murniramli

Memaknai Internasionalisasi

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Organizational Learning, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on November 30, 2011 at 10:28 am

Saya baru saja mengikuti sebuah simposium internasional tentang coastal management yang diselenggarakan sebuah jurnal internasional di kampus kami. Sebenarnya saya bukan ahli di bidang ini, dan tidak pula mendalami kelautan, daerah pesisir, dll yang berbau ikan, tetapi karena saya tertarik mengetahui kehidupan dan dunia pesisir, dan tentu saja terkait dengan upaya penggalian yang saya lakukan terhadap model pendidikan di daerah pesisir dan kepulauan terpencil.

Simposium berlangsung dua hari, dan di hari pertama saya cukup mendapatkan gambaran tentang pengawetan ikan dan bentuk olahannya, yang dikenal dengan surimi, sebab keynote speaker dari Thailand memaparkan contoh-contoh penganan yang sering saya jumpai di Jepang. Dan juga mendapatkan informasi tentang kerusakan terumbu karang dan upaya pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir. Hari kedua pun, kepenasaran saya terpuaskan dengan penjelasan yang sangat menarik dari dua keynote speaker yang membahas tentang ekspor perikanan dan liku-liku pemberdayaan masyarakat.

Karena “internasional”, maka sedari awal acara dibuka, pemakalah berpresentasi, dan tanya jawab dilakukan dalam bahasa Inggris. Bahkan saya merasa ada “pemaksaan” menggunakan bahasa Inggris, sebab terlihat banyak presenter yang sebenarnya kurang mampu dan kami yang mendengarkan menjadi tidak paham apa yang disampaikannya. Terasa kurangnya makna share ilmu, dan kuat kesan forum ini adalah forum latihan berbahasa Inggris. Untungnya, keynote speaker hari ini memutuskan menggunakan bahasa Indonesia (sekalipun saya yakin beliau sangat fasih berbahasa Inggris), dengan maksud agar transfer ilmu lebih berjalan dengan baik. Dan memang, disampaikan dengan bahasa Indonesia lebih asyik dan tentu saja lebih dapat dipahami.

Tetapi inisiatif simposium seperti ini patut diacungi jempol. Saya merasakan kembali atmosfer annual meeting asosiasi keilmuan yang saya ikuti di Jepang dulu. Semua peserta memiliki semangat dan antusiasme tinggi untuk menyampaikan dan membagi hasil penelitian dan pemikirannya. Dan inilah yang sedikit tertangkap selama dua harian ini.

Selama mengikuti seminar tersebut, saya berpikir-pikir apakah kita sudah salah langkah memaknai internasionalisasi di negara ini?

Kembali pada perdebatan panjang di dunia pendidikan Indonesia terkait masalah RSBI, SBI, dan segala sekolah internasional. Pemaknaan kita terhadap kata internasional hanya sebatas pada ruang kelas ber-AC, dilengkapi audio visual, dan pembelajaran menggunakan bahasa Inggris. Sedikit tambahan barangkali pada  kurikulum asing ber- ISO yang harus dimasukkan “dengan paksa”.

Di dunia pendidikan tinggi, makna internasionalisasi seperti di atas tidak terlalu kuat dengungannya. Dan untung saja, tidak ada universitas yang mengaku Universitas Bertaraf Internasional (UBI) karena ruang kelasnya sudah ber-AC dan ber-LCD. Karena kalau ada, kita benar-benar bangsa yang gagap internasionalisasi. Pemaknaan internasionalisasi di level universitas lebih cenderung pada pemakaian bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar perkuliahan dan penulisan artikel berbahasa Inggris yang akan diterbitkan dalam jurnal internasional atau pembuatan jurnal internasional, penyelenggaraan simposium internasional, dan tentu saja penandatanganan MoU dengan universitas di luar negeri.

Saya mempunyai definisi dan pemaknaan tersendiri terhadap istilah internasional. Sekolah bertaraf internasional menurut saya tidak identik dengan “up to date-nya peralatan dan fasilitas sekolah”. Juga bukan penggunaan bahasa Inggris di tengah-tengah siswa yang notabene orang Indonesia semua (tidak ada siswa asing). Internasionalisasi akan lebih cantik dan elegan jika diarahkan pada perubahan sikap, perilaku, dan cara pikir yang universal.

Di lingkungan sekolah/universitas yang masih menggunakan papan tulis dan kapur tulis, yang bangku sekolahnya masih kayu  (bukan kursi lipat), yang audio visualnya hanya tape recorder atau TV 14 inch yang biasa saja (bukan plasma), bisa dikatakan telah bertaraf internasional jika guru/dosen dan siswa (mahasiswa)nya menjalani proses belajar mengajar sebagaimana yang dijalankan oleh mereka di negara modern. Artinya, tidak ada contek menyontek, tidak lagi mementingkan nilai, belajar untuk tujuan memperoleh kepahaman dan kebisaan (tidak saja mengerti tetapi dapat mengerjakan dengan masalah yang berbeda), tidak ada budaya copy paste, mengembangkan diskusi yang didasari rasa ingin tahu dan ingin mendapatkan pemahaman, menghargai karya/pendapat/ide orang lain, dan selalu berfikir ilmiah.

Saya cukup prihatin mendapati mahasiswa banyak yang hanya bisa mengcopy paste dan tidak bisa menganalisa dan mengajukan pendapat pribadi. Tentunya ini terjadi karena rendahnya minat baca mahasiswa terhadap referensi bidang ilmunya, dan apalagi buku-buku di luar ilmu yang ditekuninya.

Dalam kegiatan seminar, harus muncul sikap internasional, yaitu sikap yang diakui secara universal sebagai sikap baik. Misalnya, diam dan tenang ketika presenter menyampaikan makalah, mematikan HP, tidak keluar masuk ruangan tanpa meminta ijin, tidak makan minum selama presentasi berlangsung, tidak mengobrol, tidak tidur, dan mengajukan pertanyaan dengan dasar konfirmasi data, mendapatkan ilmu baru, dan bukan untuk menguji pembicara atau menimbulkan adu domba.

Internasionalisasi dalam penulisan dan penerbitan karya ilmiah adalah kejujuran dalam melakukan penelitian (dosen tidak hanya menyuruh mahasiswa mengerjakan atau tidak hanya numpang nama dari hasil penelitian mahasiswa), kejujuran dalam mengutip pendapat orang lain (bukan plagiator), dan keinginan besar untuk selalu menulis dan membagi hasil penelitiannya. Adapun penulisan dalam bahasa asing hanyalah sarana untuk memudahkan pengguna bahasa lain memahami apa yang sudah kita kerjakan.

Jadi, mari kita menjadi orang/bangsa yang disegani dan dihormati karena sikap, perilaku dan pandangan kita yang positif. Bukan karena kita sudah dapat bercas cis cus dengan bahasa Inggris, dan bukan karena ruang kelas kita sudah ber-AC dan ber-LCD (padahal benda-benda inipun bukan karya anak bangsa).

 

  1. Kalau diringkas, menurut saya, internasional di dunia pendidikan lebih cocok dimaknai sebagai universal, pendidikan yang bisa dan cocok diterima oleh semua bangsa tanpa membedakan tingkat ekonomi, teknologi, dan budayanya. Jika seperti itu konsepnya maka pendidikan Islamlah yang tepat. Alasannya sederhana, Islam adalah agama universal, cocok untuk seluruh manusia. Hanya saja pemahaman kita mengenai pendidikan Islam memang belum seideal yang dibayangkan. Banyak yang belum pas memahami inti dari tujuan pendidikan atau PUNCAK tertinggi dari tujuan pendidikakan.
    Pendidikan seharusnya memahamkan manusia akan eksistensi dirinya dalam kehidupan dunia kemudian memahami ke arah mana hidup itu akan berujung. Bukankah ini realitas yang sama untuk semua manusia. Bukankah realitasnya manusia diciptakan oleh Pencipta yang sama, untuk tujuan yang sama, di dunia yang sama, menuju kehidupan akhir yang sama?
    Berikutnya, pendidikan seharusnya memampukan peserta didik mengintegrasikan seluruh aktifitas hidupnya sebagai sebuah pengabdian kepada Pencipta. Harapannya adalah apa pun profesi (baca: peran hidup) yang digeluti dan diminati di dunia tetap tidak lepas misi utama kehidupan.
    Realitas bahwa Islam telah tersebar demikian cepat ke berbagai penjuru dunia pada awal perkembangannya adalah bukti yang tak terbantahkan akan sifat universalnya. Perbedaan bahasa, bangsa, budaya dan bahkan agama tidak menghalang-halangi mereka menerima Islam sebagai agama yang mereka peluk, atau sekurang-kurangnya sebagai sistem yang mereka hidup di dalamnya.

  2. Akan sangat memudahkan barangkali jika ada inisiatif untuk mendeklarasikan item2 tentang (salah satunya) international standar of forum – attitude.

  3. […] Makalah Pengembangan Sekolah Berbasis RisetMemaknai Internasionalisasi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: