita (bangsa ini) kaya, bahkan mungkin dimanjakan dengan berbagai kekayaan. Namun lebih suka mencari yang tidak ada. Begitu terhampar keistimewaan di sekeliling kita, namun hanya sedikit yang mau dan mampu menggalinya. Termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya pikir, Indonesia kaya akan sumber ilmu yang bisa dipelajari, diambil hikmahnya, lalu dilipatgandakan kemanfaatannya untuk ummat. pantas kalau di beberapa negara sampai membuka Fakultas Ke-Indonesia-an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: